
Sedang di tempat lain, lurah Aris masih tamiak dingin pada htlmi, ya meski pun mereka berdua tetap bertegur sapa dan tidur satu ranjang.
Tapi sedikit pembicaraan, bagian pria itu tampak malas saat ingin bicara dengan istrinya itu
entahlah dia sangat kesal saat ingat bagaimana istrinya yang masih mengingat apa yang terjadi beberapa hari lali.
pukul tiga siang semua acara PKK baru selesai, dan lurah Aris belum pulang, sebab dia harus menemani Wulan dan juragan Baron yang menyempatkan datang untuk memberikan ilmu.
ketiganya sedang berbincang di dalam ruangan lurah, sedang Helmi menerima telpon setelah membagikan uang makan dan bingkisan untuk para peserta.
"iya ibu, ada apa, apa satria ngambek lagi?" tanya Helmi yang mendapatkan telpon dari ibu mertuanya itu.
"ini nduk, kamu bisa pulang dulu, tadi satria jatuh di sekolah dan sekarang dia panas dan terus memanggil mu," kata Bu sari pada menantunya itu.
mendengar itu, Helmi panik dan segera ke ruangan suaminya, "maaf saya menganggu, mas aku pamit pulang ya, karena satria sakit," pamit Helmi yang langsung mencium tangan suaminya dan pulang
sedang Wulan dan dia pria di dalam sana tampak bingung dengan apa yang terjadi.
"ya sudahlah kita pulang mas, sepertinya pak lurah sibuk," kata Wulan yang tau jika lurah Aris sangat khawatir juga
Helmi sampai duluan, dan langsung menuju ke kamar putranya itu, dan terlihat bocah itu sedang di kompres.
"kamu kenapa nak, mana yang sakit," tanya helmi yang khawatir.
"mama..." tangis satria yang memeluk Helmi yang langsung menepuk pesan punggung putranya itu.
Tukang urut datang, dan langsung melihat kondisi bocah itu, yang ternyata kaki dari satria yang terkilir.
bahkan ada sedikit jari kaki yang salah urat hingga membuat berbeda dari seharusnya, untungnya masih bisa di benarkan.
lurah Aris sampai di rumah orang tuanya, dan kaget saat mendengar teriakan dari putranya.
Dia buru-buru masuk dan melihat Helmi sedang berusaha menenangkan putranya yang sedang di pijat.
bahkan wanita itu terus memeluk satria erat hingga selesai, lurah Aris pun merasa bodoh, Karena kecemburuannya dia mendiamkan istri yang sudah menyayangi dirinya dan putranya sampai seperti itu.
setelah selesai, ternyata satria ketiduran karena lelah berteriak dan juga efek obat yang di minum.
__ADS_1
Helmi keluar dari kamar Satria dan melihat suaminya sedang duduk sendirian di ruang tengah.
"mas..."
mendengar panggilan itu, lurah Aris langsung memeluk perut istrinya dengan terisak lirih.
Helmi pun memeluk kepala suaminya agar sedikit tenang. "sudah dia tak apa-apa,"
"maafkan aku," kata lurah Aris yang membuat Helmi tersenyum senang, dia tak menyangka suaminya akhirnya mau bicara lagi dengannya.
Di rumah Vina sedang ngambek pada Hardi, pasalnya dia merasa tidak di penting karena baru tau jika sekolah swasta terkenal itu milik keluarganya.
"sudah tuh muka makin kayak nenek lampir kalau kamu cemberut juga, masih marah..." kata Hardi yang santai duduk di sofa ruang tamu.
Sedang Vina memilih tiduran di sofa panjang, "kenapa tak bilang sih kalau sekolah itu milik keluarga kita, kan aku tak akan sekolah di sana," protes Vina.
"kenapa, itu sekolah bagus, lagi pula sekolah itu di dirikan agar cucu-cucu kakek tak kesulitan untuk bersekolah, jadi jangan begitu," kata Hardi santai.
"sudah dek, kamu kan juga baru tau, sekarang kamu harus buktikan jika kamu tidak lemah,dan pertahankan semua nilai mu," kata Hana.
"itu pasti, ah betapa beban berat ini menyiksaku, yang satu ketua yayasan yang kayanya entah berapa ratus milyar uangnya, yang satu kepala sekolah dengan tiga bahasa," kata Vina membuat Hana dan Hardi tersenyum.
