
Vina melengos dan segera mendekati Feby yang sudah menyiapkan pisang goreng.
"wah sarapan apa ini, kenapa ada pisang goreng jam segini," kata Vina yang merasa aneh.
"gaya mu Vin, bukankah kamu juga menyukai gorengan seperti ini?" kata Feby tertawa.
"itu dulu, sekarang aku sedang fokus memperbaiki hidupku untuk lebih sehat, bahkan aku ikut kelas muathai di dekat kos ku loh," kata Vina jujur.
"gitu bangga, Feby malah bisa main gulat,"
"hei jangan bicara hal aneh mas, sudah cicipi dulu, jika tidak kriuk maaf ya karena sudah cukup lama tadi gorengnya,"
"iya gak papa, ya sudah aku ambilkan buku dulu ya," kata Feby yang masuk kedalam rumah.
Sedang Wawan santai menikmati suasana pagi ini, "om kapan ngajak Feby main ke Surabaya, sekali-kali main kesana dan mampir doa ke sunan Ampel, bukankah kalau gak salah dulu Feby pernah bilang kalau sudah nikah akan ke makam untuk ziarah bersama suaminya,"
"benarkah, wah kenapa kamu tidak bilang sayang?" tanya Wawan saat melihat istrinya itu.
"itu ya, kan kemarin mas masih sakit, terus aku juga baru kuliah, jadi aku nunggu waktu yang tepat agar kita bisa sekalian liburan,"
"apa... Ih nyebelin banget, memang kalian gak bosen ya berdua Mulu,"
__ADS_1
"gak tuh," jawab Wawan dan Feby kompak.
Wasis dan Bagas tertawa mendengar itu, setelah membawa buku dan goreng pisang itu.
mereka bertiga pun pulang dengan berjalan kaki, setelah sampai rumah.
Vina menyiapkan beberapa barang yang di bawakan oleh Hana untuknya selama di kos.
Ya dia sering minta di kirimi mie instan, tapi Hana tak mengirimnya karena takut Vina sakit.
jadi dia mengirimkan banyak lauk yang bisa di simpen Frozen, dan ada banyak jenis juga.
"terima kasih ya mbak,lain kali main ke Surabaya ya,"
"baiklah aku tunggu, dan ingat jangan mendadak oke,"
"baiklah dek, kamu juga harus hati-hati di kota besar itu ya, dan ingat tolong jaga nama baik mas mu,dan jangan kecewakan kepercayaannya, mengerti dek,"
"iya mbak, aku berjanji," jawab Vina yang membuat Hana lega
Setidaknya dia harus percaya pada adiknya itu, dan yakin jika Vina bisa di percaya.
__ADS_1
perjalanan hanya butuh satu setengah jam karena lewat tol, dan Wasis menghentikan mobilnya di kos Vina dulu.
"maaf tak bisa mampir dek, jika kamu butuh sesuatu bilang ya," kata Wasis yang tak ingin melihat Vina kebingungan di kita asing.
"tenang mas, aku pasti merepotkan mu," kata Vina tersenyum ramah.
Setelah itu mobil Wasis pun pergi, dan saat dia masuk kedalam kos, dia kaget karena Hima tak ada di tempat.
"ya Tuhan kemana gadis itu,kenapa ini kamar sudah seperti kapal pecah begini," kata Vina yang melihat tempat kos itu.
Ya meskipun kecil tapi ini sangat mengganggu saat kotor, bagaimana tidak ada piring kotor di tempat cuci piring, ada baju kotor yang belum di cuci, dan ada bekas camilan di ruang tamu.
"menyebalkan sekali," kesal Vina yang langsung membersihkan tempat itu.
Setelah bersih, dia langsung menyimpan semua makanan miliknya di kulkas di kamarnya.
karena dia tak ingin hina mengambilnya, sebab hina ini sering mengambil makanannya tanpa bilang.
Pukul enam sore, Vina selesai makan tapi merasa aneh karena Hima belum juga pulang.
Bahkan kamar wanita itu tak di kunci, tapi dia tak berani masuk karena bisa panjang urusannya.
__ADS_1
"sudahlah aku belajar dulu saja,"