
"apa pekerjaan ku benar mas," tanya Feby yang sedang di ruang kerja Hardi.
Ya tadi dia menyelesaikan semua laporan saat para pria itu sibuk antri mandi sebelum pulang.
"pekerjaan mu sempurna,bahkan sangat rapi, bahkan Vina saja tidak bisa serapi ini saat membantu ku," puji Hardi.
"mungkin karena Vina memang tak serius, padahal dia itu selalu sangat bagus saat di sekolah,"
"entahlah, ya nanti kalau semua orang sibuk, kamu mau datang membantu kan, ya jika libur kuliah,"
"tentu mas, dengan senang hati," jawab Feby yang tak keberatan karena itu sama saja mengamalkan ilmu yang dia dapat di sekolah.
Wawan masuk dan merangkul istrinya itu dari belakang, "mas malu ih, ada mas Hardi,"
"kenapa mdlu, sudah kura pulang dulu ya, toh pekerja kita sudah selesai bukan," kata Wawan.
"pulanglah, oh ya besok sawah mu panen terakhir, dan setelah itu kamu urus sendiri dan kamu harus tetap bekerja di tempat ku,"
"baiklah pak bos, kami duluan, ayo dek," ajak Wawan pada istrinya itu.
Ya meski mereka berdua mengunakan motor sendiri-sendiri tapi tetap saja terlihat begitu harmonis.
Saat sampai di rumah, Wawan pun menunggu istrinya yang masih memasukkan motor ke teras.
setelah itu dia pun memeluk feby tapi gadis itu malu dan mendorong pelan suaminya itu.
"tunggu di dalam has, jangan di sini," bisik Feby yang tau jika suaminya itu sedang dalam kondisi ingin berolahraga.
padahal Feby menyaksikan bagaimana tadi Wawan bekerja, tapi pria itu sepertinya tak kenal lelah.
__ADS_1
Dari toko di samping rumah Wawan, seorang wanita bertopi dan berkaca mata gelap kesal menyaksikan aksi kedua orang itu.
Dia tak menyangka jika Wawan yang begitu dingin saat dia goda, kenapa jadi manja dan bertingkah tak tau malu saat bersama bocah kecil seperti Feby.
"menyebalkan sekali," gumamnya sambil menikmati mie dan es teh di toko itu.
"siapa mbak," tanya pemilik toko kelontong plus warung itu.
"tidak ada Bu, ini pesan dari teman ku yang membatalkan janji," jawab Wiwit asal.
"saya kira mbaknya melihat pengantin baru itu, beh mas Wawan ya semenjak menikah jarang ke warung sini," curhat pedagang itu.
"kenapa, kan kemarin juga,", kata wiwit heran.
"ya gak cari makan di sini, kan sudah ada yang masakin," kata pemilik toko itu tertawa.
sedang di rumah pak RT, sosok Amir benar-benar tak menyangka akan dibuang seperti ini oleh Vina, setelah gadis itu tak menginginkannya.
"kamu menjamin lagi ke,sudah ibu bilang tak usah sedih,ibu bisa Carikan gadis yang lebih cantik dari Vina," kata Bu RT yang merasa kasihan pada putranya itu.
"ibu tau, dulu Feby tergila-gila padaku, dan aku membuatnya sedih dengan menolaknya dan mengancamnya, seandainya dulu aku menikahi Feby,mungkin cerita seperti ini tak akan ada ya,di buang saat tak di butuhkan," kata Amir sedih.
"bukan sudah ku,hanya gadis bodoh itu yang menyebalkan, bisa-bisanya dia meninggalkan dirimu,setelah yang kamu lakukan, ibu berdoa dia akan mendapatkan jodoh buruk dan tak akan ada kebahagiaan di hidupnya," kata Bu RT.
"ibu jangan bicara seperti itu," kata Amir yang tak ingin membahasnya lebih.
dia pun memilih menyibukkan diri di kegiatan mushola dan membantu di kolam ikan milik keluarganya, dan tentu saja sekarang dia juga di terima sebagai sekertaris desa, ya karena dia tak ingin menganggur lagi.
Hana sedang duduk di ranjang karena ada sebuah hal yang harus dia sampaikan pada suaminya.
__ADS_1
"sayang kamu kenapa,kok sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku ya," kata Hardi yang baru selesai mandi dan ganti baju.
"ah aku mau minta maaf,karena ini di luar perkiraan ku," kata Hana yang menyodorkan hasil tes kehamilan pada suaminya itu.
Hardi yang menerima itu pun kaget bukan main, pasalnya dia tak menyangka jika istrinya itu hamil lagi.
"sayang kamu hamil lagi," kata Hardi senang bukan main.
bahkan pria itu langsung memeluk Hana, dia tak menyangka jika keluarganya akan sebesar ini.
"kira ke rumah ibu dan ayah, kita jemput anak-anak sekalian memberikan kabar bahagia ini," kata Hardi bersuka cita.
"iya mas," jawab Hana yang ikut senang toh ini yang dia harapkan.
Karena satu anak lagi untuk melengkapi keluarga mereka, di tambah dia mungkin akan mengundurkan diri dan fokus menjaga anak-anak.
Hardi terus mengucapkan syukur, dia berharap kali ini adalah anak perempuan untuk membuatnya imbang.
Saat sampai di rumah pak Sodikin, ternyata mereka semua sedang keluar, jadi Hardi dan Hana menunggu kedatangan orang tua mereka itu.
tak lama sebuah motor datang, dan itu adalah mereka yang pulang dari membeli lontong bumbu dan es jangelan.
"dari mana?"
"bis li tong, eli es itam erah, adi ote-otenya Ede," kata Abra yang membuat Hardi tertawa.
"kenapa kisah kata mu hanya yang ada di belakang, terus yang depan mana, benar gak mas,"
"ya, embra itu," jawab Arga
__ADS_1
"lsh ini makin parah,kenapa malah mama kak Abra jadi embra," kata Hardi yang makin tertawa keras.
"mas.... Itu anaknya sudah sedih loh," kaget Hana melihat dua putranya.