Terlebih ada pengacara Hans yang siap menjadi tameng pelindung untuk pria itu
seperti saat ini, dia sedang bingung karena Dimas putranya itu tidak bekerja, dan memilih main saja taunya.
Belum lagi dia harus menghidupi cucu dan menantunya yang tinggal di rumahnya.
"ada apa Bu, kenapa kamu tampaknya kok banyak pikiran begitu?" tanya Syam melihat wajah sedih istrinya.
"kita hampir bangkrut yah, lihatlah tingkah putra mu itu, membuat ku pusing dan belum lagi menantu mu yang baik tapi juga aku merasa gadis itu tak sepenuhnya jujur," kata Rina.
"tenang saja, sekarang Leli juga sudah membantu ayah, jadi ibu tenang saja dan tunggu toko sambil jaga Fariz ya," kata Syam menenangkan istrinya itu.
"itu yang membuat ibu kesal, kenapa harus ibu yang jaga, biarkan saja ibunya yang jaga toko di rumah dan aku bisa membantumu di pasar," kata Rina kesal.
"lah kamu ini gimana sih Bu, orang di pasar itu kerjaannya lebih capek, ya sudah bagaimana kalau kita buat Dimas bertekuk lutut saja, ya meski caranya harus dengan meminta tolong pada dukun, setidaknya dia bisa membantu kan," Usul Syam yang sudah tak memiliki ide lagi.
__ADS_1
"baiklah, tolong pergi ke rumah pakde Narto, minta dia membuat putra mu itu tak gila main dan mau membantu ibu di rumah, dan biarkan saja menantu tak berguna itu di pasar, karena dia harus tau sulitnya mencari uang," kata Rina yang tak ingin repot.
Malam itu, keluarga Hana berkunjung ke rumah putri dan menantu mereka.
Semua tampak hangat terlebih mereka sudah saling mengenal dari lama.
bahkan abdi juga datang ke rumah itu, dan jadilah malam itu suasana sangat ramai.
Di sisi lain,Syam yang memang tak tertarik dengan harta mantan mertuanya pun memilih menikmati hidupnya.
Di tambah Hardi terakhir kali memberikannya modal usaha saat pernikahan Dimas dan Leli.
sekarang pria itu sedang ada di rumah temannya yang terkenal sebagai dukun sakti di desa.
"mau melet siapa Gus, kok datang lagi," tanya Narto pada temannya itu.
"tidak ada yang ingin di pelet, cuma aku mau kamu membuat Dimas dan istriku tunduk pada ucapan ku, dan jangan buat mereka tunduk empat puluh hari saja, kalau bisa selamanya," kata Syam yang sudah lelah jika terus selama sisa hidupnya mendengar Omelan istrinya.
"itu mudah, tapi mahal besar, sanggup tidak?"
"baiklah aku mengerti, sekarang aku minta ajian itu, dan ini uang maharnya apa cukup," kata Syam mendorong sebuah kantong kresek.
dukun itu tersenyum dan langsung memasang ajian yang di minta temannya itu.
tentu saja dia orang yang menjadi target di ikat dan tak akan lepas jika tanpa izin pemilik ajian tunduk Sukmo.
Hardi memeluk istrinya erat, tiba-tiba dia merasa berada di area persawahan yang sangat hijau.
ada seseorang yang mengandeng tangannya, ternyata itu dua bocah laki-laki yang sangat tampan.
"ayo ayah,jangan lama-lama, itu nama sudah menunggu kita," kata keduanya yang menarik Hardi untuk mendekati wanita yang ada di ujung pematang sawah.
Tiba-tiba dia terbangun karena sebuah panggilan telpon masuk, dengan mengantuk dia pun mengambil ponselnya dan menjawabnya.
"iya siapa?" tanya Hardi dengan suara yang masih mengantuk.
setelah beberapa saat mendengarkan suara orang di sebrang, tiba-tiba rasa ngantuknya hilang.
__ADS_1
"kalian dimana?" tanya Hardi yang pelan-pelan bangun dan segera pergi.
Hana merasakan gerakan dan ikut terbangun juga, "mas mau pergi, tapi ini masih jam satu malam,"