
Bu Sonya kembali ke rumah keluarga Hardi, dia masih teringat dengan ucapan Wawan.
Tapi dia tak ingin membuat suaminya itu marah, jadi dia memutuskan untuk diam saja, karena bisa dalam masalah besar jika sampai suaminya itu membuat perhitungan dengan Wawan.
Sedang Feby masih merasa aneh dengan ucapan dari Wawan,yang tiba-tiba mengucapkan hal seperti itu.
Tapi dia tak enak untuk bertanya, dan sore itu keluarga dari Ibra pun pamit pulang dan berharap saat hari kelulusan nanti, mereka bisa datang untuk melamar Feby.
"kalian berdua istirahat, bukankah besok akan pergi ke tempat wisata," kata Hana pada dia adiknya.
"iya mbak,tapi aku harus beli obat dulu, aku pergi dulu ya," kata Feby yang ingin pergi.
"tidak usah, kalian istirahat saja lagi pula mbak sudah menyediakan semua di kotak obat jadi kalian tinggal mengambil apa yang kalian butuhkan," kata Hana.
"baiklah mbak," jawab Vina dan Feby.
Tapi Feby merasa jika kondisi Wawan pasti tak akan baik-baik saja, jadi dia memutuskan untuk memberitahu tentang itu pada Hardi.
Vina sudah masuk kedalam kamar miliknya, "mas boleh aku bicara sebentar," tanya Feby dengan sedikit takut.
"silahkan Feby, kamu ada yang di butuhkan lagi, seperti camilan mas bisa belikan," kata Hardi yang memang tak membedakan adiknya dengan adik iparnya.
"tidak ada mas, camilan ku masih banyak, terlebih aku juga banyak membeli makanan Frozen juga, tapi ini tentang cak Wawan, sepertinya dia mengalami masalah, karena tadi dia tampak marah pada Tante Sonya, seperti ada hubungan rumit, dan aku merasa tak enak jika harus ikut campur, tapi aku merasa khawatir karena cak Wawan sangat marah dan takutnya dia melakukan hal buruk," kata Feby dengan lirih.
"kenapa kamu begitu peduli padaku, toh dia hanya bawahan ku," tanya Hardi yang merasa aneh.
"aku tak punya apapun, tapi hanya merasa jika dia pria baik dan sering sekali menolong ku," jawab Feby.
"baiklah aku akan melihatnya, dan ingat ini Feby, kamu dan Wawan itu terpaut dua belas tahun, jangan sampai kamu menyesal nantinya," kata Hardi yang mengambil kunci motor CBR miliknya.
"aku hanya menghawatirkan dirinya, bukan jatuh cinta padanya mas," bantah Feby.
"karena cinta bisa berasal dari kepedulian atau rasa bersalah Feby, jadi jangan sampai kamu menyesal seperti yang ku alami dulu," kata Hardi yang langsung ke arah dapur untuk berpamitan pada Hana.
__ADS_1
"sayang aku keluar sebentar," suara Hardi yang menggema di rumah.
Sedang Feby terdiam tak bergerak dari tempatnya duduk, dia seperti sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.
Hardi menuju ke rumah Wawan, dan saat sampai dia melihat Wawan yang sedang duduk sendirian di teras
"jangan melamun, kamu seharusnya pergi istirahat wan, ingat besok tugas mu mengawal dua adik ku," kata Hardi.
"iya bos tenang saja," jawab pria itu tampak tersenyum.
"kamu ada masalah," tanya Hardi.
"tidak ada kok bos, hanya teringat masa lalu sedikit,"
"pasti kamu sedang merindukan istri mu ya, doakan saja, dan jangan membuat orang lain khawatir,"
Wawan menoleh karena heran mendengarnya, "apa maksudnya bos,orang lain khawatir,siapa yang akan menghawatirkan seorang pekerja kasar seperti ku ini," kata Wawan dengan tertawa mengejek dirinya sendiri.
"ah mbak Feby, dia terlalu perhatian pada orang di sekitarnya dan sering lupa dengan kebahagiaannya sendiri," jawab Wawan.
"kamu tak nyambung wan, sudah kapan tanah ku kamu ambil ya kali aku yang harus mengurusnya juga," kata Hardi dengan kesal.
