Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
masih seorang gadis muda


__ADS_3

Vivi yang menyaksikan tingkah dari sahabatnya itu pun hanya bisa tersenyum.


Bagaimana tidak, meskipun Feby sudah menyandang sebagai istri dari lurah di desanya, tapi gadis itu tetap hanya seorang gadis muda biasa.


yang menyukai beberapa jajanan atau mungkin menyukai hal-hal kecil.


Feby tak sengaja melihat Vivi yang sedang merekamnya, dia pun melotot Sambil tertawa karena malu.


Akhirnya kegiatan itu pun berlanjut hingga sampai jam sebelas siang.


Setelah itu, saat jam makan siang, para tamu undangan yang hadir, mendapatkan bakso dan mie ayam secara gratis, yang sudah dipesan khusus oleh Wawan.


Ya dalam sejarahnya, Wawan ini termasuk salah satu Lurah paling kaya, dibandingkan dengan mantan lurah yang lainnya.


Bagaimana tidak, dalam laporan kekayaan saja, Wawan sangat unggul di bandingkan lurah Aris.


Itulah kenapa Wawan bisa memberikan hal-hal yang Lurah dulu, tidak bisa diberikan.


Dan akhirnya setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan acara belanja, yang beberapa tamu undangan, membeli hasil karya, ataupun hasil dari UMKM di desa.


Semuanya terlihat sangat antusias, terlebih harga dari semua barang yang dijual dalam acara itu sangat miring, dibandingkan dengan harga saat di toko sovenir atau oleh-oleh.


Akhirnya semua acara pun selesai, pas jam dua siang, Feby sedang duduk di ruangan kantor milik suaminya.


Bahkan wanita itu sedang duduk di kursi milik suaminya, yang memang sangat empuk baginya.


"Aduh, ini Ibu Lurah, Kenapa duduk di kursinya, Pak Lurah itu, apa ya gak Malu to sama Pamong Desa yang lain." kata Vivi menegur sahabatnya.


"Apalagi sih, kamu kok yo nggak seneng banget, lihat aku duduk untuk meluruskan punggungku, rasanya mau copot, tau nggak!" kata Feby yang sedikIt kesal.

__ADS_1


Ya dia memang sedikit repot tadi, dan merasa punggungnya kaku, maklum saja wanita itu sedang hamil muda.


"Ini ada apa kok malah berantem, sudah nggak apa-apa, biarkan dia duduk di sana, kamu mau sesuatu Dek? Mas belikan," tanya Lurah Wawan yang masuk ke ruangannya untuk mengambil barang.


"Nggak ah, nggak mau apa-apa, mau singkong punya Mas, boleh gak?" tanya Febi dengan Polosnya.


Mendengar itu Vivi dan Guntur hanya bisa tertawa, bisa-bisanya Bu lurah satu ini meminta hal itu di kantor milik suaminya.


"Nanti saja ya Bu lurah, kalau sudah di rumah, jangan di sini," jawab Wawan dengan lembut.


"ini kenapa ibu hamil satu ini kok jadi jaluk ane singkong Mulu," kata Guntur sedikit menahan tawa.


"Kamu kok yo lemez banget mulutnya, orang aku minta singkong suami ku, dikomentarin saja sih, Ya sudah aku mau pulang saja kalau gitu," kata Feby dengan kesal dengan ucdian Guntur.


"Jangan ngambek, toh, Sayangku, istriku yang cantik, nanti aku kasih singkong yang gede, sampai kamu Mendem ya, sekarang kamu istirahat di sini, biar mas antar beberapa tamu yang masih ada di ruang depan." pamit lurah Wawan.


"Yang arep Mendem singkong, manut saiki temen toh yo," kata Vivi menggoda temannya itu, dan karena kesal Feby melemparkan pulpen ke arah sahabatnya itu yang sudah lari keluar ruangan.


Feby pun memilih untuk menyadarkan punggungnya di kursi milik suaminya itu, dan perlahan dia pun mengantuk dan tertidur.


Sedang Wawan di depan, telah mengantar semua tamu yang datang.


Ya Setelah semuanya pulang, dia pun akan mengajak istrinya itu pulang.


Tapi, saat melihat sosok Feby, yang sudah tertidur lelap, dia jadi tak tega untuk membangunkannya.


"Guntur, tolong telepon Pras untuk menjemput kami, karena aku tak mungkin membangunkan Istriku, yang sudah tertidur, karena kelelahan." Perintah lurah Wawan.


"Baik bos lurah," kata Guntur yang langsung menelpon salah satu rekan kerjanya itu.

__ADS_1


butuh lima belas menit untuk Pras, sampai ke kelurahan, dan Wawan yang melihat mobil itu datang, langsung menggendong Feby dan membawanya menuju mobil.


Sedang untuk peralatan milik Feby, yaitu tas, buku catatan, dan yang lainnya dibawakan oleh Vivi.


"Terima kasih atas kerja keras kalian, semoga hasil rekamannya baik ya." kata Lurah Wawan sebelum naik ke dalam mobil.


"Pasti pak lurah," jawab Vivi dengan yakin, setelah meletakkan tas milik sahabatnya itu di jok depan samping supir.


Mobil itu pun meninggalkan Kelurahan, dan menuju ke rumah milik mereka.


Lurah Wawan menggendong istrinya itu menuju ke dalam rumah, dan menaruhnya di ranjang mereka.


Lurah Wawan juga tak lupa membuka baju istrinya, dan juga jilbabnya, agar Feby lebih nyaman.


Kemudian dia keluar dan menemui Pras, dia tak lupa mengambilkan minuman dingin, untuk salah satu anak buahnya itu


"Bagaimana laporanmu." tanya Lurah Wawan pada pria itu.


Pras tak menjawab, hanya menaruh selembar kertas di meja, dan secara cepat,


Lurah Wawan langsung membukanya, pria itu hanya menyeringai saja saat membaca surat yang di tulis dengan asal.


"Ho-ho-ho-ho-ho ternyata mereka melakukan hal kotor ya, tapi tak masalah, itu akan membuatku lebih mudah menyingkirkan semua musuhku." kata Wawan dengan tersenyum kejam seperti biasa.


"Tapi, tolong hati-hati Bos, tentu sekarang anda tidak hanya punya Bu Bos saja, tapi juga perlu membuat Namamu tetap bersih," kata Pras


"Apa Kamu kira aku sebodoh itu, mau mengotori nama baikku, Tentu saja tidak, jadi Kalian juga harus melakukan hal yang sama sepertiku," kata lurah Wawan dengan tersenyum


"Siap bos, apapun perintahnya, Pasti Kami akan melakukan sesuai perintah anda," jawab Pras.

__ADS_1


__ADS_2