Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
sangat khawatir


__ADS_3

Hardi pun kembali memeluk hans, dia hampir gila karena tak bisa menemukan istrinya itu.


"sudah mas, itu malu sama tamunya," kata Hana tersenyum.


"biarkan saja, aku bisa mati gila karena kamu pergi tanpa bilang apapun, bahkan aku sudah mengelilingi desa sebanyak dua kali tapi tak menemukan dirimu," kata Hardi yang membuat Hana tersenyum.


"ya sudah maaf, lain kali tidak lagi, sudah aku mau masak sebentar, kasihan Vina di belakang sendirian, tolong di temani dulu itu tamunya," kata Hana yang tersenyum.


"aku bantu," kata Dila.


akhirnya mereka ke dapur, dan Dila takjub dengan rumah mewah milik Hardi, dia sudah tau jika teman suaminya itu kaya.


Tapi tak menyangka akan sekaya ini,bahkan di ruang tengah saja tv layar lebar dengan ukuran besar dan juga ada sofa ranjang juga.


dan berbagai perabotan mahal lainnya, saat di dapur juga kulkas ada dua.


Bahkan semua alat masak semuanya canggih dan terlihat seperti dapur mahal.


"sudah selesai masak dek?" tanya Hana pada adiknya itu.


"sudah mbak, tinggal menunggu ayam panggang dan kentang panggang milikku," jawab Vina yang sedang memainkan ponselnya.


"dek,"


"ih maaf mbak,habis aku sedang membahas acara karnaval," kata Vina tersenyum.


"wah sepertinya saya tak perlu bantu ya," kata Dila yang memilih duduk di meja makan.


"tentu saja, anda tamu dan maaf itu kursi kakak ipar saya," kata Vina tak suka melihat kursi milik Hana di duduki.


"ah menang kenapa, bukankah ini cuma kursi," tanya Dila heran.


"karena tata Krama di rumah kami, bagi siapapun tak boleh sembarangan menduduki kursi milik orang lain saat makan tanpa izin pada pemiliknya," kata Vina yang tdk suka.


"baiklah maaf kalau begitu," kata Dila yang tak mau membuat gadis itu marah.

__ADS_1


"sudahlah jdngan berdebat, ah itu sudah matang ayam milik mu, Dila tolong panggilkan semuanya, kita makan bersama,"kata Hana dengan santai.


"baiklah," jawab Dila.


tak lama Hardi ddn Dodit datang ke ruang makan, dan mereka makan bersama.


Keluarga Hardi ini sangat terlihat harmonis, karena pria itu memang memiliki segalanya.


Dodit kadang merasa jika Tuhan itu tidak adil, bagaimana Hardi memiliki segalanya dengan mudah, tapi dia harus bekerja keras untuk punya semua hal demi keluarganya.


"mbak Hana enak ya punya suami kata seperti mas Hardi, pasti tinggal ongkang-ongkang kaki saja," kata Dila.


"tidak seperti itu kok, kami malah harus terus memikirkan para karyawan yang bekerja di tempat kami sudah mampu apa masih kekurangan, karena semua harta Suamiku nantinya harus di pertanggung jawabkan nantinya," kata Hana.


"pemikiran anda terlalu jauh mbak," kata Dila.


"tapi itu memang benar,punya banyak usaha dan uang tak selamanya baik, kadang aku juga ingin santai seperti orang kain," kata Hardi.


"kamu ini kocak bung, saat semua teman sepantaran sedang sibuk mengejar dunia, kamu malah sering menghamburkan uang untuk membantu teman-teman mu yang tak terhitung jumlahnya itu," kata Dodit.


Dila tak menyangka jika masih ada pria seperti Hardi si dunia seperti ini, padahal kadangkala saudara saja tak mau ikut campur atau membantu dengan sedikit yang.


Tapi berbeda dengan Hardi yang tampaknya begitu mudah menolong semua orang.


setelah makan, Dodit mengajak istrinya itu untuk pamit, karena dia harus mengerjakan pekerjaan penting.


Sebelum pulang, Hardi memberikan angpao pada putra Dodit cukup banyak, dan Dila pun terbersit seandainya dia yang menjadi istri Hardi, pasti akan sangat bahagia.


bagaimana tidak, punya banyak uang, mau shopping tinggal tunjuk dan nikmati setiap uang yang di miliki oleh suaminya itu.


Tapi itu hanya bisa jadi angan-angan saja karena suaminya bukan Hardi melainkan hanya teman baik pria itu.


Hardi duduk bersama istrinya yang sedang santai menikmati buku yang dia beli kemarin malam.


"apa kamu masih marah?" tanya pria itu sedih.

__ADS_1


"tidak mas, aku tak sedih, aku tadi menghilang bukan ingin membuat kita dalam keadaan yang buruk, aku hanya ingin menenangkan diri, agar saat kita bicara semuanya bisa di bicarakan dengan baik dan masalah bisa selesai tanpa amarah,"kata Hana.


"tapi aku takut kamu pergi,karena kamu tiba-tiba hilang tak tau kemana,membuatku frustasi mencariku, tapi untunglah kamu tak apa-apa," kata Hardi yang memeluk tubuh suaminya.


"iya maaf,mulai sekarang kalau marah aku akan pulang saja, setelah itu baru kita bicara," kata Hana yang membuat suaminya menjadi tenang.


malam itu, Helmi sedang menemani putranya belajar karena ada beberapa tugas dari guru sekolah.


sedang lurah Aris masih sibuk dengan beberapa pekerja, dan dia sangat tidak baik saat ada orang yang minta tanda tangan ke rumah.


karena saat di rumah dia hanya seorang ayah bukan kepala desa.


tok... Tok.. Tok...


"assalamualaikum..." salam seseorang.


Helmi yang mendengar pun membuka pintu, "wa'alaikumussalam... Iya ada apa?" tanya Helmi yang kaget melihat ada seorang wanita tua.


"ibu lurah tolong saya, suami saya tiba-tiba panas dan menggigil, saya sudah minta tolong pada warga tapi tak ada yang mau menolong," kata wanita sepuh itu yang sepertinya menaiki sepedanya dari rumah.


"sebentar saya panggilkan psk lurah dulu," jawab Helmi.


"mas, ada warga yang sedang sakit," panggil Helmi.


Mendengar itu lurah Aris langsung mengambil uang satu gepok seratus ribuan dan menyimpannya dalam jaket miliknya.


"kita berangkat ke rumah Mak Ina," kata pak lurah Aris.


dan dia membawa mobil siaga desa, dan saat sampai di rumah itu, bahkan dengan sendirinya, lurah Aris mengendong pria tua itu sendiri dan membawanya ke rumah sakit.


Untunglah saat sampai di rumah sakit,belum terlambat, dan masih bisa tertolong, "Mak kemana anak mak?"


"semuanya tak mau di mintai tolong, katanya sibuk pak lurah," jawab wanita sepuh itu.


"orang tua bisa membesarkan anak sepuluh, tapi anak sepuluh tak ada yang mau merawat orang tuanya," kata lurah Aris

__ADS_1


__ADS_2