"ayolah bos, aku sedang tak ingin mengurus tanah ku itu,sudah membuat ku pusing dengan menjadi orang kepercayaan mu," kata Wawan
"kamu gila, itu kamu tau ada tiga sawah dengan banon lima ratus bata di tempat ku, ya setidaknya kamu bisa menabung untuk memulai hidup baru ku,ingat kamu tak mungkin selamanya menjadi sendiri bukan," kesal Hardi.
"alah bos janganlah begitu, aku bisa menabung dari gaji yang aku dapat,dan uang sewa tahunan dari sawah itu juga, dan lagi siapa yang mau menikah dengan pria kasar, jelek dan seorang anak buangan dari kecil ini," kata Wawan yang tersenyum perih sekarang
"kamu tak tau jodoh dari Allah wan,sudah jangan mengatakan hal gila lagi, oh ya aku kesini ingin memberikan mu uang saku untuk besok," ku ata Hardi yang memang selalu baik pada anak buahnya.
Di sisi lain, Vina sedang mempersiapkan beberapa hal di kamarnya.
tapi dia merasa aneh karena Feby dari tadi tampak duduk diam saja menatap ke arah luar jendela
__ADS_1
"kamu bisa cerita padaku, apa ada masalah,atau kamu keberatan dengan lamaran tadi?" tanya Vina.
"aku mau bilang apa, awalnya aku yakin dengan mas Ibra, tapi sekarang aku merasa jika pria itu tak sebaik yang terlihat," kata Feby.
"kamu bisa menolak lamaran itu, sejujurnya aku juga mulai merasa jika mas Amir berubah, dan aku juga ragu jika dia pria yang baik," kata Vina yang mengejutkan Feby.
"apa Vina, tapi kita tau dan mengenal mas Amir, kita semua tau jika dia selalu memprioritaskan dirimu, bahkan dia sangat menjaga agamanya agar bisa menjadi imam yang baik untuk mu," kata Feby.
"hei kenapa kamu seakan masih menyukaimu, aku bisa melepaskannya jika kamu masih mencintainya," kata Vina tertawa.
"tidak mungkin itu terjadi Vina, apa kamu bisa menikahi pria yang sudah menghina mu dengan buruk, bahkan jika aku mengingatnya aku merasa jika aku akan jadi wanita tersakiti jika memaksa hal itu, itulah kenapa aku mencari jodoh lain, tapi ternyata aku selalu buruk dalam urusan cinta," kata Feby panjang
Vina hanya diam, dia tau jika memang hal itu memang benar, sebenarnya dia merasa begitu beruntung.
Tapi kadang-kadang rasa bosan itu datang saat Amir terlalu banyak menunjukkan cinta padanya.
kedua gadis itu sudah menyiapkan baju mereka yang akan di bawa, dan malam itu keduanya tidur lebih awal.
Sedang di samping sebuah rumah, sedang membakar sesuatu yang dia harus mulai menata hidupnya lagi.
Setelah semua barang-barang itu hangus terbakar dia pun menimbun bekas pembakaran itu dan memilih istirahat.
Sedang Hardi di dalam kamarnya tampak berpikir keras,bahkan sampai Hana masuk pun tak di gubrisnya.
"ada apa sayang, hingga membuatmu terpaku seperti ini?" tanya Hana yang duduk di pangkuan suaminya itu sambil mencium leher Hardi dengan lembut.
"sayang hentikan, kamu bisa hamil lagi jika kita melakukannya sekarang, aku sedang berpikir bagaimana cara ku menyikapi jika dua adik ku itu menikahi pria yang punya ekonomi yang kurang," kata Hardi mencoba memancing istrinya itu.
"kalau untuk Feby, dia mungkin akan bertahan dan kita bisa membantunya dengan membukakan toko kue, karena dia suka hal itu, dan orang tua ku tak akan menolaknya asalkan pria itu sempurna dalam agama dan punya perilaku baik, dan harus memperlakukan adik ku itu seperti ratu,"kata Hana yang membuat Hardi tersenyum
"jika itu Vina, mungkin aku akan menolak, atau bahkan mungkin memberikan dia modal besar agar adikku itu tak hidup susah,"
"tapi kamu bisa melukai harga diri dan ego dari suami Vina jika melakukan itu, jadi tolong jangan lakukan hal yang membuat semua makin rumit,"jawab Hana bijak.
__ADS_1