
beruntung, kejaksaan mengizinkan Wawan untuk keluar demi menikahi Feby.
Sedang di rumah sakit, Feby juga sudah di bawa ke ruangan khusus atas permintaan dari Hardi.
"jadi kapan dia akan datang," kata pak Sodikin yang tampak gugup.
"sepertinya sedang terkendala sesuatu, tapi tenangkan dirimu pak, saya yakin jika Semuanya akan baik-baik saja," kata Hardi yang merasa khawatir juga.
Akhirnya para rombongan dari Wawan dan para penjaga dari pihak kepolisian datang.
Wawan sudah mengenakan kemeja putih dengan celana panjang berbahan kain hitam.
saat memasuki lorong rumah sakit menuju ke ruangan Feby, Hardi menyambutnya dengan pelukan.
"kenapa kamu bisa menjadi seperti ini,"
"aku baik-baik saja, apa kondisinya sangat buruk," tanya Wawan.
"ya begitulah, dia masih belum bisa bangun," jawab Hardi.
Wawan pun langsung berlutut di depan pak Sodikin, "ada apa nak Wawan," kata pria itu terkejut.
"maafkan aku pak, seharusnya aku tak membuat Feby dalam kondisi seperti ini jika aku membereskan masalah waktu itu sendiri," jawab Wawan merasa bersalah
"semuanya sudah takdir nak, aku mengenal jelas putriku," kata pak sodikin yang memeluk Wawan.
Bu Sodikin keluar dan memberikan kopiah hitam pada Wawan, "aku tak tau ini benar atau tidak, tapi aku mohon tolong jaga Feby dan buat dia bahagia, padahal ibu baru beberapa hari melihat senyumnya kembali, terutama saat bicara pada mu saat ulang tahun Hana," kata Bu Sodikin.
Akhirnya mereka semua masuk kedalam ruangan itu dengan mengunakan baju steril.
Dan di samping Feby yang masih betah dalam kondisinya yang tak mau membuka mata.
Wawan akhirnya mengucapkan ijab kabul dengan pak Sodikin menjadi walinya secara langsung.
"bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu.
__ADS_1
"sah!" jawab semua orang.
Hana tak sengaja melihat tetesan air mata di ujung mata adiknya, entahlah dia bahagia atau sedih.
"sekarang tolong cium kening istrimu, dan bisikkan kata yang mungkin bisa membuatnya segera bangun,atau apapun yang ingin kamu ucapkan," kata Hana yang merasa tak baik jika bersikap buruk pada Wawan.
Semua orang keluar dari ruangan itu, tinggal Wawan yang ada di dalam ruangan itu, dan waktunya tinggal dua jam lagi
"halo mbak Feby, sekarang aku menikahimu tanpa persetujuan mu, tapi atas restu semua orang, aku harus mulai dari mana, aku telah jatuh cinta padamu entah sejak kapan, itulah yang membuat ku selalu ingin melindungi mu, dan kebodohan ku malah membuat mu seperti ini, waktu ku di samping mu tinggal dua jam lagi,karena setelah ini aku harus kembali ke penjara, dan tiga hari lagi sidang perdana di lakukan, aku di tuduh melakukan pelecehan dan pemerk***** pada Leni, padahal itu semua tak pernah terjadi, jika memang bisa, tolong buka matamu untuk ku, setidaknya biarkan aku untuk melihat mata indah mu untuk terakhir kalinya," kata Wawan yang mengecup kening dari Feny.
Tiba-tiba mata Feby terbuka dan melihat ke arah Wawan, pria itu kaget saat melihat mata Feby melihatnya.
"kamu sadar mbak Feby, aku harus memanggil dokter," kata Wawan yang ingin berlari keluar tapi tangannya seperti di genggam.
Dia menoleh, "dokter!!" teriaknya dari dalam ruangan itu.
mendengar teriakan dari Wawan, para tim dokter langsung masuk dan memeriksa kondisi Feby.
