
Hardi sudah sangat sibuk di gudang, karena hari ini jadwal bongkar muatan jagung dari beberapa desa yang baru panen raya.
Sedang di tempatnya sedang full dengan jagung kering yang juga harus segera di kirim ke pabrik.
Bahkan ada beras yang juga harus di serahkan kepada beberapa tempat penggilingan beras.
bahkan sesibuk apapun, dis tak melepaskan ponselnya takut jika istrinya pulang sekolah tepi dia tak tau.
"apa berasnya sudah di muat semuanya," tanya Hardi yang keluar untuk memberikan tagihan pada beberapa rekan bisnisnya.
"siap kirim juragan," jawab yayung.
"baiklah pak yayung ajak satu kuli, dan ini tagihannya, dan juga jangan lupa minta kekurangan pembayaran yang kemarin," kata Hardi menyerahkan kertas itu.
"siap juragan,"
sedang Zainul susah siap membawa satu truk penuh dengan gabah ke pengilingan milik Hardi.
Ya pemuda itu baru saja membeli pengilingan beras beserta rumah di sampingnya karena pemiliknya tak bisa membayar hutang di bank.
"berangkat, dan om Abdi istirahat jika lelah," teriak Hardi yang melihat sosok pria yang membesarkannya itu begitu sibuk.
"iya juragan muda, tau saja jika om mu ini sudah tua," kata abdi yang memang sudah berusia hampir lima puluh tahun lebih.
"kata siapa tua, om masih muda, kemungkinan tahun ini om akan punya anak loh jadi sehat-sehat ya," kata Hardi yang duduk di samping pria itu.
"om sudah tak terlalu kepikiran tentang itu,kamu saja segera punya anak, agar om punya cucu segera, dan bisa om bawa keliling desa," kata Abdi tersenyum.
"om memang ayah yang hebat, bahkan jika bukan om dan Tante, mungkin aku dan Vina tak mungkin bisa seperti ini, terima kasih pada ayah dan mama yang sudah menitipkan kami pada om,"
"kamu itu ngomong apa," kata Abdi yang menghapus air matanya.
"sudah om, jika sudah selesai ngopi yuk, lumayan lah sambil nunggu truk yang ngambil jagung datang,"
"baiklah ayo ke depan," kata Abdi yang berjalan bersama Hardi menuju ke warung terdekat.
__ADS_1
di sekolah, Hana tak menyangkal dengan perkembangan dari satria, ya bocah itu yang jarang sekali mengerjakan tugas dari guru-guru.
Sekarang malah mengerjakan hampir sepenuhnya benar, "baiklah semuanya, ibu guru ingin tau apa yang kalian pelajari tiga hari ini? Atau ada yang mau cerita di depan kelas, selama libur hari Minggu kemarin ngapain saja,"
"saya bi guru!!" teriak semua murid dengan semangat.
"baiklah, Nina dulu," tunjuk Hana .
"saya hari Minggu ke car free day,dan di sana sangat ramai, saya kesana bareng ayah, mama dan juga adik ku yang kecil, dan juga beli baju dan topi di sana juga,"
"bagus sekali, nanti ibu juga mau coba ke car free day, dan yang lain... Em.. Satria," tunjuk Hana lagi.
"saya hari Minggu ke kolam renang bersama ayah dan bunda, dan setelah itu kami mampir ke toko roti," jawab bocah itu
Hana tersenyum mendengarnya, karena reaksi Satria begitu bahagia, "bagus sekali,"
Akhirnya kelas pun begitu hidup karena Hana mengajak anak muridnya belajar sambil bermain.
Aris di kantornya merasa pusing, bagaimana tidak, jika terus seperti ini maka bisa di pastikan jika para warga desa bisa banyak yang kehilangan rumah.
"tidak bisa, aku harus mencari bantuan, dan menjalankan koperasi desa, tapi siapa yang harus ku mintai tolong, tak mungkin jika aku mengunakan uang ku sendiri," gumamnya.
