Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
Persiapan


__ADS_3

Hardi merasa senang saat tau jika anaknya begitu sehat, dan dia sebenarnya juga sudah membicarakan sesuatu dengan mertuanya.


Ya mau bagaimana pun, dia sudah tak punya orang tua jadi untuk acara tujuh bulanan akan di urus oleh ibu mertuanya.


Dan akan di lakukan di rumahnya dengan sangat meriah, bahkan ada santunan juga, karena Hardi ingin ada doa terbaik untuk calon anaknya.


Esok paginya,semua para Tarang taruna susah sibuk membuat tumpeng yang dkdn di arak keliling kampung dalam acara lusa.


tentu saja itu bukan tumpeng makanan basah atau bisa jering dalam hitungan jam dan tentu saja Basi.


Tumpeng yang pertama kali jadi adalah tumpeng dengan mengunakan jajan ciki murah yang di jual di pasar.


sedang untuk tumpeng sayur dan tumpeng buah akan di selesaikan besok, sekalian memastikan semua berjalan baik.


Karena tiga tumpeng itu yang akan mewakili para panitia muda yang akan ikut memeriahkan acara karnaval terlebih dahulu.


Setiap rumah di mintai sumbangan Nafi kotak lima buah, untuk konsumsi para peserta karnaval.


Tapi tidak dengan Hardi yang mendapatkan permintaan spesial karena untuk mengeluarkan berkat untuk kiai yang mengisi acara pengajian malam hari.


Hana sudah berbelanja dengan ibunya, tadi setelah pulang mengajar, dia ingat di freezer box miliknya ada daging sapi yang belum di masak.


"oh ya nduk, ibu tadi kan persen daging ya, kalau di rumah ku mau di taruh mana?" tanya Bu Sodikin yang memang mempersiapkan untuk acara tujuh bulanan putrinya itu.


"ibu keneoa repot sih,bukankah lebih baik jika pesan saja,ibu bantu capek, toh mas Hardi juga tak meminta ibu memasak," jawab Hana yang tdk mau ibunya kesulitan.

__ADS_1


"apa sih kamu itu, ini ibu mu yang mau gak usah berlebihan begitu. Lagi pula nanti kalau ada saudara mu yang datang kamu mau bagaimana, sudah ibu yang atur kamu terima beres," jawab Bu Sodikin.


Hana tak bisa membantah, ternyata ibunya itu menunjukkan semua catatan tentang apa saja yang harus ada.


Hana saja pusing melihatnya karena undangannya mencapai seratus lima puluh orang dari Hardi


sedang di rumah keluarga Hani, wanita itu tampak gelisah, karena satu orang pun belum ada yang datang dari keluarganya.


"ada apa nduk? Kaku kok kayaknya begitu khawatir?" tanya ayah mertua gadis itu.


"aku hanya takut ayah, takut jika tak ada yang datang dari pihak keluarga ku, terlebih apa yang di alami ayah saat itu," kata wanita itu dengan sangat menyesal.


"sudah tenang saja, ayah yakin jika orang tua mu tak mungkin melakukan hal itu,"


Entah sudah berapa lama, tapi kandungan Hani sudah semakin besar, saat sebuah mobil berhenti di depan rumah.


Tiba-tiba turun beberapa orang yang ternyata itu adalah rombongan dari keluarga Hana.


Ya kali ini tidak hanya Helmi dan lurah Aris, tapi semua orang ikut,bahkan ayah dan ibu Hani juga.


pria itu berjalan berdampingan dengan istrinya dan melewati Hani begitu saja langsung menyapa besannya.


Ya ayah Helmi belum bisa memaafkan kesalahan Hani yang berani melemparkan kotoran padanya.


terlebih selama ini dia selalu menjunjung tinggi harga dirinya tapi dengan mudah putrinya mengotorinya dengan sangat buruk.

__ADS_1


"akhirnya kalian datang, bagaimana kabarnya?" tanya ayah Doni


"Alhamdulillah baik, apa semuanya lancar, sepertinya dia hidup enak di sini ya, terima kasih," kata ayah Helmi


melihat raut wajah Hani yang sedih, Helmi memeluk adik perempuannya itu.


"sudah meski ayah masih marah, tapi dia tetap mau kesini kan,jadi tenangkan dirimu, menangis tak baik untuk kesehatan bayimu,"


"iya mbak," jawab Hani.


mereka semua masuk kedalam rumah, terlihat Satria begitu dekat dengan ibu sambungnya Helmi.


Bahkan beberapa orang yang tak mengenal pun tak akan mengenali jika Helmi dan satria ini cuma anak tirinya.


Acara berjalan siang itu, terlihat htlmi duduk santai saja, tiba-tiba Helmi di datangi oleh ibu mertua adiknya.


"ini makanlah, ada kepercayaan kami jika kamu makdn ini kamu bisa segera ketularan, masak gak mau punya anak,"


"ucapan apa itu besan, jangan menghina putri pertama ku, aku datang kesini karena dia, jadi jaga bicaramu," kata ibu Helmi.


"tenang Bu,"


"tidak nduk, tak ada yang boleh menghina putriku terlebih itu kamu, sudah sekarang kita pergi karena sore ini kita harus selesai memasak," kata wanita sepuh itu.


Ternyata ayah Helmi juga sudah tak tahan lagi, karena berada di rumah itu jadi mereka pun pamit pulang.

__ADS_1


__ADS_2