
Hardi dan Hana melanjutkan perjalanan, dan setelah satu setengah jam, akhirnya mereka sampai di tempat itu
dan ternyata mobil yang membawa para pemuda itu juga baru sampai, "alah kalian ini baru nyampe dari tadi,sungguh ironis," kata Hardi meledek para pemuda itu.
"loh mbak kesini, kalian gak percaya kamu?" tanya Feby yang merasa di buntuti.
"eh mulutnya sus, kami kesini mau baby moon eh kalian malah mau cari buah, ya sekalian saja," kata Hana tertawa.
"sudah kenapa maiah ribut, sekarang kita cari petai dulu dan juga buah yang lain ya, kata Feby di sini banyak buah," kata Abdul.
"ah iya, tapi ya tdk terawat, jadi hati-hati ya," kata Feby yang langsung mencari peralatan.
Sedang Hardi yang memang sudah menyiapkan semuanya membuat para pemuda itu kaget.
Pasalnya pria itu membawa galah khusus untuk panen, "kalian mah gak canggih," ledeknya yang langsung dengan cepat langsung menghabiskan petai yang bergelantungan di atas pohon.
Tiba-tiba mereka di datangi oleh pak RT dan beberapa warga, dan mereka di kira mencuri.
"maaf kalian mau mencuri ya," tegur para warga itu.
"assalamualaikum pak RT, dan pak Bambang," sapa Hana dengan sopan
"loh mbak Hana," kata pak Bambang yang mengenali wanita itu.
"iya pak, saya kenari mau panen, maaf ini memang saya bawa rombongan, dan bapak ingat bocah ini," kata Hana menarik Feby.
"assalamualaikum pakde,"
"wa'alaikumussalam.. Loh nduk Feby sudah besar, ya sudah kalau kalian yang datang, ku kira pencuri," kata pak Bambang.
Hana pun berbicara dengan dua orang itu, dan untungnya Hardi dan Hana datang
Jika tidak mereka bisa merasa dalam masalah besar, "Amir dan Abdul lanjutkan panen, dan kalian bertiga para gadis, bantu turunkan semua makanan dan aku akan mencari tempat untuk istirahat," kata Hardi.
"iya mas," jawab mereka berlima.
Akhirnya saat Hana selesai berbincang, dia duduk bersama suaminya, "jadi mereka bilang apa?"
"kata mereka, jika di sini sering kecurian petai karena tak terawat, ya kadang juga ayah datang mempersilahkan siapa saja sambil, tapi warga sini yang tak suka jika orang asing yang mengambil, untungnya kita tadi datang jika tidak bisa berabe ini para bocah," kata Hana.
"kalian dengar kan, sudah sekarang nikmati ini, dan biarkan saja mereka melakukan apapun,"kata Hardi tertawa.
__ADS_1
Mereka terlihat memunguti semua petai yang jatuh ke tanah, dan menaikan ke mobil pickup.
Setelah itu mereka mencari durian dan manggis jika ada, sedang Hana mengajak suaminya untuk panen markisa yang dekat dengan mereka.
"emmm... Aduh rasanya asem .. Semriwing..."kata Hardi merinding
"ha-ha-ha itu kan masih muda mas, yang benar itu yang kulitnya sudah kuning atau merah," kata Hana yang memberikan markisa yang dia ambil.
ternyata benar, Hardi manggut-manggut merasakan rasa manis, asem, seger di mulutnya.
tak berhenti di sana, setelah dapat satu kresek hitam putih. Mereka melihat pohon buah Cermai.
"ayo bantu aku panen itu mas, itu enak buat manisan Cermai," kata hana.
"baik ibu negara, cintaku, hidupku, sayang ku, tak Denok Denok deblong," kata Hardi yang tertawa.
Dia mengambil di tiga pohon yang ternyata dapatnya cukup banyak sekitar satu kresek merah karena tak ada yang mau mengambilnya.
