Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
geng milik wawan


__ADS_3

pagi ini seperti biasa, semua sudah kembali ke rutinitas masing-masing, Feny juga sudah sampai di kampus untuk kuliah.


Dia sudah bertemu dengan Nita dan Vivi yang memang mereka mengambil jurusan yang sama.


"selamat datang calon Bu lurah," sapa mereka bertiga.


"apa maksud kalian, suamiku bahkan belum melakukan kampanye," kata Feby tersenyum malu.


"kan bulan depan kampanye akan di mulai, tapi yang aku dengar pak lurah Aris masih tetap mencalonkan diri ya," tanya Nita yang heran dengan pria itu.


"itu benar dan ada satu lagi calon dari dusun tetangga tempat tinggal ku," kata Feby.


"apa jabatan dua periode itu kurang, bukankah kalau lurah itu enam tahun menjabat, ya apa menang seenak itu jadi lurah?"heran Vivi.


"aku juga tak mengerti, tapi aku sudah dapat wanti-wanti bahkan sebelum suamiku benar-benar di pilih nantinya,"


"memang wanti-wanti apa Feby," tanya Nita.


"untuk menjalankan peran ku membantu suamiku membangun desa melalui PKK desa, ya sekarang aku akui jika semua sudah baik karena ibu lurah yang punya jam kerja yang sangat bagus, tapi aku dengar dari mbak Hana, Bu lurah kemungkinan akan vakum jika suaminya itu terpilih lagi menjadi lurah karena ingin fokus agar bisa cepat hamil lagi, mengingat Dia pernah kehilangan calon anaknya sebanyak dua kali karena kelelahan," jawab Feby.


"apa seberat itu?"


"tentu saja tidak,memang bekerja menjadi pengabdi di desa itu melelahkan, tapi kalau menurutku kemungkinan dia kelelahan karena usaha suaminya juga tak sedikit tau,"


"jangan bilang semua calon lurah kali ini semuanya sultan versi desa ya,karena suamimu itu juga orang biasa nyonya," kata Vivi yang baru tau jika Wawan itu punya beberapa sawah dan juga usaha di kota.


"diamlah, suamiku cuma karyawan kakak ipar ku," kata Feby tertawa mendengarnya.


mereka bertiga masuk kedalam kelas untuk mengikuti kelas ekonomi yang akan segera di mulai.


beberapa pria menyayangkan bagaimana bisa gadis sepintar dan secantik Feby harus menikah muda.


padahal jika dia tak buru-buru, mungkin banyak pria yang mau jadi kekasihnya.


Di sisi lain,Wawan sedang membantu Hardi untuk mengurus beberapa dokumen penting.


"apa aku harus benar-benar mulai pekerjaan ku sendiri, dan tak boleh ikut bos lagi?" tanya Wawan.


"itu benar, Karena sebentar lagi tugas mu tak sedikit,dan kamu harus fokus dengan usahamu,karena sekarang kamu sudah punya keluarga sendiri, dan ingat Wawan kamu pernah janji ingin membahagiakan Feby,dan tak boleh kurang harus seperti Hana," kata Hardi yang memang menentukan takaran agar Wawan bisa berjuang dengan benar.

__ADS_1


"baiklah, aku akdn serius mengurus semua usaha milik ku, dan kemungkinan aku akan merindukan bos yang kesal karena diriku,"


"ya setidaknya aku tak akdn pusing lagi karena ulah mu," kata Hardi yang ingin Wawan bersungguh-sungguh dalam hidupnya.


Dan Hana juga sudah fokus di rumah mengurus putra-putranya yang sudah sangat aktif.


"yah wan..." panggil Arga.


"halo ganteng, kalian dari mana?" tanya Wawan yang memangku bocah itu.


"Ari Eli men," jawab Arga dengan Lucu.


"Ais...aku selalu kalah saat kamu datang, Abra sini sama ayah," panggil Hardi.


"Ndak, au ma yah wan," jawab bocah itu lagi.


"ya kalian ikut Wawan saja,biar ayah sama mama bisa santai,bawa pergi deh wan biarkan aku tenang untuk seharian ini," kata Hardi yang pura-pura tak iri.


padahal dia sangat ingin bisa dekat dengan putra-putranya itu,ya dia tau jika waktu yang di berikan sangat sedikit, mengingat kesibukannya sebagai seorang pengusaha yang punya banyak usaha.


"ayah...." lirih Arga dan Abrar sedih.


