
mendengar hinaan dari ayah Helmi, suami dari Bu Sunariyah ini marah dan membanting saringan mie miliknya karena kesal.
"bisa tutup mulut busuk mu itu pak, jangan sampai aku menyiramkan kuah panas ini pada mu!!" marah pria itu dengan keras.
"kau ini kenapa?" tanya ayah Helmi.
"aku marah dan panas mendengar ucapan mu, jika kamu tak menyukai mas Hardi silahkan, tapi tak usah berkomentar, dia bermesraan dengan istrinya, saya tak keberatan, dan asal anda tau ya, anda itu tak tau malu dulu anda dengan sombong memamerkan harta saat panen, padahal cih... Itu pun yang beli keluarga mas Hardi, semua orang di desa juga tau siapa juragan Hartono, jika anda tak suka mending pergi dari desa ini, karena hampir semua orang di desa ini adalah orang yang berhutang Budi bahkan nyawa dengan juragan Hartono, Cok!!" marah pedagang mie itu.
Hana terdiam dia tak mengira jika pengaruh mertuanya akan sebesar ini, meski mereka sudah tak ada lagi di dunia ini.
"kenapa aku yang harus pergi,apa kalian tau jika menantu ku itu lurah di desa ini," kata ayah Helmi yang masih tak mau terima.
"lurah dancok tha, lurah yang jadi bisa menempati posisinya karena serangan fajar, kau kira kamu ini orang bodoh, dan lagi menantu mu atau besan mu itu tak sebanding dengan apa yang di berikan oleh juragan Hartono pada warga desa, jika kamu tak suka kamu bisa pergi dari desa ini," kata suami Bu Sunariyah.
"siapa yang bisa mengusirku, aku adalah orang yang kaya di desa ini," kata ayah Helmi yang benar-benar tak tau malu.
"cih kamu mau aku bunuh sekarang, pergi dari sini,"marah pedagang mie ayam itu.
Akhirnya ayah Helmi memberikan uang dan segera pergi karena panik melihat kemarahan dari pedagang mie itu.
Bu Sunariyah ini tak mengira, meski sudah tak menjadi kekasih Helmi, tapi kebencian dari pria itu sangat tak masuk akal.
"maaf ya mas dan mbak juragan jadi melihat adegan ini, ibu tak mengira jika ada orang yang sebenci itu dengan keluarga kalian," kata wanita itu merasa kesal
"karena orang itu saja yang punya hati busuk, dia tak tau saja jika warga desa yang sudah bergerak tak jamin saat mati tak akan ada orang yang mau melayat, karena jadi orang yang suka menghina orang tak punya," kata suami Bu Sunariyah.
Hana dan Hardi tak menjawab apapun, karena mereka tau jika mereka baik pasti dkan di lindungi oleh orang-orang yang baik pula.
__ADS_1
saat keduanya sedang menikmati pesanan mienya, tiba-tiba datang dua sepeda motor yang mampir ke warung itu
Hardi yang melihat mereka berempat sepertinya bukan dari warga desa situ.
"Bu pesen mie ayam spesial empat dan minumnya teh hangat tawar ya," kata satu-satunya wanita yang sudah cukup berumur.
Bu Sunariyah yang memang terkenal wanita paling kepo dan orang yang tau segalanya pun penasaran dong melihat orang baru yang datang ke warungnya.
"iya Bu silahkan duduk dulu," kata wanita itu.
setelah menaruh pesanan minum dari keempatnya, Bu Sunariyah sudah gatal untuk bertanya.
"kalau boleh tau, kalian ini bukan dari desa ini ya, kok sepertinya baru pertama kali terlihat disini?" tanya Bu Sunariyah.
"iya Bu, kami dari desa Pakuan, ingin menemui keluarga seorang gadis di desa ini, ngomong-ngomong ibu tau tidak gadis ini," tanya wanita yang sepertinya ibu dari dua pemuda itu.
"ya tau dong Bu, saya ini tau semua orang di desa ini,ibu yakin mau melamar gadis ini?" tanya Bu Sunariyah yang membuat ke-empatnya bingung.
"memang kenapa Bu dengan gadis itu?" tanya wanita itu.
"dia ini memang gadis baik dan sering ikut acara di desa,"
"bukankah itu bagus," saut pria yang tampak sudah sepuh dari rombongan itu
"ya itu bagus pak, tapi apa anda tau jika keluarga itu hanya mau menerima keluarga mampu saja, buktinya mereka menjual anak pertama mereka yang mencintai anak desa biasa, demi mendapatkan menantu kaya raya di desa ini, jika putra anda masih gaji UMR mah gak masuk, kalau tak percaya buktikan sendiri nanti pasti saat sampai di rumah itu, anda akan mendengar ucapan yang membanggakan menantu pertama mereka, dan gadis itu memang baik tapi mulut kedua orang tuanya ini busuk kalau menghina orang sangat kejam, gak percaya bisa tanya ke orang lain," kata Bu Sunariyah yang membuat Hardi geleng-geleng.
"benarkah itu, tapi dia gadis yang baik ko, dia bilang jika orang tuanya juga baik," kata ibu itu.
__ADS_1
Sedang putra mereka ini tampak diam dua-duanya, sepertinya kedua pria muda itu sudah mengerti apa yang di ucapkan oleh pemilik warung mie ayam itu.
"tunggu kalau gak percaya," kata Bu Sunariyah yang dengan cekatan memanggil teman ngerumpinya.
"Bu neng sini,"
Hardi menahan diri, karena dia tau siapa wanita itu juga, "ada apa toh sun," kata wanita itu.
"hei menurut mu bagaimana orang tua dari arek ini," tanya Bu Sunariyah.
"ya Allah, iku keluarga bangsat Kabeh, lek ngomong rak gawe utek blas, memang e kenek opo?" tanya Bu neng.
"ini loh ada yang mau nglamar, dari pada nanti sudah sah terus nyesel kan lebih baik kita ingatkan," kata Bu Sunariyah.
"ih ya Allah Bu, jangan mau sama andk gadis ktkuarga itu, meski cantik dan baik tapi mulut baik sama ibunya tak punya saringan,bahkan kemarin saja mereka menghina habis-habisan seorang tetangga yang tak sengaja menyenggol gapura rumahnya hingga ambruk, padahal sudah berjanji mau memperbaiki, bisa mati muda anak ibu," kata Bu neng yang makin membuat keluarga itu mundur.
"terima kasih ya Bu, untunglah kami bertanya dan berhenti dulu di sini," kata wanita itu.
Sedang tiga pria yang bersamanya tak mengatakan apapun, dan itu membuat Hana merasa aneh.
Sedang bagi Hardi yang menyaksikan itu di buat ngeri,karena dia tak tau jika mulut para tetangga ini bisa membuat sulit jodoh.
Ya sepertinya dia harus berbuat baik jika tidak ingin adiknya itu bernasib sama dengan gadis yang di obrolkan oleh mereka.
Ya jika caranya begitu, maka akan banyak perawan tua di desa ini karena para tetangganya tak akur.
Hana yang penasaran pun ingin bertanya tapi Hardi menahannya,karena itu bisa jadi masalah jika Hana salah omong pada dua wanita yang terkenal sumber informasi itu.
__ADS_1
"sudah selesai kita pulang yuk," ajak Hardi yang tak ingin istri mengalami masalah karena hari makin malam.