Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
Vina jangan berlebihan 2


__ADS_3

Bu Sodikin hanya tak menyangka jika ada Wawan di sana, "ya terima kasih ya le,"


"mari Bu kita pulang, karena sepertinya dek Feby juga sedang tak baik-baik saja," kata Wawan yang membawakan belanjaan itu.


Feby bangkit, tapi dia kaget saat suaminya itu berjongkok di depannya, "apa mas,"


"naiklah dek, aku akan mengendong mu, karena aku tak mau kamu makin lelah,"


"tapi malu.."


"ibu duluan saja ya," kata Bu Sodikin yang langsung berjalan.


Sedang para ibu yang belanja di tukang sayur kaget melihat itu, pasalnya Wawan yang terkenal dingin di antara para pekerja di tempat Hardi.


Seperti orang lain saat bersama Feby, bahkan keduanya tak segan menunjukkan jika mereka sangat manis.


sedang di rumah keluarga pak Sodikin, sudah kedatangan para tamu, ya Hana dan suaminya serta adik dan dua putranya sudah datang.


"loh ibu kok pulang sendirian,tadi katanya belanja dengan Feby?" tanya Hana yang melihat ibunya itu.


"itu Feby sedang bersama suaminya, sudah ibu mau masuk dulu," kata Bu Sodikin.


mereka semua pun tidak percaya melihat Feby yang sedang di gendong di punggung oleh Wawan.


"apa kamu kecil dek?" kata Hana.


"kenapa?" tanya Feby.


"karena adek masih sakit, tadi kebetulan lewat dan tampaknya dia belum bisa berjalan jauh, jadi saya gendong saja Bu bos," kata Wawan.


"panggil mbak Hana saja, toh kamu juga adik ipar ku sekarang," kata Hana.


"kaloan sepertinya tak tau malu ih,memang tak malu di lihat orang,"


"tentu saja tidak, kenapa harus malu, kami sudah sah menikah, kalau begitu saya masuk dulu karena harus mandi, dan sepertinya neng Vina harus melihat kondisi tunangan anda yang kemungkinan masih di rumah sakit karena terkena musibah," kata Wawan dengan suara datar.

__ADS_1


"tunangan, siapa?"


"apa anda tak mengakui Amir, kasihan dia sudah menunggu selama tiga tahun sekarang mau di buang,"


"tutup mulutmu!" suara Vina meninggi.


"Vina!" suara Feby yang tak terima suaminya itu di bentak


"sudah kalian ini kenapa malah berantem, sudah bantu masak sana para wanita yang cantik, dan Wawan aku ingin berbicara dengan ku tentang maksud mu tadi," kata Hardi dengan senyum yang aneh.


"tentu bos, tapi aku ingin mandi dulu, tak nyaman berbicara dengan tubuh berkeringat, pasti bau," jawab Wawan.


Saat pria itu melewati Vina, tiba-tiba Vina mencium aroma yang sangat enak baginya.


ya aroma maskulin dari tubuh Wawan, entahlah membuatnya merinding, bahkan sempat membuatnya terdiam.


"sudah, kalian berdua ikut mbak bantu ibu, sepertinya kita harus masak banyak," kata Hana menyeret dua adiknya itu ke dapur rumah.


Sedang Hardi menunggu di luar bersama ayah mertuanya dan juga dua putranya yang sekarang sudah berumur sepuluh bulan.


Ya kedua bocah itu sedang lucu-lucunya, di tambah wajah keduanya sangat tampan karena mewarisi wajah sang ayah.


"beruntungnya aku menikahi istri seperti mu dek," gumamnya.


Setelah selesai berpakaian, dia mengambil rokok miliknya dan berjalan keluar ke teras rumah


"jadi anda ingin membicarakan apa?" tanya Wawan yang duduk di samping Hardi


tiba-tiba dua bocah itu merangkak dan langsung duduk santai di pangkuan Wawan.


"lihatlah, bahkan dia putra ku juga sangat menyukai mu, entahlah tapi aku ingin tanya adalah kenapa dua pria itu bisa masuk rumah sakit, tapi kondisi Amir paling parah?"


"siapa suruh keduanya ingin melukai ku, di tambah mereka berdua bersembunyi dan ingin menyerang ku, saat aku pulang mengambil baju."


"ya itu tindakan pengecut, tapi aku dengar dari dokter, Amir bisa tak memiliki anak karena telurnya mengalami cidera,"

__ADS_1


"ya aku tak sengaja menyikutnya dengan keras, jadi untuk dia punya anak atau tidak itu bukan urusan ku," jawab santai Wawan.


Hardi hanya bisa menghela nafas, lagi pula sore nanti dia akan datang memutuskan hubungan antara Amir dan Vina.


"oh ya, aku membawa sertifikat sawah milik mu, mulai sekarang urus sendiri, terlebih kamu sudah punya Feby yang harus kdmi bahagiakan, dan lagi bagaimana persyaratan mu untuk mencalonkan diri jadi lurah?" tanya Hardi.


"sudah lengkap, hanya tinggal daftar saat sudah di buka nantinya," jawab Wawan.


"nak Wawan, maaf apa bapak boleh tanya?"


"inggeh pak, mau tanya apa?" tanya Wawan merasa aneh melihat ayah mertuanya itu.


"apa Feny boleh kuliah, dia sebenarnya dulu punya keinginan menjadi pengusaha jika tidak guru, itu yang dulu sering dia katakan," kata pak Sodikin dengan suara takut jika menyinggung menantunya itu.


"Tentu saja boleh iak, saya akan sangat senang jika dek Feby bisa meraih impiannya, dan sebagai suami saya akan mendukungnya untuk sukses, tentu syarat utamanya adalah tak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri,"


"baiklah nak, bapak tenang mendengarnya," jawab pak Sodikin.


sedang di dapur, Feby, Vina, Hana dan Bu Sodikin sedang memasak sayur bening, bakwan jagung dan gorengan ayam.


"oh ya Vina, ini nanti di bawa ya untuk di Surabaya, karena ibu sengaja buat serundeng daging, kentang jering Mustofa, dan kering tempe, dan juga kue bawang,"


"terima kasih ibu, sekarang aku hanya punya ibu, dan tolong cintai putri mu ini ibu, karena dua putrimu sudah menikah." kata Vina membuat Hana kaget.


"hei adik ipar, jangan mencoba merebut ibu kami," kata Hana.


"kenapa tidak boleh, kalian berdua sudah menikah,dan kakak ku juga sudah menjadi milik mu,jadi sekarang ibu milik ku,benarkan Bu," kata Vina manja.


"aduh, ibu ini ibu semua putriku, sudah-sudah, nanti Hana juga bawa stik bawang juga,"


"terima kasih ibu,"


Sedang Feby hanya diam saja, toh dia tak akan pergi kemana pun, karena suaminya bilang jika mereka akan tetap di sana sampai kondisinya baik.


"Feby juga nanti minta suami mu untuk mencicipi bulat bawang ya, karena kamu dari kecil suka bentuknya bulat seperti ular, jadi ibu sengaja membentuk stik bawangnya seperti kesukaan mu," kata Bu Sodikin yang tak ingin membuat putrinya itu satu sama lain.

__ADS_1


"iya Bu," jawab Feby.


Akhirnya mereka sarapan bersama, dengan menu sederhana, tapi tampak bahagia, bahkan dengan tanpa sadar Feby dan Wawan menunjukkan pada semua orang jika mereka bahagia, dan Vina bersyukur atas hal itu.


__ADS_2