"tapi aku ada urusan di Mojokerto,"kata Hardi


"biarkan aku yang menyelesaikan semuanya,anggap saja ini pekerjaan ku yang terakhir sebagai orang anda bos, setelah itu besok aku akan menjadi adik ipar mu yang akan berusaha keras untuk membuktikan jika aku bukan pantas dan aku bisa berdiri bersaing dengan orang-orang,dan membungkam mulut orang yang menghina ku, dan membuktikan jika dku. Isa sukses tanpa harus mengemis pada orang tua yang membuang ku," kata Wawan yang membuat Hardi senang.


"aku suka semangat mu,dan aku ingin lihat bagaimana reaksi dari wanita itu," kata Hardi yang tak sabar.


Wawan pun pamit dan segera menyelesaikan semua pekerjaan, karena sore nanti dia harus menjemput istrinya itu.


Sedang Hana tak menyangka akan melihat sosok adik iparnya yang begitu penuh semangat.


"lihatlah sayang, pria yang selalu dingin dan bersikap rendah diri,kini ingin mengenggam dunia demi wanita yang dia cintai, bahkan dulu Wawan tidak seperti ini saat bersama istri terdahulunya,"


"karena kami.para putri pak Sodikin ini istimewa ya mas," jawab Hana yang membuat Hardi tersenyum.


"ya kamu benar, kalian sangat istimewa, ada energi tersembunyi yang bisa membuat para suami kalian ini sangat bersemangat, mengingatkan aku bagaimana kamu yang begitu kalem dan sangat rendah hati serta baik, bisa menjadi istri seorang Hardika dengan sangat baik, itu juga terjadi pada Wawan,"


"ya mas benar,terlebih aku juga bahagia, karena selalu melihat senyum Feby yang begitu lepas setelah menikah dengan Wawan,"

__ADS_1


Hardi mengangguk, dan sekarang dia mengendong dia putranya itu untuk di ajak main di kebun belakang sambil belajar.


tentu saja Hana ikut untuk mengawasi keduanya, mengingat Abra pernah hampir terjatuh di lubang bekas galian kolam ikan.


itulah kenapa Hana memutuskan untuk mengundurkan diri dan fokus pada kedua putranya.


pukul tiga sore, Feny dan dua temannya baru selesai kelas, ketiganya tak mengira jika akan menghadapi kuis mendadak.


"kamu bisa melihat asap keluar dari kepala ku, ya Tuhan rasanya kebakaran di dalam otak ku," kata Nita yang merasa pusing.


"ya kamu benar, aku juga kaget ada kuis dadakan tapi untungnya kuis itu adalah materi kelas Minggu kemarin," kata Feby.


"ya lihatlah kita sangat berbeda level dengan dia, kamu itu makan apa sih Feby bisa sepintar itu,"


"makan nasi,masak makan batu," kata Feby yang kaget karena melihat banyak mahasiswi yang berkerumun di area parkiran.


"ada apa sih? Kok sepertinya pada heboh," tanya Vivi.


"kalian ini tidak bisa melihat, ada pria tampan yang sedang berbincang dengan security, dia hitam manis tapi sangat kejar dan wajahnya sangat ah... Pokoknya sempurna deh," kata salah satu senior di kampus itu.


"memang siapa sih," kata Vivi penasaran.


Begitupun dengan Nita dan Feby, tapi mereka bertiga terkejut saat pria yang di maksud itu berjalan ke arah mereka sambil membawa bunga mawar merah.


"apa aku terlambat sayang," tanya Wawan memberikan bunga itu pada Feby.


Dan yang menerima bunga pun hanya bisa bengong, pasalnya dia baru kali ini melihat Wawan tanpa brewok.


"Feby kenapa syok,itu suamimu," sikut Nita.


"tidak mas, aku juga baru selesai kelas," jawab Feby malu.


Mendengar itu Wawan tersenyum, dan itu membuat semua terpesona.


"om tolong ya, jangan senyum begitu,kami bisa jadi jahat nih kalau sampai menyukai suami sahabat kami," kata Vivi yang merasa jantungnya tak aman.


"maaf kalau begitu,boleh aku ajak istriku pulang,"


"silahkan," jawab Nita yang sebenarnya juga menyukai wawan dari saat menjadi supir elf untuk pariwisata di sekolah mereka dulu, tapi dia sadar sekarang pria itu milik sahabatnya.

__ADS_1



__ADS_2