
Meski berada di Surabaya, kota besar di banding desa lamanya, dan kebebasan yang sangat sempurna.
Itu tak membuat Vina sedih atau merasa bagaimana-bagaimana, karena dia tau jika kakaknya itu tak akan membiarkan dia bebas seenaknya.
Bahkan dia ingat bagaimana saat Hardi tau dia melepaskan jilbabnya dan berpenampilan cantik dengan rambut pendek.
"kamu sedang Ais, ku kira sedang belajar," kata Hima yang duduk di samping temannya itu.
"aku sudah menyelesaikan tugas ku, dan sedang bertukar pesan dengan feby, dia sangat bahagia menjadi seorang istri dan juga mahasiswi secara bersamaan, padahal menurut ku itu merepotkan," kata Vina.
"ya namanya juga pernikahan itu berbeda-beda dalam menjalani kehidupan, tapi aku memang percaya jika kakak sepupu ku memdng sangat manja, terlebih aku baru tau jika dia juga sangat mencintai Feby," kata Hima yang memang tak percaya dengan semuanya.
"ya, beruntung Feby mendapatkan orang yang tepat, dan aku dengar cak Wawan juga akan mencalonkan diri menjadi lurah, dan jika sampai menang, sudah pasti Feby akan sangat sibuk,"
"tapi sepertinya berat,karena musuhnya itu lurah yang sudah dua kali menjabat bukan,"
"ya takdir seseorang tak ada yang tau," jawab Vina.
"ya kamu benar, ya Tuhan tidak tidur, mungkin ini jawaban dari doa Feby, dia yang selalu mendapatkan hinaan dari salah seorang pemuda yang tampak alim nyatanya kelakuannya setan, ya aku juga ingin segera mendengar kabar baik dari mereka," kata Vina yang berharap semua yang baik untuk temannya itu.
saat sedang santai seperti itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan kos, dan turunlah seorang pria yang mungkin seumuran dengan Hardi.
Pria itu tersenyum ramah, dan tentu saja Vina mengenal pria itu, "apa kabar mas Wasis," sapanya dengan sopan
sedang Hima di buat kagum melihat sosok pria itu, pasalnya Wasis ini adalah pria idamannya dari segi mana pun.
"baik dek, aku punya sedikit kue untuk mu,di makan ya, sudah mas pulang dulu," kata Wasis yang nendng sengaja datang mengantar kue itu saja.
"lah, gak mampir dulu,"
"tidak usah,oh iya aku ingat jika Minggu lusa aku akan main ke desa mu, mau ikut sekalian, biar hemat ongkos," tawar Wasis.
"em boleh deh, aku juga kangen si kembar," jawab Vina yang membuat Wasis tersenyum dan mengacak rambut gadis itu sebelum pergi.
Dan tanpa terduga, Vina mengambil tangan Wasis dan menciumnya, "hati hati ya mas,"
"ya.." jawabnya yang langsung meninggalkan kos itu.
__ADS_1
Hima pun mendekati Vina, "siapa Vina, dia ganteng loh, apa sugar Daddy mu,"
"mulutnya, dia itu sahabat kakak ku, dan Minggu lusa aku mau pulang sama dia, lumayan kan hemat ongkos," kata Vina tertawa sambil membawa kue ke dalam kos.
"ya sayang banget aku tak bisa pulang," kata Hima sedih.
"ya kasihan deh," kata Vina menggoda temannya itu.
Sedang di desa, lurah Aris sedang duduk santai bersama Helmi, "mas kenapa?" tanya wanita itu yang melihat suaminya seperti sangat sedih.
"jujur saja sayang, aku sedih karena sebentar lagi pemilihan, bukan karena aku akan melepaskan jabatan ku, melainkan karena aku merasa pengabdian ku pada desa ini belum membawa banyak perubahan," kata pria itu.
