
Vina melongo karena kelakuan suaminya, "mas kamu menyebalkan,"
dia memukul dada Bagas dan langsung turun dari mobil, dan langsung mengambil barang-barang miliknya yang sudah di kemas oleh Hima.
"aduh aku pasti akan merindukan mu sekarang... Tapi kamu masih kuliah kan," tanya Hima dengan sedih.
"tentu saja, kita tetap bisa bertemu saat di kampus, sudah ya aku harus pergi karena suamiku sudah di luar menunggu," kata Vina yang membuat Hima kaget
"iya deh yang udah nikah,"
Hima membantu temannya itu membawa barang miliknya ke depan kos.
Tapi betapa terkejutnya mereka saat melihat Bagas dan Wasis sedang baku hantam.
"apa yang sedang kalian lakukan!!" kaget Vina yang melihat hal itu.
tapi keduanya tampak tak mau menggubris teriakan Vina, hina menaruh buku milik Vina dan langsung menendang kedua pria itu agar berhenti.
"apa kalian gila berantem disini," marah Hima.
__ADS_1
"aku tak hila, tapi pria bodoh itu yang tiba-tiba datang menonjok ku, padahal aku tak melakukan apapun," jawab Bagas yang sekarang sudah di tahan oleh Vina.
Wasis terlihat sangat marah, "karena kamu pria sialan, aku sudah bilang ceraikan istri mu karena aku ingin menikahinya,"marah Wasis.
"apa kamu gila, sudah aku bilang aku tak akan melakukan itu karena aku sangat mencintai Vina, jadi jangan harap aku melakukan permintaan bodoh mu itu,"marah Bagas.
"berhenti dan tolong jangan ngomong apapun lagi,aku bukan barang yang bisa kalian perebut kan,aku juga tak ingin bercerai,karena bagiku pernikahan itu cuma satu kali," marah Vina pada Wasis.
"tapi kamu tak mencintai pria itu, dan kamu bisa di buat sengsara Vina, dia itu playboy, dia sering pulang dengan wanita saat dulu kuliah," kata Wasis lagi.
"itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan dengan otak kotor mu itu," marah Bagas.
"kalian itu di bohongi, bagaimana bisa putra seorang pengusaha sukses seperti dia melakukan itu," kata Wasis
"cukup, aku tak mau dengar lagi karena aku percaya dengan pilihan mas Hardi,"
Wasis pun marah dan langsung pergi dari sana, sedang Hima yang dari tadi juga ada di sana tak mengira jika Vina begitu percaya pada kakaknya.
bahkan gadis itu mempercayai dengan buta, bukankah aneh jika Vina tampak tenang saat seorang pria yang dulu sahabat dekat dari suaminya itu.
__ADS_1
Menjelaskan tentang keburukan dari suaminya itu, tapi dia tak bisa mengatakan apapun.
Karena dia tak mau di anggap sebagai orang yang ingin mencampuri urusan orang lain.
Setelah mengobati luka di wajah Bagas, Vina dan suaminya itu pulang, saat sampai di rumah orang tua Bagas kaget
Tapi mereka tidak mengatakan apa-apa, karena dari awal mereka sudah di peringatkan tentang perkelahian yang mungkin terjadi
"mas istirahat dulu, aku buatkan air madu hangat," kata Vina yang langsung kedapur.
ibu Bagas merasa sedih, tapi putranya itu memberikan kode jika dia baik-baik saja.
Vina datang dan membawa kotak PPPK dan kembali mengobati luka Bagas dengan benar.
"maafkan aku ya, karena diriku ini, sekarang mas jadi sasaran kegilaan dari semua orang,"
"tidak apa-apa, karena aku ingin melindungi mu, karena kamu istriku, tapi apa kamu tak terpengaruh ucapan Wasis, dia itu sahabat ku tentu tau dengan jelas bagaimana sepak terjang ku,"
"aku percaya pada mas, jika mas sudah siap silahkan bicara, karena aku selalu percaya dengan pilihan mas Hardi," jawab Vina yang membuat Bagas tersentuh.
__ADS_1