
Bagas masih melamun dan bingung mau berkomentar apa, tak lama Wawan datang sendiri dan didik di samping pria itu.
"huuu...." lirih keduanya yang menghela nafas panjang.
"ini kenapa dua adik ipar ku sedang lesu begini, apa kalian ada masalah?" tanya Hardi yang duduk juga karena di kembar sudah di bawa vina untuk sekolah di paud.
"kami depresi mas, ya tuhan aku harus apa?" kata kedua pria itu kompak.
"loh kalian berdua,memang ada apa? Jangan bilang dua istri kalian mengatakan hal yang aneh-aneh?" tebak Hana yang membuat keduanya mengangguk.
Ingin rasanya Hardi tertawa, pasalnya muka keduanya begitu tertekan karena menghadapi istri yang punya kepribadian yang cukup amazing.
"baiklah biar aku dengarkan dulu apa yang terjadi," kata Hana yang duduk di samping suaminya dengan tenang.
Wawan pun mengingat apa yang tadi di katakan oleh Feby, sebelum wanita itu berangkat ke kampus.
"mas pokoknya nanti saat aku pulang dari kampus, aku mau makan lintingan pindang tapi harus mas yang masak, dan aku mau makannya di teras.
mendengar itu Hana tertawa, pasalnya adik iparnya itu ternyata tak tau jika istrinya itu sedang ngidam.
__ADS_1
"turuti saja, dari pada nanti anak mu ileran," kata Hana.
"ya baiklah mbak," jawab Wawan pasrah.
"kalau aku, Vina bilang jika dia harus di bilangin secara jelas, kan itu membuat malu jika aku melarang dia untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan,"
"ya gak papa, jadi tak usah merasa tak enak, karena Vina dari kecil memang seperti itu," kata Hardi.
"baiklah kalau begitu Hardi," jawab Bagas menghela nafas.
"hei ucapan itu, meski dia sahabat ku, tapi sekarang dia itu kakak ipar mu, jadi panggil mas bro," kesal Wawan yang langsung membuat Bagas tersungkur karena memukul punggung pria itu.
"ya kamu gila, aku njlungup Cok," marah pria itu.
"apa hubungannya!!"
"ada dong, aku saja membuat istriku ini sampai tak berdaya, itupun tak hanya sekali saja," kata Hardi yang membuat Hana malu.
"omongan apa itu,"
__ADS_1
"itu benar, jika istri puas, pasti kamu tak akan dapat masalah loh, jadi ingat ini baik-baik kepuasan istrimu itu kunci segalanya, ya yang penting uang belanja juga aman," kata Wawan yang membuat Bagas berpikir sejenak.
"Jancok, wes jam sak mene, aku telat," kata Wawan yang mengambil nangka matang dan menaruhnya di depan Hardi.
"itu tadi nangka yang baru matang di pohon, saya pamit dulu lupa ada rapat dengan para pengembang untuk memperbaiki irigasi," kata Wawan yang langsung pergi.
"iya ternyata pekerjaan pak lurah itu banyak ya," kata hardi tertawa.
"em... Enak ini kalau di buat campuran kue atau es buah, atau kolak, ah minta ibu buat nagasari ah," kata Hana yang langsung menelpon Bu Sodikin.
Sedang Bagas sepertinya memang harus mulai berolahraga karena dia di bandingkan Hardi dan Wawan memang jauh.
Terlebih kedua orang itu sama-sama bisa bongkar muat gabah sendiri dalam satu truk, kalau dia bisa tepar atau gak mati
Pukul sepuluh siang, Vina pulang dengan dua keponakannya, dan mencium aroma nangka.
"aku mau Bangka itu!" teriaknya sambil berlari kedapur.
"bersihin sendiri, mas mu sedang ada di gudang dek," kata Hana yang membuat Vina kaget.
__ADS_1
"oke deh," jawab gadis itu yang langsung mengambil minyak goreng.
"aku bantu dek, tapi ajarkan dulu," kata Bagas yang membantu istrinya itu membersihkan buah nangka dari Dami.