
Hana pun masih duduk diruang tengah, dia pun segera menemui adiknya itu.
Vina kaget saat membuka pintu dan melihat sosok kakak iparnya itu sedang berdiri di depan kamarnya.
"ada apa mbak?" tanya Vina.
"aku tak tau apa yang kamu adukan pada kakak ku, tapi hampir saja dia membunuh orang, tolong Vina jangan mengatakan sembarangan lagi ya dek," kata Hana yang tak mau suaminya itu melakukan hal gila lagi.
Vina yang mendapatkan kabar seperti itu pun hanya diam, dia tak bisa berkata-kata lagi, karena itu memang benar.
setelah itu malam pun terlewati dengan sedikit ketegangan, Hardi bahkan tampak masih tak menyapa Hana.
Bahkan pagi ini tampak keduanya begitu pendiam, Hana tak pusing karena dia tak salah.
"apa ada sesuatu, kenapa kamu tampak ragu-ragu begitu?" tanya Hardi pada adiknya itu
"sebenarnya aku ingin pamit, sebenarnya siang ini aku di ajak mas Amir untuk pergi jalan-jalan, apa mas mengizinkan?" tanya Vina yang tampak begitu takut.
__ADS_1
"dengan siapa saja, tak hanya kalian berdua kan," jawab Hardi lagi
"itu masalahnya mas, kamu hanya jalan-jalan berdua, ke Mojokerto dekat sini," kata Vina.
"mau kemana, bukannya bilang tujuannya, kamu tau jika kota mojokerto itu luas, harus jelas izinnya," kata Hardi yang ingin memperjelas semuanya.
"mungkin ke tempat candi-candi gitulah mas," jawab Vina.
Hana tak berkomentar, karena semalam Hardi memastikan jika dia tak boleh ikut campur dalam hubungannya.
Dan sekarang Hardi bingung mau menolak adiknya itu, karena dia tak mau tersebar jika Vina ini gadis murahan atau apapun.
"dek bantulah aku," lirih Hardi pada Hana.
"memang siapa yang bilang semalam tak boleh mengusik hubungan antara kalian, jadi bilang saja sendiri," kata Hana yang langsung bangkit dan menaruh piring ke wastafel.
karena dia mendengar suara tangisan dia putranya yang kemungkinan terbangun karena lapar atau popoknya penuh.
__ADS_1
"mas tak mengizinkan," kata Vina yang tampak sedih
"jika kamu pergi bersama banyak orang mas mu pasti akan izinkan, tapi kamu ini hanya berdua saja, takutnya nanti tersebar fitnah dek, ingat jika terjadi sesuatu yang tak di inginkan nantinya, pasti yang di salahkan adalah pihak perempuan, jadi lebih baik pikirkan lagi," terang Hana yang mengendong Abrar dan memberikannya pada Hardi.
"tapi aku tak akan melakukan apa-apa, aku juga bukan gadis murahan mbak," bantah Vina.
"siapa yang bilang kamu seperti itu, mbak hanya memberikan pendapat, jika menurut mu pendapat mbak buruk, silahkan kamu tak usah dengarkan, tapi sebisa mungkin kamu ingin menjaga mu," kata Hana yang tak mau pusing.
Ternyata Vina mulai membangkang, dia pun langsung pergi ke dalam kamar dan bersiap untuk pergi.
Hardi terdiam, dia tak menyangka jika adiknya ini mulai berani berontak, "Vina, kamu mau kemana?"
"aku mau pergi, kalian tak bisa menahan ku," marah hadis itu.
Wawan yang baru sampai rumah Hardi melihat motor dari Amir, dia langsung masuk dan melihat Vina keluar rumah dan langsung ikut pria itu.
Wawan merasa heran, gadis yang selama ini menjaga dirinya,kenapa sekarang bisa pergi berdua dengan pria begitu.
__ADS_1
Terlebih pria itu tampaknya tak izin dengan benar, dan pergi begitu saja, entahlah Wawan juga tak tau apa yang sebenarnya terjadi.