
Semua teman Hardi yang menginap di rumah pria itu kaget saat melihat sarapan yang tersedia pagi itu.
"aduh kok malah merepotkan," kata Ripin yang merasa tak enak.
"tidak kok,cuma masakan orang kampung, jadi semoga tak mengecewakan ya," kata Hana yang memang dapat bantuan semalam.
Ya sebelum pulang, Feby sudah menyimpan semua masakan setengah matang di kulkas, dan pagi Hana tinggal memasak hingga matang.
sedang Vina yang selesai mencuci piring ingin pergi, "kamu mau kemana Vina," tanya Hardi yang melihat adiknya itu bersiap dengan mengunakan sepatu olahraga miliknya.
"aku mau joging sebentar, sekalian mau mengambil barang di tempat Feby, dia bilang sudah menemukan buku yang aku cari," jawab Vina.
"boleh aku ikut, aku ingin melihat suasana di desa ini, melihat bagaimana cara Hardi yang begitu baik pada warga desa," kata Wasis yang sebenarnya ingin berduaan saja dengan Vina
"aku juga ikut deh, dari pada di rumah saja," kata Bagas
"ganggu saja sih Kamu," kata Ahmad yang tau apa yang ingin di lakukan Wasis.
"biarin sih," kata Bagas yang memang ingin mengacaukan hari Wasis.
mereka bertiga pun lari pagi, dan saat melewati persawahan yang mulai menguning di beberapa tempat.
__ADS_1
Wasis dan Bagas tak menyangka akan melihat ini lagi, mengingat di kota mereka sangat sulit melihat pemandangan sebagus ini.
"apa setiap hari seperti ini saat di desa?" tanya Wasis pada Vina.
"tentu saja, para warga biasanya ke sawah untuk menjaga butiran padi dari burung karena beberapa sudah ada yang siap panen," jawab Vina.
"apa kamu tak menyukai tinggal di pedesaan, hingga memilih tempat kuliah di kota," tanya Wawan yang mengambil pucuk bambu muda.
"bukan tidak ingin tinggal di desa, tapi aku hanya ingin menempuh pendidikan di universitas impian ku, dan setelah lulus aku juga akan kembali ke desa ini dan membantu mas Hardi mengurus usaha peninggalan orang tua kami," kata Vina yang tau bagaimana repotnya kakaknya itu.
"baiklah kalau begitu, kamu tak kepikiran untuk menikah,melihat sahabat mu sekaligus adik ipar kakak mu yang menikah muda, apa kamu tdk iri?" tanya Wasis penasaran.
Sedang Bagas terkejut mendengar itu, bagaimana bisa pria yang selalu malu dan jarang menunjukkan emosinya.
"tentu saja tidak, karena itu keputusan Feby, dan dia menemukan pasangan yang tepat, sedang aku tak mau salah memilih pria yang akan menemani ku seumur hidup, di tambah setelah melihat bagaimana cak Wawan memberikan cinta pada istrinya, aku jadi punya harapan besar pada suamiku kelak," kata Vina yang mengatakan semuanya jujur.
"bagaimana jika aku melamar mu, apa kamu skan menerimanya," tanya Wasis yang membuat Vina menghentikan langkahnya.
"apa..." lirih Vina melihat pria yang menatapnya dengan keteguhan dan keberanian.
"aku memang tak tau apa itu cinta, tapi aku jujur mengatakan jika dku ingin melindungi mu, dan seldlu merasa jika jantungku berdebar saat melihat senyuman indah mu, aku sadar jika perbedaan usia kita jauh,aku ingin mengenal mu, dan sejak pertama aku melihat mu hingga sekarang, perasaan itu tak berubah," kata Wasis yang membuat Bagas melongo.
__ADS_1
"aku tak tau mas, tapi untuk sekarang aku tak memikirkan hal itu, maaf aku tak bisa menjanjikan apapun,"
"ha-ha-ha tak masalah tak usah di pikirkan, aku hanya ingin kamu tau itu saja, dan setelah ini jangan merasa sungkan padaku ya, karena aku tetap kakak mu kan,"
"tentu mas Wasis," jawab Vina yang memang belum punya pikiran untuk menikah.
"baiklah kalian berdua, bisa kita lanjutkan untuk ke rumah preman yang akan jadi lurah itu,"
"baiklah ayo," ajak Vina.
mereka melewati jalanan yang sengaja lewat persawahan, dan saat hampir sampai di rumah Wawan.
terlihat pria itu sedang menyiram beberapa tanaman, "cak Wawan libur lagi, bisa habis tuh gaji jika kamu sepemalas ini, dan mau di kasih makan apa istrimu,"
"bisakah tutup mulut mu, karena aku tak suka mendengar ucapan mu," ketus Wawan dengan wajah sangar.
"kenapa kamu sejahat itu, Feby... Lihat suamimu membentak ku," kata Vina yang membuat Wawan kaget.
"apa lagi sih, kenapa kalian ini tak pernah bisa akur, dan mas tak usah dengarkan ucapan Vina, dan kamu tetap saja suka menganggu mas Wawan,"
"habis dia merebut sahabat ku ini, kan aku jadi sendirian sekarang," kata Vina yang jujur mengatakan hal itu.
__ADS_1
"kamu dengan dua pria itu,dan tak sendiri, dan jangan mengatakan hal aneh di desa ini,karena setiap pohon dan tembok bisa mendengar," kata Wawan mengingatkan dua pria itu.
"apa..."