
Wawan meninggalkan rumahnya, dengan membawa motor milik istrinya dan salah satu pemuda di minta untuk mengantarkan motor miliknya ke rumah pak sodikin.
sedang Ibra dan Amir pun memilih lari lewat belakang rumah, karena mereka tak ingin mengalami hal yang makin buruk.
Setya yang mengantar keduanya pun bingung melihat dua pemuda itu kesakitan saat kembali ke dalam mobil.
"kalian kenapa?"
"sudah kita ke rumah sakit dulu," kata Amir yang merasakan sakit, ngilu dan bahkan dia berkeringat parah.
mendengar itu Setya langsung menuju ke rumah sakit sesuai permintaan Amir.
sesampainya di rumah sakit, mereka mendapatkan pertolongan dari tim dokter, semuanya tampak baik.
Tapi tidak dengan dokter yang menangani Amir,pria itu hanya menghela nafas dan memberikan obat
sedang di rumah, Vina masih tak mengira jika Feby membela suami miskin dan tuanya itu.
"kamu kenapa melamun seperti itu, lebih baik cepat makan dan jangan berpikiran yang tidak-tidak," kata Hardi yang masih sibuk dengan Abrar.
"tidak kok, aku cuma tak habis pikir pada kakak, kenapa kakak memutuskan untuk menikahkan Feby dengan pria tua itu,"
__ADS_1
"apa maksudmu, cak Wawan itu meski senior, dia itu tetap orang yang sangat baik," kata Hardi yang mengajari putranya itu mengambar
"tapi itu seperti mas menghancurkan semua mimpi Feby," kata Vina yang masih belum menerima pernikahan temannya itu.
"kata siapa dek, Feby masih boleh kuliah kok,aku sudah bertanya pada cak Wawan tadi," kata Hana yang mengajak Arga main bersama saudara kembarnya.
"tapi nanti pasti Feby akan di batasi saat bergaul,"
"tentu saja karena sekarang dia punya orang yang harus di jaga perasaannya," jawab Hana tersenyum.
Wawan sampai di rumah pak Sodikin dan terlihat Feby masih duduk di teras sambil membawa laptop
Feby tersenyum saat melihat suaminya itu, dan dia pun mengambil tangan Wawan dan menciumnya.
"apa kamu sudah memilih mau kuliah dimana?" tanya Wawan
"sudah mas, aku kuliah di sekitaran kota saja, dan lagi aku juga sudah mendapatkan beasiswa," jawab Feny
"Alhamdulillah dek, oh ya aku ada sesuatu untuk di bahas, tapi tunggu sebentar," jawab Wawan yang melihat pemuda yang disuruh membawa motornya datang.
Setelah itu Wawan membantu Feby masuk kedalam rumah,dan mereka pun duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Dia mengeluarkan tiga kartu ATM dan juga buku tabungannya, dan tak hanya itu, dia juga mengeluarkan perhiasan yang baru dia beli yang memang khusus untuk calon istrinya.
"apa ini mas,"
"ini adalah uang milikku, yang ATM BR* ini ada uang yang di terima selama sawah di sewa tahunan oleh bos Hardi, di ATM Mandiri ini ada semua hasil beberapa peternakan kambing milikku, dan untuk yang ATM BT* ini adalah sebagian uang atau gaji yang aku dapat selama bekerja selama ini, dan di sana, sudah tertera saldo juga," jawab Wawan.
"boleh aku melihatnya,"
"silahkan dek, itu akan jadi uang ku mulai sekarang," kata Wawan yang membantu Feby.
Dia melotot kaget dengan nilai jumlah nol di belakang angka itu, siapa sangka jika Wawan akan punya tabungan sebanyak itu, padahal dia cuma seorang anak buah.
"mas, jadi selama ini anda hidup sederhana,dan mengumpulkan semua uang yang mas dapat," tanya Feby .
"iya karena aku bingung mau untuk apa uang itu, jadi aku simpan saja," jawab Wawan santai.
"terus sekarang ini..."
"kamu yang pegang, karena kamu istri ku dan aku hanya butuh uang saku sedikit saja, karena tak suka jika di dompet ku isinya terlalu banyak," kata Wawan.
"baiklah terserah mas saja," jawab Feby
__ADS_1