"ya kita tidak mungkin bisa membawa desa ini maju semudah itu, yang penting siapapun yang jadi lurah nantinya, dia harus punya tanggung jawab, dan untuk mu mas, harus fokus pada ku dan satria, jadi jangan sedih lagi ya, karena aku juga ingin di perhatikan oleh suamiku ini," kata Helmi yang memang sangat menunggu pelukan suaminya itu.
"maafkan aku yang selama ini kurang memperhatikan dirimu, dan aku janji jika aku sudah selesai, aku akan selalu menjadi suami yang menempel pada istrinya," kata lurah Aris yang membuat Helmi tertawa.
Keduanya sudah hidup baik meski Helmi belum mengandung lagi setelah kejadian buruk yang merenggut calon anak mereka.
Tak terasa hari berganti, Minggu pukul lima pagi,Wasis datang menjemput Vina di kosnya.
"apa kamu menunggu lama?" tanya Wasis yang turun dari mobil.
Ternyata mereka tak hanya berdua, ada teman-teman Wasis yang lain, dan mereka pulang dengan iring-iringan tiga mobil.
Perjalanan cukup lancar karena mereka melewati jalan tol, tapi malah terjebak macet saat memasuki gapura desa.
"ah sepertinya ada jalan sehat," gumam Wasis.
Vina menurunkan kaca mobil, "permisi pak Sardi, boleh bantu kamu bisa lewat," panggil Vina pada pria yang kebetulan andk buah Hardi.
"oh siap non," jawab pria itu.
"gampang, sudah di urus sama orang mas Hardi," kata Vina yang membuat Wasis tersenyum.
Dan ternyata benar, Hardi memang memiliki kuasa di desa itu, tapi sayang baru juga jalan tak jauh.
Tiba-tiba Wawan yang menghadang mobil Wasis dan rombongan, melihat itu Vina kesal dan langsung turun
__ADS_1
"ya!!! Kamu mau mati kebwia berdiri di depan mobil," teriakan gadis itu mengejutkan Wawan.
"wah setelah di kota semakin tak sopan rupanya, jika mau lewat tuntun tuh mobil," kesal Wawan.
"di pikir becak apa, kasih jalan sedikit lah ku mohon, mereka semua teman mas Hardi, om om menyebalkan," kata Vina yang selalu saja bersitegang dengan Wawan.
"kasih jalan, tamu bos," kata Wawan yang membuat semua panitia pelaksana menurut.
Wasis pun tertawa geli, begitu pun dengan Bagas yang ada di jok belakang.
"siapa dia?" tanya Bagas penasaran karena berhasil membuat Vina marah, dan gadis itu tak bisa melawan.
"dia itu suami dari adik ipar dari mas Hardi, dan dia juga orang kepercayaan dari mas Hardi, di tambah dia juga calon lurah," kata Vina kesal.
"wah tapi kenapa tampangnya seperti preman begitu,"
"kalau aku jadi kamu, aku tak akan ingin berurusan dengan dia," kata Wasis yang memdng pernah mengenal sosok Wawan di masa lalu.
"apa dia itu mengerikan?"
"kata itu kurang tepat, lebih tepat jika berdarah dingin dan tak kenal ampun saat hidup keras di kota dulu," kata Wasis yang mengendarai mobilnya dengan pelan.
Akhirnya mereka sampai di rumah besar milik Hardi, dan ternyata acara jalan sehat tak jauh dari rumah pria itu.
"sepertinya itu di buat untuk merayakan hari pernikahan orang tua kami," kata Vina yang turun dari mobil.
Dan ternyata Hardi dan Hana sendiri yang langsung menyambut kedatangan mereka.
"selamat datang,maaf meminta mu memberi tumpangan pada Vina," kata Hardi menyapa Wasis dan Bagas.
"tak masalah, dia juga sudah seperti adikku," jawab Wasis.
"aduh dek, kamu makin cantik saja,"
"terima kasih mbak,mana di kembar," tanya Vina merindukan dua keponakannya itu.
"mereka ikut jalan sehat bersama orang tuaku dan Feby," jawab Hana.
__ADS_1
"ya...."