
kini Hardi bersiap mengendong istrinya yang sedang terlelap dalam tidurnya.
"baiklah, bismillah mau pindahin ayang," gumamnya dengan sedikit senyuman.
Tapi dia sangat terkejut, karena berat badan istrinya itu tetap saja tak seberat Vina, entahlah apa yang salah.
"apa aku kurang memberimu makan sayang?" gumam Hardi.
tapi Hana yang terlanjur lelap tak mungkin menjawab, setelah menidurkan istrinya di ranjang.
Malah membuat Hana terbangun, "mas..." lirih wanita itu.
"kenapa sayang, sudah tidur yuk, mas ada di sini," bisik Hardi.
"mas gak minta jatah?" tanya Hana yang menawarkan dirinya.
"ah sayang, malam ini tidak dulu ya, sudah tidur saja kamu sepertinya sangat lelah," bisik Hardi yang mengusap punggung istrinya itu agar tertidur pulas.
keesokan harinya, seperti biasa Hana bangun dengan rambut setengah basah.
Ya tadi setelah sholat subuh mereka melakukan sebentar, kata Hardi celup celup manja saja.
Hana memasak semur lidah hari ini karena dia ingin makan itu, tentu dia membuat urap kenikir juga.
Vina yang melihat menu hari ini pun tiba-tiba mau membawa bekal, "mbak aku boleh bawa bekal gak, karena aku latihan nanti cukup berat,"
"tentu dek," jawab wanita itu.
Hana mengambil tempat bekal batu yang dia beli, dan itu persis dengan kesukaan Vina.
dia membuat semua masakan kedalam tempat itu, dan setelah itu memastikan Vina tak lupa membawanya.
Dia juga menyiapkan untuk suaminya karena siang nanti, Hardi akan pergi ke luar kota untuk mengambil beberapa hal.
setelah sarapan, mereka semua pun berpisah untuk pergi ke tempat kerja atau sekolah.
Pagi ini Vina berangkat dengan Hana karena motornya sedang ada di bengkel.
"mbak ini gak papa kita berangkat bareng begini?"
__ADS_1
"tak masalah, lagu pula siapa yang melarang, oh ya nanti titip bekal untuk Feby juga ya,karena beberapa hari ini ibu ku bilang, dia sedang melakukan diet ekstrim," kata Hana.
"siap mbak," jawab Vina yang turun dari mobil.
Hana juga turun dan langsung menuju ke ruangannya, dia tak menyangka akan benar-benar menikmati hidupnya dengan damai saat ini.
Di rumah Syam dan keluarganya, Leli sudah tak bisa tahan lagi, jadi pagi ini dia mengajak suaminya itu tinggal di rumah keluarganya.
"kenapa kamu ingin kita tinggal di pelosok desa seperti itu, aku tak menyukainya,"bantah Dimas.
"kenapa mas, kita juga tidak tinggal bersama orang tuaku, melainkan tinggal di rumah kakek nenek ku yang sudah kosong, jadi tak usah takut jika kamu tak mau bekerja," kata Leli mencoba membujuk suaminya itu.
"tidak mau, aku mau disini dan jika kamu tak mau kamu bisa pulang sendiri ke rumah orang tua mu," marah Dimas yang mendorong istrinya begitu saja
Leli tak menyangka jika suaminya itu begitu egois, dia hanya bisa menangis sedih karena dia tak akan bisa lepas sekarang.
Sedang pak Syam yang mengetahui menantunya itu ingin meninggalkan rumahnya pun tak suka.
Dia masuk kedalam kamarnya dan melihat istrinya bu Rina sedang mengenakan celana pendek dan kaos oblong.
"apa masih pantas?" tanya Bu Rina pada suaminya itu.
"memang apa yang penting, apa aku sudah tak menarik?" tanya Bu Rina.
"bukan tidak menarik sayang,aku ingin kamu tak kalah dengan para wanita muda itu, dan buat itu semakin singset mengerti kan," kata pak Syam yang akan membuat istrinya itu sibuk.
"baiklah aku mengerti," kata Bu Rina yang akan mengikuti perintah suaminya itu.
"baiklah siang nanti tak usah membawakan makan siang oke, kamu bisa ke gym, lagi pula toko juga banyak orang yang membantu," kata pak Syam.
"baiklah sayang, kamu bisa makan apapun tapi jangan nasi Padang, karena itu tak baik untuk mu, ingat bersantan oke," kata Bu Rina.
"tentu sayang," jawab pak Syam yang memeluk istrinya itu.
Dan mulai hari ini dia bisa bebas dan tak harus was-was karena kedatangan istrinya ke toko.
Pago itu setelah sarapan, semua sudah pergi dengan aktifitas masing-masing, dan putra Leli di titipkan pada seseorang yang dapat di percaya.
Karena ibu mertuanya sibuk dan. Dimas juga jarang mau mengurus putranya begitupun dengan Leni.
__ADS_1
Leli sudah datang dan membantu beberapa orang berberes barang dagangan, tapi baru juga jam delapan toko sangat ramai
terlebih mulai hari ini toko akan tutup jam tiga sore untuk pelayanan pembeli, tapi bongkar sampai malam itupun yang menjadi pengawas Leli dan pak Syam
seperti hari ini, setelah pukul tiga toko sangat sepi dan sekarang Leli menata dan mencatat semua pembukuan agar tak repot saat akhir bulan.
Dia tak tak cemas karena ayah mertuanya sedang berada di gudang karena bongkar gila dan bawang putih.
setelah beberapa waktu, pukul empat sore kegiatannya selesai, pak Syam datang memberikan catatan bongkar.
"aku catat sekalian ya ayah," kata Leli yang langsung mencatatnya.
Pak Syam pun memilih keluar untuk mengambil minum dan setelah itu, dia melihat menantunya itu sedang merenggangkan badannya.
Melihat itu pak Syam pun langsung mendorong menantunya itu dan menindihnya.
"apa ayah, tolong jangan lakukan lagi, aku tak mau menyakiti ibu mertua dan suamiku," kata Leli.
"kamu harus di hukum karena mau pergi di rumah ku, jadi tetaplah tinggal di sana dan tenang, jangan berani untuk melarikan diri lagi, mengerti," kata pak Syam yang tak bisa di jawab Leli karena dia merasakan sesuatu yang memasukinya dengan paksa.
Dia pun hanya bisa pasrah dan tak melawan jika tidak dia bisa di siksa lebih parah lagi.
pukul tujuh malam,Leli dan pak Syam baru pulang, dan mereka sudah dapat pandangan tajam.
"ada apa, kalian seperti tak pernah melihat orang lembur," kata pak Syam.
"gak kok yah, aneh saja karena hanya kalian berdua yang lembur," kata Leni.
"menurut mu karena siapa ayah harus lembur berdua dengan Leli, jika ibu mu memperbolehkan ayah membayar lebih untuk karyawan agar bisa lembur, tentu pekerjaannya akan sangat cepat selesai bukan," kata pak Syam yang membuat Leni jika ibunya ini memang sangat pelit.
"tapi hari ini kamu aneh, tumben di rumah, biasanya sudah hilang tak tau dimana?" tanya pak Syam pada putrinya itu.
"aku sedang malas keluar," jawab Leni.
"tumben-tumbenan," saut Dimas.
Pria itu bahkan seperti tak peduli pada istrinya,bahkan Leli setelah mandi baru bisa menjemput putranya.
Untunglah yang di titipi putranya itu sangat baik dan tak masalah jika bocah itu di titipkan padanya hingga sore hari.
__ADS_1