Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
pasangan baru


__ADS_3

setelah menaruh Feby di mobil, Wawan menuju ke ruang sidang untuk mengambil beberapa berkas bersama Hardi dan tim pengacara.


pak Sardi baik ke dalam mobil di bagian supir, "kita pulang duluan ya neng, karena semua masih lama dan ada beberapa hal yang perlu di urus," kata pria itu.


"baiklah pak," jawab Hana dan Vina.


Sedang Feby masih nrligat ke arah pengadilan saat mobil pergi menjauh.


Mobil itu di kemudikan iak Sardi menuju ke rumah keluarga pak Sodikin.


Dan saat sampai, pak Sodikin mengendong putrinya itu kedalam rumah.


tampak Arga dan Abrar sedang bermain,dan dua balita itu sudah bisa berjalan


"ma ma..."panggil keduanya saat melihat Hana pulang


"iya dua jagoan mama," jawab Hana.


"kalian cuma bertiga, mana yang lain?" tanya Bu Sodikin


"masih di pengadilan Bu, sepertinya mas Hardi sedang mendiskusikan sesuatu, karena mereka tadi masuk lagi kedalam kantor pengadilan," kata Hana.


sedang Vina dari tadi terus melihat kearah Feby, "kenapa kamu melihat ku seperti itu, kamu tau jika itu sangat menjengkelkan," kesal Feby


"aku gak sangka saja kamu sudah menikah, bukannya kamu masih mau kuliah?" tanya Vina.


"kan aku bisa kuliah meski sudah menikah,"


"tapi sepertinya tak pantas jika kamu menikah dengan pria seperti cak Wawan, ayolah dia itu duda dan usianya bahkan jauh di atas mas Hardi," kesal Vina.


"memang apa yang salah?"


"ya itu sudah salah," kata Vina kesal


"tapi aku merasa itu tidak salah," jawab Feby.


"ih dasar kamu ini, ya kali karena dua kali gagal kamu sebegitunya frustasi," kesal Vina.


"kamu tak pernah gagal Vina, itulah yang membuat mu merasa jika ini tak pantas, tapi bagiku mencintai atau di cintai itu berbeda," kata Feby yang berjalan dengan merambat menuju ke kamarnya.


"kamu kok ngambek sih, kan aku ngomong apa adanya,"marah vina yang melihat Feby masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


"apa sih dek, kenspa kamu berteriak seperti itu," kata Hana yang mendengar suara keributan itu


"itu loh mbak, aku cuma mau ngingetin Feny jika pernikahannya itu tanpa persetujuannya, kan dia bisa mengajukan gugatan cerai jika tidak suka," kata Vina.


"apa yang kamu katakan nduk,"


"kan benar pak, Feby menikah saat dia koma, kan itu tak adil dong jika Feby mencintai pria lain, harusnya Feby bersama pria itu, bukan pria yang bahkan bisa di sebut om-nya Feby," kata Vina.


"Vina jaga bicaramu,dan jangan mengatakan hal yang buruk,"kata Hardi yang baru datang bersama Wawan dan yang lainnya.


"mas sudah pulang,jangan marah,vina cuma mengutarakan isi hatinya,"


"tapi itu bisa melukai seseorang, dan aku tak suka itu, Vina minta maaf dan kamu tak boleh ikut campur rumah tangga Feby," marah Hardi.


"iya mas, dan setelah Feby sebentar aku yang akan mendapatkan perlakuan yang sama," kata Vina yang langsung pergi.


"ya Tuhan gadis ini, kenapa jadi tidak sopan begini," kesal Hardi pada adiknya sendiri.


"sudah mas, nanti biar aku yang bicara dengan Vina," kata Hana yang akan membujuk adiknya itu.


"aduh-aduh kok semuanya di luar, ayo masuk dan nak Hardi tenang,Vina ini masih kecil jadi jangan terlalu kasar," kata pak Sodikin.


"tapi dia di tegasi, jika tidak itu akan menimbulkan masalah di kemudian hari," jawab Hardi.


