Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
wanita baik itu


__ADS_3

Wawan keluar dari super market membawa belanjaan sebanyak dua tas, karena pria itu membeli dua kantong beras, minyak goreng, gula, kopi, dan kebutuhan sembako yang lain juga.


Dia melihat istrinya sedang membagikan beberapa peyek pada orang-orang yang lewat.


"sayang..." panggil Wawan.


"iya mas," jawab Feby yang menyelesaikan kegiatannya dan duduk di samping Mbah penjual peyek, dan Wawan menaruh belanjaan itu juga.


"Mbah ini ada sembako untuk Mbah, di bawa pulang ya, dan ini uang untuk peyeknya ya," kata Feby memberikan uang satu juta pada wanita tua itu.


"kok akeh nduk, kakean Iki."


"rezeki dari Allah Mbah, jangan di tolak ya, dan tolong di terima ya," kata Feby.


"Alhamdulillah ya Allah..." kata wanita itu memeluk Feby.


"Mbah rumahnya di mana?" tanya Wawan yang merasa kasihan juga.


"rumahnya di prambon gang dua," jawab wanita itu yang membuat Wawan kaget.


"mbah itu sangat jauh,"


"kan Mbah di jemput tiga hari sekali,baru pulang jadi sekarang Mbah bisa naik angkot,"


"tidak usah Mbah,biar saya antar," kata Wawan yang membawakan semua barang milik wanita itu.


wanita itu tak menyangka, jika dia bertemu dengan orang yang baik seperti ini.


Mobil Wawan menuju ke rumah wanita itu, dan saat sampai di daerah prambon, Wawan bingung karena bukannya pulang.


si Mbah ini malah berhenti di tempat produksi peyek,"loh Mbah kok tidak pulang,"


"saya harus setor dulu nak," jawab wanita itu yang di bantu Wawan turun


Feby menemani si Mbah untuk setor uang peyek, dan ternyata Feby baru tau jika harus setor tiga ratus tujuh puluh lima ribu, dan lima puluh ribu sebagai ongkos mengantar dan menjemput.


Saat Feby kembali ke dalam mobil setelah membantu si Mbah, dia tak bisa menahan air matanya.


Wawan tau jika istrinya itu sangat sensitif terhadap keadaan yang seperti ini

__ADS_1


"ada apa sayang,"


"gak mas, nanti saja sekarang antar Mbahnya dulu yuk," kata Feby yang membuat Wawan segera mengantarkan wanita itu


Mereka sampai di sebuah tanah lapangan sepak bola, setelah parkir di sana, ternyata mereka harus melewati tembok sempit untuk masuk kedalam rumah nenek.


"Mbah sekarang anda istirahat ya," kata Wawan menaruh barang-barang yang tadi di belikan dan dia menambahkan sedikit uang untuk pegangan.


Feby terus menangis sambil memeluk wanita sepuh itu,"terima kasih ya nak, semoga keluarga kalian selalu sakinah mawadah warahmah, dan punya banyak anak ya,"


"aamiin.." jawab Feby dan Wawan yang pamit.


Feby tak bisa menahan diri lagi, dia menangis di pelukan Wawan selama di dalam mobil.


"ada apa dek, kenapa kamu seperti ini, bilang dek,"


"Mbahnya di pecat, itulah kenapa tadi si Mbah bingung karena belum di jemput, ternyata si Mbah ini sudah lima hari di sana, dan dia tak tau hati,bahkan pemilik pabrik juga menghentikan si Mbah tak boleh ikut jualan lagi karena si Mbah sering tak bisa menjual peyek sesuai ketentuan," jawab Feby.


"ya sudah nanti kalau ada rezeki kita datang kesini lagi ya," kata Wawan yang membuat Feby mengangguk.


Akhirnya mereka pulang dan tak lewat tol, tentu saja cepat sampai karena jalanan cukup sepi.


Baru dia mengendong istrinya itu dan menidurkannya di kamar, Feby sepertinya lelah karena terus menangis.


Setelah itu dia berganti baju dan memilih merebahkan dirinya di samping istrinya.


keesokan harinya,Feby tidak bisa melihat karena matanya bengkak cukup parah.


"kan kamu kebanyakan menangis," kata Wawan yang sudah mengambil nasi.


bahkan tadi saja dia yang memasak karena istrinya mengompres wajahnya agar sedikit kempes.


"habis para orang itu tega sekali dengan wanita sepuh seperti itu, seandainya kita tak menolongnya, mungkin beliau tak akan pernah pulang,"


"sudah jika kita tak ada, aku yakin pasti akan ada orang baik lain yang menolongnya,"


Wawan menyuapi Feby, setelah sarapan keduanya berangkat, Wawan akan mengantar feby dulu mengunakan motor miliknya yang tampak sederhana.


Saat turun dari motor, Feby langsung mencium tangan Wawan bolak balik, dan kemudian pamit masuk.

__ADS_1


Sedang Wawan harus menunggu empat orang yang akan menjadi orangnya selama dia berdiri sendiri.


Dan guntur tak menyangka akan bekerja jujur bersama bos besarnya.


mobil yang mereka sewa sudah samiai di pekarangan rumah yang akan mereka berempat gunakan.


Terlihat Wawan sudah ada di sana sambil bersih-bersih, mobil itu pergi setelah keempatnya turun.


"selamat pagi bos," sapa keempatnya.


"iya, sekarang masuk dan tata barang kalian, setelah itu sarapan dulu dan nanti aku akan memperkenalkan kalian pada tempat yang akdn menjadi lokasi kalian bekerja," kata Wawan.


setelah sarapan, mereka pun berangkat ke toko sembako yang ternyata cukup besar, Yudi dan Pras di perkenalkan di sana dan dapat sambutan baik


sedang Yudi di bengkel las dan Loki di peternakan serta kolam lele, sedang untuk semua sawah tetap di pegang Wawan sendiri.


sedang usaha di kota sudah ada yang mengurus juga jadi tak perlu bingung lagi


Hardi sebenarnya sedikit kerepotan saat Wawan di pecat begini.


Tapi semua demi pria itu bisa berkembang, tapi dia tak perlu takut karena dia juga punya banyak orang kepercayaan yang tak kalah jujur dan penuh tanggung jawab seperti Wawan di pihaknya.


di kampus, Vivi dan Nita heran melihat sosok Feby yang memakai kacamata.


"apa kamu di aniaya suami mu," tanya Nita yang melihat mata bengkak Feby yang tak bisa di tutupi.


"tidak bukan begitu, aku semalam ketemu mbah-mbah yang kasihan, aku nangis karena kondisinya, eh pas bangun udah gini, Suamiku tak mungkin melukaiku, orang aku tertusuk jarum saja dia panik," jawab Aina.


"aduh jadi pingin kawin nih,"


"main kawin-kawin aja, nikah yuk yang bener, tapi sebelum itu calon dulu pengantin prianya, tak bisa dong kamu nikah sama foto cards Kim Soekjin kesayangan mu itu," kata Nita mengeplak kepala Vivi.


"ya gak papa dong, setidaknya kan punya pacar idaman, timbang kamu suka kok sama Sylvester Stallone, udah tua keles," bantah Vivi


"kamu tau gak namanya itu makin tua makin Maco dan sexy, belum lagi tubuhnya yang berotot, mampus gak tuh bikin meleleh tau..." kata Nita heboh.


"tapi tua!" kata Vivi dengan keras.


Feby hanya bisa tersenyum melihat pertengkaran antara dua orang itu, pasalnya tak ada yang mau ngalah sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2