Tapi kekhawatiran yang dia pikirkan itu tak ada gunanya, toh Hardi juga sudah menikah dengan gadis yang juga tak kalah cantik dari istrinya.
Akhirnya Aris memutuskan untuk bangkit dari kursinya dan bergegas menemui pria itu untuk mengutarakan pemikirannya demi membantu warga desa.
Dia berangkat bersama kepala dusun menuju ke gudang tempat kerja Hardi.
Ternyata pria itu sedang ngopi dan santai, Hardi juga terkejut saat melihat ada Aris dan Kasun datang ke tempatnya.
"wah ada angin badai apa ini, kok tumben pak lurah dan pak Kasun datang ke gubuk milik ku," kata Hardi tertawa.
"jangan merendah seperti itu, aku ingin mengajak mu bekerja sama untuk membantu warga desa, itu pun jika kamu mau," kata Aris yang tak basa-basi sedikit pun
"buset... santai kali pak lurah, kita bicarakan hal seperti itu ke kantor ku, karena tak baik u tuk bicara di sini," kata Hardi yang langsung bersikap serius juga.
__ADS_1
Mereka berempat pun menuju ke kantor Hardi, dan Aris mulai menjelaskan rencananya.
"itu sangat bagus, tapi akan sangat berisiko jika di jalankan oleh petugas desa, kalian bisa di bilang korupsi dan aku juga tak mau jika tak ada transparansi dalam koperasi itu," jawab Hardi.
"maksud mu apa?" tanya Aris tak percaya.
"sekarang gini saja, hampir seluruh petugas desa yang bekerja dan aktif itu saudara semuanya, aku tak mau memberikan uang ku yang tak sedikit pada orang yang bisa di percaya,mereka bisa saja bekerja sama, tentu kamu itu juga, terlebih kamu juga orang terpelajar bung," kata Hardi santai.
"ya kamu benar, nanti aku akan memikirkan hal itu di rumah,dan aku hanya butuh kepastian jika kamu mau membantu ku," kata Aris pada Hardi.
"aku akan memberikan satu milyar sebagai dana awal, jika semua berjalan baik, aku tak segan menambahkan uang modal lagi," kata Hardi santai
"tidak itu cukup untuk modal awal, karena aku juga akan memberikan satu milyar juga untuk itu,"
"jika kalian bisa seperti ini dari dulu,mungkin di desa tak akan ada orang yang kehilangan rumah dan juga para warga bisa sangat sejahtera," kata Abdi tersenyum bangga pada Hardi.
dia tak menyangka jika Hardi menyingkirkan dendamnya demi membantu warga desa.
bahkan mau bekerja sama dengan Aris yang notabene sudah merenggut wanita yang dia cintai.
Tapi sepertinya kedua pemuda itu sudah dewasa setelah menikah, "dan aku harap kalian membuat perjanjian dengan resmi, karena jangan sampai di akhirnya nanti ada masalah yang bisa menghancurkan kebaikan kalian,"
"tentu saja om," jawab Hardi.
Setelah membahas itu, Adis memutuskan pulang karena sudah jam dua belas siang.
Sedang Hardi buru-buru menjemput istrinya yang sudah mengirimkan pesan.
Saat sampai di sekolah tempat istrinya itu mengajar, tanpa terduga Hardi malah berpapasan dengan Helmi.
Wanita itu tampak begitu mengangguk menyapanya. Hardi juga melakukan hal yang sama.
Dia segera turun dan mencari Hana, yang ternyata sudah siap dengan membawa tas ransel yang cukup besar
"biar aku bawakan ya sayang,"
__ADS_1
"terima kasih mas, aduh manisnya suamiku ini," kata Hana yang mengenggam tangan Hardi.
Hana juga bisa melihat satria pulang di jemput Helmi, sekarang dia merasa tenang karena Helmi bersikap baik sebagai ibu sambung bagi bocah itu.