"lah sudah siap, permisi pak saya mau numpak ke kamar mandi," kata Wawan pamit.


"Mauk ke kamar itu saja, di sana ada kamar mandinya juga," kata pak Sodikin yang langsung menunjuk kamar putrinya.


Wawan awalnya pun merasa bingung, tapi Hardi mendorong pria itu masuk kedalam kamar.


Dia kaget melihat Feby keluar dari kamar mandi sendiri dengan baju kimono handuk.


"cak Wawan," kata Feny kaget


"iya, aku mau numpang mandi, tapi melah di suruh kedalam sini, maaf seharusnya aku tidak masuk kedalam sini."


"tidak apa-apa mas, sebelum anda mandi, aku ingin bertanya sesuatu, apa mas tak keberatan?" tanya Feby yang duduk di tepi ranjang.


"tentu saja," jawab Wawan.


Feby melepaskan handuk yang menutupi kepalanya, Wawan tampak biasa melihat rambut Feby yang masih cukup pendek.

__ADS_1


"apa mas tak merasa geli atau jijik melihat ini, pasalnya rambut ku di gundul habis saat operasi, dan sekarang jadi seperti ini, bukankah rambut itu seperti mahkota seorang wanita," kata Feby yang merasa buruk rupa saat tak mengenakan jilbab.


"tidak, semua itu tak penting jika akhlak dari dalam hati mu itu buruk, rambut bisa tumbuh lagi, yang terpenting adalah agama, tutur bicara, sopan santu dan juga kebaikan hati," jawab Wawan.


"terima kasih," kata Feby.


"ya sudah aku mandi dulu," pamit Wawan.


Feby mengambil baju dan berhias sedikit sebelum keluar kamar, dan saat dia keluar kamar.


Ternyata semua sudah pulang ke rumah masing-masing, tinggal sisa kedua orang tuanya.


"ibu tak ikut mbak Hana, nanti siapa yang menjaga si kembar," tanya Feby.


"tenang saja, Hardi akan membantu mbak mu, lagi pula si kembar punya pengasuh sekarang, ibu akan fokus pada mu agar subuh dulu,"


"baiklah ibu, dan sebaiknya kita menyiapkan makan malam,"


"baiklah," jawab Bu Sodikin.


Wawan keluar dari kamar mandi, dan melihat bajunya sudah di setrika dan juga di gantung di pegangan lemari.


dan kamar Feby sangat bersih bernuansa putih dengan aroma melati yang begitu lembut.


setelah itu dia keluar dari kamar milik istrinya itu, "ayo nak kita makan malam dulu,"


"tidak usah pak, saya ingin langsung pulang, karena rumah pasti sudah seperti kapsl pecah,"


"tapi ini juga rumah mu, kamu sudah menjadi menantu keluarga ini,"


"tapi pernikahan ini bukan atas keinginan Feby," kata Wawan dengan lirih.


mendengar itu, Feby pun diam dia tak mengira jika suaminya itu berpikiran seperti itu.


"apa mas pikir pernikahan ini hanya lelucon atau permainan, tapi tidak bagiku,bagiku pernikahan ini suci, dan apapun pilihan ayah ku, aku menerimanya, termasuk pernikahan ini," jawab Feby yang kesal.


"apa kamu yakin, kita punya banyak perbedaan,"


"tapi aku tak mau hubungan ini berakhir begitu saja, karena bagiku menikah itu untuk sekali seumur hidup, jadi sekarang aku meminta mu untuk menjalankan tugas mu padaku, karena ayah ku sudah memberikan tanggung jawab itu pada mu mas," kata Feby yang mengulurkan tangannya pada Wawan.


"aku sangat serakah Feby, sekali menginginkan seorang wanita, aku tak akan melepaskannya lagi, selain maut yang memisahkan ku dengannya," kata Wawan tegas.

__ADS_1


"kalau begitu buatlah hidup bahagia dengan wanita ini, tak perlu hidup kata, asal bahagia saja itu sudah cukup," kata Feby yang tersenyum kearah Wawan.


__ADS_2