Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
acara di desa


__ADS_3

Malam itu Hardi mengusap rambut istri yang sudah terlelap karena lelah setelah di hajar oleh Hardi tanpa ampun.


sebuah pesan masuk kedalam ponsel pria itu, dan dia melihat pesan dari siapa kok malam-malam sibuk mengirim pesan begini.


Ternyata itu lurah Aris lagi, dia pun membalasnya dengan sedikit dan padat.


"apa?" balas Hardi.


"kebaia ketus begini, aku cuma ingin mengajak mu untuk mengisi seminar untuk membantu ibu-ibu membuka usaha apa mau,"


"lurah edan, aku itu juragan beras dan pemilik sawah bukan pebisnis waralaba,cari yang lain sana," kesal Hardi yang meletakkan ponselnya itu.


Sebenarnya Aris hanya menggoda pria itu, karena dia tau jika Hardi tak suka di ganggu setelah pukul sembilan malam.


Helmi heran melihat suaminya yang senyum-senyum sendiri, "mas bertukar pesan dengan siapa?"


"ah ini sayang tidak ada, aku hanya mengirimkan pesan pada Hardi, sudah kamu istirahat saja kan Minggu depan ada pelatihan untuk ibu PKK,"


"Iya mas, tapi bisakah aku minta ini sayang,"bisik Helmi mulai mencium leher suaminya itu.


Aris pun dengan senang hati memberikan apa yang di inginkan oleh wanita itu.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka selesai dan Helmi tertidur lelap, sedang Aris bangkit karena lapar.

__ADS_1


Dia membuka kulkas dan menemukan nasi goreng yang tadi sore sudah di simpan di sand.


jadi dia tinggal menghangatkan saja, dan juga menggoreng sosis dan ayam untuk menambahkan lauk.


Sedang di rumah Hardi, pria itu juga bangun dan menemukan bakso di kulkas.


Dan memutuskan untuk menikmatinya sambil menonton bola yang sedang tayang.


Bahkan kue bolu dan pisang pun di nikmati hingga dia kenyang. Tapi ujung-ujungnya malah dia ketiduran karena lelah.


sudah empat hari berlalu, pagi ini Hana sudah bersiap untuk pergi tapi tidak naik kereta.


Karena suaminya itu ingin mengantarkan istrinya itu karena sekalian ingin bertemu dengan teman-temannya di fakultas.


Dia duduk di kap mobil miliknya dengan santai. Saat pukul setengah delapan dua orang pria keluar dari kos-kosan itu.


"dancok, Ket mau di telpon ra kenek, mati awak mu cung," kata Hardi.


"lambe mu pek, kapan teko tak pikir wes rak ileng Karo koncone Iki," kata Bagus pada temannya itu.


"ya gak mungkin dong, aku mampir karena kebetulan antar istri pelatihan di sini,kalian mau kemana nih kok sudah ganteng saja,"


"kebetulan kdmu di sini, ke kampus yuk,ada acara anak-anak, sekalian ketemu beberapa dosen kesayangan yuk,"

__ADS_1


"oke, baik gih, kita berangkat Andi dan Rizal gak ikut?"


"tidak karena mereka sedang sibuk di luar kota," jawab Wasis.


"oke," kata Hardi yang mengendarai mobilnya ke arah kampus lamanya.


ternyata benar, ada festival di sana karena ada acara untuk perayaan ulang tahun kampus.


Baru juga masuk, tiga pria itu sudah di kenali oleh para mahasiswi dan para dosen.


terlebih Hardi yang dulu punya julukan sang pangeran kampus.


Mereka berkeliling untuk melihat-lihat, dan Hardi tiba-tiba melihat rujak buah kok jadi ngiler.


"aku minta rujak buahnya satu porsi dong tapi minta sendok dan langsung campur aja,"


"iya mas, lima belas ribu,"


"ini uangnya,terima kasih," kata Hardi.


Dan saat berkeliling semua tampak enak, tapi Hardi fokus pada rujak buahnya.


"kamu tau Hardi, kamu aneh ya, baru kali ini loh kamu begitu menyukai rujak seperti ini,"

__ADS_1


"entahlah pingin saja," jawab pria itu.


__ADS_2