"besok kita mendem buah sama petai ini," kata Hardi yang menaruh semua buah hasil panen di mobil
"gak papa," jawab Hana.
sementara itu para pemuda itu juga dapat cukup banyak buah manggis dan juga buah durian.
"wah mbak Hana repot-repot, terima kasih ya kebetulan kami sedang lapar karena panen tadi,"
Hardi mengeleng pelan melihat para pemuda dan pemudi itu makan dengan lahap.
Sedang dia berbagi piring dengan istrinya, dan juga sambil menikmati keripik singkong balado yang tadi di beli.
Setelah kenyang mereka kini membersihkan rumah itu dari rumput, dan setelah selesai mereka ke Mushola terdekat untuk sholat dhuhur bersama.
"mas nanti kalau pulang mampir di warung sate yang ada di menganto ya, aku ingin makan di sana, anak-anak nanti ajak sekalian," Jats Hana.
"iya ibu ratu ku," kata Hardi yang membantu istrinya itu bangkit karena sulit.
akhirnya Hana dan rombongan pamit dengan pak RT, dan meninggalkan tempat tinggal kakeknya dulu.
"oh ya Vina,bilang pada Amir untuk mengikuti mobil pick up kemana pun pergi dan berhenti, mengerti," kata Hana.
"suap mbak," jawab Amir.
__ADS_1
dia mobil itu akhirnya sampai di daerah menganto yang di maksud oleh Hana.
Mobil ang di bawa Hardi berbelok ke warung sate, tentu saja Amir juga membelokkan mobil ke tempat itu.
"kalian ikut mas Hardi,aku mau ke kamar mandi dulu," pamit Hana.
"aku ikut mbak," kata Feby yang memang sedang tak nyaman.
Pasalnya dia merasa jika besan dia datang bulan, karena ini sudah tanggalnya.
terlihat Feby mengandeng kakaknya itu dengan manja, Vina sedikit cemburu, karena selama ini Hana selalu jadi kakaknya di rumah.
"Vina kenapa?"
"ah tidak mas, ayo.."
Setelah dari kamar mandi Feby mencari kakaknya yang ternyata sedang makan es potong, "mau..." lirih Feby mendekat.
"minta, tapi kita harus makan di sini, karena mas mu marah jika mbak
makan es," kata Hana.
"mbak ih, aku bilangin loh..."
"sudah mau apa tidak,"
"mau dong sng coklat ya pak," kata Feby yang kini saling tukar es dengan Hana.
Keduanya ini memang sangat kompak, tapi karena Hana yang tak tinggal di rumah Feby jadi kesepian.
"mbak... Aku iri deh dengan Vina yang bisa ketemu mbak tiap hari, bahkan dia pasti senang bisa makan masakan mbak terus,"
"kamu ini kenapa sih dek, kamu kan juga aku beri bekal, dan untuk tinggal di rumah itu, kan itu Karena mbak sudah menikah dengan mas Hardi,"
"aku tau,tapi aku kadang merasa jika apa pun yang aku miliki di rebut oleh Vina, seperti mbak, terus mas Amir dan juga ketua tim voli juga, awalnya aku menjadi kandidat terkuat yang di gadang-gadang oleh pelatih, tapi karena mereka tau Vina adik mas Hardi,jadi sekarang dia yang menjabat," kata Feby sedih.
"loh kenapa tak ada yang bilang,kan kamu juga adik ku, aku bahkan lebih berkuasa di sekolah loh," kata Hana yang membuat Feby tersenyum.
"mbak ih..."
"sudah ya dek, semua pasti indah pada waktunya, aku bahkan itu padamu yang masih bisa manja dengan ibu, dan makan masakan ibu, aku ingin kembali seperti dirimu,"kata Hana.
__ADS_1
Feby pun tak mengira jika kakaknya yang tampak bahagia, nyatanya punya rasa iri padanya.
"maafkan aku mbak," kata Feby yang sadar.