Wawan masih mengenggam tangan istrinya itu, entahlah apa yang di pikirkan oleh Feby tapi dia untuk beberapa waktu singkat ini tak mau kehilangan Feby
"selamat ya mas," kata tim dokter yang tak menyangka akan melihat kejadian ini.
Feby tak bisa mengucapkan satu kata pun, semua orang di luar melakukan sujud syukur dan Wawan berpamitan untuk kembali ke penjara
semua masuk dan melihat Feby sudah berusaha untuk bangun, melihat itu Hana langsung memeluk adiknya dan Hardi menaikkan sebagian ranjang agar Feby bisa nyaman.
"jangan memaksakan dirimu dek, ingat kamu baru sadar," lirih Hana.
Tapi Feby tidak bisa bicara, mungkin butuh waktu untuk wanita itu bisa berbicara lagi.
Vina yang mendapatkan kabar tentang Feby langsung bergegas ke rumah sakit.
ya tadi dia di rumah karena tak setuju dengan usulan dari kakaknya yang menikahkan Feby dengan Wawan.
karena baginya, masa depan Feby akan hancur jika menikah dengan pria yang bekerja kasar dan serabutan itu.
__ADS_1
Di tambah Wawan cuma orang kepercayaan Hardi, dan sungguh tak pantas mendapatkan Feby yang sangat pintar.
Wawan tak percaya jika Feny sadar setelah menikah dengannya, dia tau jika nantinya dia harus menyiapkan kejadian terburuk jika Feby sembuh.
Seperti perceraian karena pernikahan ini adalah permintaan keluarga bukan keinginan Feby sendiri.
Di rumah dua bocah tampan itu selalu di jaga oleh dua pengasuh yang di pekerjakan.
karena kedua orang tuanya sangat sibuk di pekerjaan dan sering menjaga di rumah sakit.
tapi setelah kondisi Feby yang sudah sadar dan membaik, semua pasti akan normal kembali.
Sesampainya di penjara,Wawan kembali masuk kedalam sel miliknya bersama beberapa orang.
tak hanya itu, Wawan yang biasanya begitu murung,hari ini tampak begitu bahagia,dan dari tadi terus tersenyum ke pada semua orang.
Semua teman di dalam sel pria itu tau jika Wawan baru saja menikah, dan mungkin itu menjadi hiburan tersendiri bagi pria itu.
"jangan senyam senyum begitu, ingat tiga hari lagi kamu akan di sidangkan karena kesalahan orang lain, bukan kesalahan mu," kata salah satu penghuni sel.
"aku percaya jika Tuhan tak akdn tidur, aku akan berdoa agar aku di beri pertolongan," kata Wawan yang membuat pria itu tertawa keras.
"ha-ha-ha Tuhan mu saja tak mendengar doa mu saat kamu hancur dan di siksa di sana, kenapa Tuhan mu mau menolong mu saat ini, itu bulshit kau tau," kata pria itu.
Tapi Wawan yakin karena Feny sudah sadar dan dia pasti dkan bisa bebas, meski tak saat ini kemungkinan nanti.
Akhirnya haru persidangan pun datang, pagi itu Wawan dan beberapa terdakwa di bawa mengunakan mobil khusus tahanan menuju ke pengadilan.
saat sampai di sana terlihat Hardi dan tim pengacara sedang berdiskusi, dan tampaknya mereka tampak begitu yakin.
Tapi sejauh Wawan mencari dia tak menemukan sosok istrinya, saat mereka sudah di sebuah ruangan tunggu.
Rombongan keluarga Leni datang dengan wanita itu dalam pengamanan super ketat.
Tak boleh siapapun mendekat, Leni terus menunduk karena merasa bersalah, dan dia tak pernah berniat membuat Wawan sampai di hukum seperti ini.
__ADS_1
"kamu tegang saja, katakan sesuai yang aku perintahkan, jika tidak bayi itu dan ibu mu yang tak berguna itu mati," kata Prio.
"aku mengerti," jawab wanita itu.