
Feby sedang antri membeli es, awalnya dia ingin membelikan es badek yang terbuat dari ketan hitam.
Tapi dia mempertimbangkan lagi, takut jika Bu Sonya itu akan mengalami hal buruk.
jadi dia memilih membeli es jangelan saja, tapi sayangnya tempat ibu yang berjualan itu sangat dekat dengan tempat kuda lumping itu atraksi.
Saat sedang antri, tiba-tiba seorang pemain kuda lumping itu lari ke arah Feby sambil membawa kuda yang terbuat dari sesek itu.
Feby tidak bisa lari karena terdesak ke arah dinding, tapi tiba-tiba dia merasakan seseorang menghalangi pria itu.
bahkan dia merasakan sebuah tangan yang melindunginya begitu kuat dan kokoh.
"hei, pawangnya mana, kenapa bisa membahayakan penonton," marah pria itu.
Feby mengenali suara pria itu, dan saat dia melihat pria itu,ternyata itu adalah Wawan yang sedang melindunginya.
"kamu tak apa-apa mbak Feby," tanya Wawan yang menjauhi Feby.
"terima kasih cak," kata Feby dengan suara yang begitu lirih.
"ini berbahaya, dan kenapa kamu di tempat beginian sendirian juga," tanya Wawan.
__ADS_1
"ah itu cak,aku ingin membelikan es untuk Tante Sonya, tadi kami juga menaruh sepeda motor di rumah cak Wawan,"
"ah iya, aku tadi ketiduran, dan maaf seharusnya aku mengawal kalian, sudah Bu tolong buatkan es jangelan tiga ya, yang satu tidak pake tape kan?" tanya Wawan melihat Feby.
"iya mas," jawab Feby dengan lembut.
Akhirnya mereka pun selesai membeli es,dan membawa ke arah Bu Sonya dan Vina.
saat Wawan dan Feby mendekat, Bu Sonya kaget melihat pria itu, pria yang mengingatkan dia pada masa lalunya.
"ah maaf aku lama, karena tadi ada kejadian buruk sedikit," kata Feby.
"ah dku hampir kena gebyok kuda lumping, jika tidak ada cak Wawan, mungkin aku bisa luka," kata Feby.
"ya seharusnya memang kalian harus mengajak seseorang untuk menjaga kalian, jadi setelah ini mau kemana?" tanya Wawan dingin.
"aduh cak Wawan dingin amat, jangan gitu dong biasanya juga manis kalau ngomong," kata vina tak nyaman.
"maaf aku sedang banyak pikiran," jawab Wawan santai.
Setelah menikmati gorengan, pecel dan es,mereka melanjutkan perjalanan melihat ke arah persawahan.
__ADS_1
Tak hanya itu, mereka juga berfoto, dan Wawan hanya mengawasi saja, dan saat Feby hampi jatuh ke sungai karena di usili Vina.
Wawan berhasil menangkap gadis itu dan tak sampai membuatnya terluka.
"ah aku hanya bercanda," kata Vina.
"tak lucu tau," kesal Feby yang merasa takut.
"sudah kalian ini, ayo kita pulang sudah semakin pulang, lagian Tante juga ada pekerjaan di kota," kata Bu Sonya.
"hanya begitu saja,bahkan anda tak melihat makam orang tua anda, sungguh anak yang sangat berbakti dan ibu yang sangat baik kan," kata Wawan dengan suara dingin dan pergi begitu saja.
Feby dan Vina di buat bingung dengan ucapan Wawan, sedang raut wajah Bu Sonya berubah menjadi sangat pucat.
"Tante sakit, kita pulang ya," panik Feby dan Vina.
Bu Sonya tak menyangka akan mendengar itu dari pria yang terus mengawal mereka.
Ya dia memang menyembunyikan jika dia dari desa itu, toh semua yang mengenalinya sudah meninggal dunia.
Jadi dia kira akan aman, tapi kenapa malah sekarang dia harus bertemu pria yang mengingatkan dia pada masa lalu buruk itu.
__ADS_1