Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
itu Kunti bukan


__ADS_3

"sudah sekarang ayo keliling, sudah jam dua belas malam ini, oh ya nanti kalau Nemu ada orang mesum langsung nikahin aja ya," perintah pak RW.


"siap pak, nanti kalau ketemunya mbak kun-kun suruh cari pak RW ya," kata Wawan yang tertawa bersama yang lain.


"ye... Kalau itu nah Yo jangan dong, bisa nayi berdiri saya," kata pak RW yang membuat semua makin tergelak.


Akhirnya mereka pun berkeliling kampung dan di bagi jadi dua grup, dan kebetulan Hardi, Wawan dan pak RW serta satu hansip ini di grup pertama.


Mereka pun mulai jalan dan memukul tiang listrik yang di lewati sebanyak dua belas kali.


"pak RW, sebenarnya saya ini penasaran, kenapa kita harus ngeronda, toh di desa kita ini aman-aman saja loh," kata Hardi yang merasa malas sebenarnya.


"ya memang aman mas Hardi, tapi setelah beberapa kali ada anak gadis yang sering di antar pacarnya pulang malem terus hamil, itu bikin kesel dan lagi beberapa hari lalu ada yang kemalingan saat kita libur ronda," jawab pak RW.


"ya kalau yang kedua bisa di pahami, tapi yang pertama ini, ya kalau mereka melakukan di luar desa, ya masak kita juga yang kena," bingung Wawan


"yang bikin malu desa pastinya,"


"iya juga, ya sudah ayo kita keliling lagi," kata Hardi.


ternyata regu satu ini malah melewati rumah kosong yang ada di desa itu.


Dan sekelebat wawan tak sengaja melihat seperti ada sosok yang lewat dengan cepat.


"Siapa itu!" teriak Wawan menyorot senter ke arah semak-semak di rumah kosong itu.


"ada apa sih wan," kata Hardi yang tiba-tiba merinding.


"itu tadi ada seorang gadis lewat dengan cepat, dan aku mau kesana memastikan saja," kata Wawan benar-benar penasaran.


"jangan gila, sudah ayo lanjut jalan, bukan orang malah lihat mbak kun-kun kan gak lucu," seret Hardi pada adik iparnya itu.


Saat mereka berempat ingin pergi, tiba-tiba terdengar suara ketawa yang begitu jelas terdengar oleh mereka semua.


"hi-hi-hi-hi-hi..."


mendengar itu mereka langsung lari menuju ke pos kamling, sedang di tempat lain grup dua yang ada empat orang juga.


Malah melihat sosok pocong yang nyaru jadi pohon pisang, dan itu pun membuat mereka juga lari terbirit-birit.


Saat sampai di pos, mereka ini datang bersamaan, dan tiba-tiba berteriak karena satu sama lain.

__ADS_1


Saking terkejutnya dan ketakutan, akhirnya mereka pun duduk di pos kamling dan tak berani keliling jika hanya berempat


malam itu adalah pengalaman tak terlupakan, dan akhirnya pukul lima pagi mereka pulang.


tapi malah sakit semuanya, ya Hardi dan Wawan terserang panas dan meriang.


"mas ya Allah... Kenapa pulang ronda kok malah sakit," kata Feby yang merawat suaminya di rumah.


Sedang Hana juga jerawat Hardi, dan untungnya kedua anaknya di bawa ibu dan ayahnya.


"mas baru kali ini loh pulang ngeronda sakit," kata Hana yang memeriksa suhu tubuh suaminya.


"ya ini karena semalam kamu di ganggu mbak Kunti dan pocong, dan baru kali ini aku mengalaminya sendiri sayang," kata Hardi yang masih lemah.


"ya sudah, aku buatkan bubur ya," kata Hana yang tak ingin suaminya itu makin lama sakitnya.


di rumah Feby, gadis itu juga sedang merawat suaminya yang semakin manja.


bahkan Wawan tak mau melepaskan Feby sebentar saja, bahkan Feny bisa lepas dari suaminya jika pria itu sudah tertidur lelap.


Feby mengikat rambutnya dan mulai membersihkan rumah di sambi mencuci, ya meski mencuci dengan mesin.


Tapi dia tak segan untuk tetap mengucek saat ada baju yang sangat kotor, mengingat pekerjaan suaminya.


"sayang ..."


"iya mas," jawab Feby yang meninggalkan semua pekerjaannya dan memilih menemani suaminya itu.


Bahkan dia menitipkan absen pada dua temannya karena tidak bisa ke kampus, dan untungnya hanya satu mata kuliah.


Wawan benar-benar manja pada istrinya itu, bahkan dia tak segan memeluk Feby erat.


"aduh manjanya ngalahin Arga nih," kata Feby mengusap rambut suaminya itu.


"jangan sebut nama pria lain," protes Wawan.


"ya Allah mas, itu putra mbak Hana, masak iya kamu cemburu sama balita gitu," kaget Feby tertawa.


Di Surabaya, Vina sudah menjalani kehidupan kuliahnya dengan sangat baik.


Dia juga berusaha agar bisa lulus lebih cepat, dan dia juga memiliki teman sekaligus penjaga.

__ADS_1


Ya dia adalah sepupu jauh dari Wawan, "Hima, apa kita akan pulang setelah kelas, atau mau main dulu," tanya Vina yang tak ingin diam di kos.


"aku sepertinya mau latihan muathai, kebetulan aku menemukan tempat yang pas untuk ku, mau ikut?" tawar Hima.


"boleh juga tuh," jawab Vina yang akhirnya ikut dengan temannya itu.


Mereka datang ke salah satu komplek perumahan, dan ternyata tempat latihan itu ada di sana.


Bahkan dari luar saja tamoak seperti rumah biasa, tapi saat masuk kedalam


Vina kaget melihat antara pria dan wanita semuanya tampak santai berbaur dan latihan muathai bersama.


"kalau mau daftar di meja situ, kalau mau duduk nemenin mending duduk sama yang di sana," kata hima.


"aku daftar aja deh, lumayan buat perlindungan diri," kata Vina yang langsung masuk kedalam klub itu.


Bahkan yang menerima Vina adalah pemilik sekaligus master di tempat itu, ya dia seorang pria muda yang memiliki darah campuran.


"nama anda nona,"


"Alvina putri Hartono," jawab gadis itu yang langsung menjadi member klub.


dia ikut berganti baju dan mengenakan setelan baju cukup ketat


ya saat kuliah ini, Vina melepaskan jilbabnya dan mulai untuk mencari jati diri.


tentu Hardi awalnya marah, tapi dia tak bisa memaksakan kehendaknya pada Vina.


jadi dia menjaga Vina dari jauh, dengan menempatkan orang-orang tertentu di dekat Vina.


jadi Vina ini ikut kelas pemula yang di ajari oleh pemiliknya secara langsung.


Ya pria itu bernama Reyhan Purnomo, seorang pria tampan dengan darah Jawa dan Belanda yang sangat kental


terlihat Vina memang punya kepintaran dan pemahaman di atas rata-rata, gadis itu tampaknya sangat menyukai tempat itu


Terlihat dia yang sudah menguasai dasar dalam hitungan jam. Dan itu menjadi nilai plus di mata Rey.


"kamu punya tubuh yang kuat Vina,"


"terima kasih Rey," jawab Vina yang cukup berkeringat tapi terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Setelah selesai, dia dan Hima memilih untuk pergi mencari makan malam, dan malam itu jatuh pada tahu campur.


Dan Vina selalu memesan lontong sedikit tapi sayur banyak, dan itulah cara gadis itu menjaga tubuhnya tetap sehat.


__ADS_2