
Polisi pun langsung membawa mayat pria sepuh itu ke rumah sakit untuk di otopsi, pak Pardi sudah mendapatkan pesan untuk membuat gudang tak mengalami gangguan.
sekarang Hardi harus pulang dulu karena istrinya tak boleh di luar saat menjelang Maghrib, jadi segera pulang dengan Hana.
setelah bersih-bersih, dia langsung menghubungi pak Sardi yang bersama dengan Wawan.
Ya dia harus tau sebenarnya apa yang terjadi, kenapa bisa mereka tadi hampir di hajar oleh masa.
"sudah sampai mana," tanya gadis dari sebrang telpon.
"sudah di tol Jombang bos," jawab pak Sardi yang memang duduk di kursi penumpang saat ini.
"nanti setelah menaruh mobil di gudang, langsung ke rumah, karena aku ingin mendengar semuanya dengan jelas dari kalian, mengerti,"
"baik bos," jawab pak Sardi yang tau jika ini akan jadi masalah besar, terlebih ada satu orang yang ikut bersama dengan mereka.
sesampainya di gudang, mereka sudah menaruh truk di sana, dan kini bersiap menuju ke rumah juragannya dengan mengunakan motor.
"kamu ikut membawanya sebagai bukti, atau mengatakan pulang, tapi kemungkinan bos pasti sangat marah," kata pak Sardi mengingatkan.
"kamu pulang saja, dan istirahatlah karena jika dia ikut juga akan menambah masalah kita nantinya," kata Wawan dingin.
"terima kasih, maafkan aku merepotkan kalian," kata Leni dengan sedih.
"ini adalah bantuan dari kaki yang pertama dan terakhir, jika bukan mengingat bagaimana dulu kakek mu yang selalu menolong kami, kami juga malas," kata pak Sardi.
kini kedua pria itu pergi menuju ke rumah Hardi, sedang Leni meminta jemput pada pak Syam ayah.
akhirnya dia di jemput dan sudah akan di cecar karena tiba-tiba hilang selama dua hari tanpa kabar.
Kedua orang itu sampai di rumah, dan mrlugat sosok Hardi sedang duduk santai di teras rumahnya sambil merokok.
"jadi kalian tak babak belur?" tanya Hardi santai sambil menikmati rokoknya.
Pak Sardi dan Wawan tau jika pria itu jarang merokok, dan saat tertentu saja, jika sampai Hardi merokok itu berarti semua tak dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"maafkan kamu juragan, kami mengalami sedikit insiden, karena berusaha menyelamatkan seorang gadis," kata pak Sardi.
"siapa, dan apa urusan kalian," kata Hardi bertanya karena heran.
"dia adalah Leni juragan, keponakan juragan, dia mengaku di jual oleh kekasihnya di Surabaya, dan saat dia lari dari tempat itu,beruntung dia mrligat truk kami dan menghentikannya," kata Wawan yang jujur tanpa ada kebohongan.
Pak Sardi yang kaget mendengar ucapan Wawan, bagaimana pun dia akan mencari penjelasan yang lebih halus.
"apa? Kenapa bisa," kaget Hardi.
saat itu Wawan dan pak Sardi sudah mengantarkan beras dan gula ke beberapa toko dan juga rumah makan.
"mau langsung pulang atau main dulu," kata pak Sardi.
"tidak ah,aku mau berikan perjaka ku untuk istriku," jata Wawan yang membuat pak Sardi tertawa.
"Yo wes lah sak karep mu, kita pulang sekarang," ajak pak Sardi yang naik ke truk.
Sedang di selama perjalanan menuju pulang keduanya pun berbincang santai, terlebih besok juga di berikan waktu libur untuk mengikuti acara karnaval di desa.
Tapi saat mereka akan melewati jalan yang biasa, tiba-tiba seorang wanita berlari ke depan truk mereka
"kamu gila ya!;" bentak Wawan yang belum tau dia adalah Leni.
Saat gadis itu menunjukkan wajahnya dan sedang menangis otomatis pak Sardi dan Wawan turun.
"kamu kenapa ada di sini, dan baju mu," kata pak Sardi kaget.
Wawan mengambil jaket miliknya dan memberikannya pada Leni agar tak menjadi bahan tontonan.
"tolong aku, ku di culik dari sekolah ku jenatin,dan para pria bajingan itu ingin menjual ku ke tempat hiburan malam... Tolong.. " kata Leni.
Ternyata ada tiga pemuda yang mengejar leni dan Wawan mengingat salah satu pemuda yang mengaku sebagai kekasih gadis itu.
"bangsat!!"
__ADS_1
Wawan langsung mengejar para pria itu dan menghajarnya, "berani-beraninya kalian mau menjual cucu juragan Hartono, kalian bosan hidup," marah Wawan yang benar-benar marah
Setelah itu, polisi datang dan warga pun mencoba memisahkan mereka, tapi mereka malah memutar balikkan fakta.
"tolong kami, pria gila ini menghajar kami tanpa sebab," bohong mereka.
"kalian mau mati," marah Wawan
"tenang dulu di dekat sini ada kantor polisi dan kalian bisa menyelesaikan semuanya dengan baik di sana, jika kalian bertiga tak salah, kalian harus melaporkan kekerasan ini, ayo," kata warga yang membawa ketiganya dan juga Wawan serta pak Sardi ke kantor polisi terdekat.
ternyata ketiganya ini adalah naduk daftar pencarian orang atas laporan perdagangan gadis untuk di jual sebagai wanita malam.
Dan untungnya Leni selamat berkat keinginannya kabur dan juga bertemu dengan anak buah om-nya.
Mendengar cerita itu, Hardi kesal dan merasa jika keluarga dari kakak tirinya ini sedang sangat buruk dalam memberikan pelajaran pada anak-anak mereka.
"tapi sekarang apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Hardi khawatir.
"sudah bos, dia baru mengirimkan pesan pada ku," kata Wawan.
Di rumah keluarga Leni sendiri, gadis itu juga mendapatkan pertanyaan yang sangat menyudutkannya.
"ayah kenapa begitu kasar pada ku, aku sudah bilang aku tidak kelayapan tak jelas, aku mengalami musibah," kata Leni sedih.
"musibah apa, kamu ini absk gadis tapi kerjaannya hilang dan tak jelas mau jadi apa, sudah sekarang ayah tak mau tau, mulai sekarang Dimas kamu akan mengantar jemput adik mu, jika kamu tak mau, aku akan mengusir mu dari sini," marah pak Syam.
"apa mas, kamu jangan gila begitu, bagaimana pun dia ini putramu," kata Bu Rina.
"aku tak peduli, kalian mau apa, aku capek, jika kalian tak ada yang mau ikut aturan ku, aku akan membuat kalian semua pergi meninggalkan rumah ini, mengerti," marah pak Syam yang mengebrak meja.
semua pun diam, tak ada yang berani berkomentar karena mereka sadar diri jika keluarga ini tetap ada karena pak Syam.
Hana duduk di samping suaminya sambil memeluk lengan Hardi, "jangan terlalu di pikirkan,kan cak Wawan bilang para pria brengsek itu sudah di hukum sesuai hukum negara kita,"
"ya aku mengerti sayang, tapi aku merasa jika semua sedikit menjengkelkan, kenapa tak ada yang bisa membuat ku tenang, ada saja masalah," kata Hardi kesal.
__ADS_1
"mas ini ngomong apa, namanya juga orang hidup pasti akan punya masalah, jadi sabar saja ya,"
"iya sayang,ugh... cintaku," kata Hardi memeluk istrinya.