Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
hubungan pura-pura


__ADS_3

setelah pesta makan gratis, semua orang pulang kecuali empat orang yang menjadi orang kepercayaan Wawan.


ada Guntur, Geno, Joko dan Didin, mereka ini yang akdn membantu Wawan mengurus beberapa usaha miliknya.


"jadi semuanya sudah siap, saat aku sudah di Lantik,maka kalian akan bertanggung jawab penuh dan ingat jangan melakukan hal yang membuat ku kecewa, serta jangan menganggu usaha milik bos Hardi,"


"kami mengerti bos," jawab keempatnya yang di percaya.


Wawan pun istirahat dengan santai di sebelah istrinya, dia mengusap perut Feby lembut, "ya Allah... Tolong lancarkan segalanya,aku tak ingin jika istriku ini Engkau ambil lagi, cukup yang lalu," gumam wawan.


Wawan hanya tau jika istrinya itu meninggal dunia karena pendarahan.


Keesokan harinya, Feby sudah bersiap untuk ke kampus, sedang Wawan juga bersiap untuk ke toko sembako miliknya yang ada di pasar.


karena dia harus mengecek barang yang ada di toko apa perlu di re-stok.


"mau di antar sayang?"


"tidak usah mas, aku mau bawa motor karena mau belanja ke pasar juga,"


"aku antar saja, nanti biar kamu tak capek, ingat kondisi mu itu sedang tak baik jika kelelahan," kata Wawan


"baiklah mas," jawab Feby yang ikut saja ucapan suaminya.


Tentu saja saat Feny di antar oleh Wawan, lagi-lagi beberapa mahasiswi tampak tersenyum senang melihat suaminya.


Tapi dia tak boleh berburuk sangka, ya semua orang akan glow up jika punya istri, atau pasangan yang cocok dan pintar merawat mereka.


Wawan langsung pamit pergi, sedang di rumah Hana, wanita itu sedang tersenyum melihat suami dan dua putranya yang sedang mencuci karpet.


mau bagaimana lagi, semalam Arga ngompol di karpet itu hafi terpaksa di cuci tapi malah akhirnya ketiganya main air.


Setelah menjemur karpet yang sudah kering,Hardi memilih membantu istrinya menjaga putra mereka.


Ya kandungan Hana sudah berusia lima bulan dan sudah membuat Hana sedikit kuwalahan.


Di tambah dua putra mereka terlalu aktif berlarian kenahs pun.


"mas gak papa di rumah, takutnya pekerjaannya bisa numpuk,"


"tenang saja, mas sudah menitipkan semua pekerja pada orang-orang kepercayaan mas, ya mas ingin melihat dua jagoan ku ini tumbuh, dan aku tak mau kamu kelelahan juga," kata Hardi yang membuat Hana senang.


siang itu mereka bahkan belanja ke pasar bersama, ya Hana ingin membeli beberapa baju yang longgar karena baju daster yang dia gunakan tidur banyak yang rusak.


Hardi yang selalu bersikap manis dan tenang sebenarnya menyimpan sosok lain.


Itulah kenapa orang yang bekerja dengan Hardi tak akan berani mengusik pria itu sedikit saja.


pukul sebelas siang, Feby sudah di jemput oleh suaminya karena sudah selesai kelas.


bahkan tadi Vivi berterima kasih atas gaji yang di berikan untuk menjadi tim sukses.


Bahkan gaji itu bisa di gunakan untuk membeli motor jenis N-max model terbaru cash.

__ADS_1


"bagaimana kuliah mu sayang?"


"semuanya baik dan lancar, ya meskipun hanya jelas dosen killer ya di nikmati saja, oh ya mas tadi Vivi bilang terima kasih, karena dia tak menyangka uang gajinya begitu banyak," kata Feby.


"itu memang pantas, karena dia dan guntur bekerja sangat keras," jawab Wawan yang mengantarkan istrinya itu ke pasar sesuai keinginan Feby.


Saat sampai, mereka ke tempat beli daging dulu karena Feny ingin masak rendang.


Dan setelah itu ke bagian ikan, dia membeli ikan tengiri,bara kuda berukuran besar, dan juga ikan dorang, tak lupa dia juga minta tolong untuk di potong, agar mudah di simpan.


"aku mau di buatkan usang Krispy saya pedas sayang," kata Wawan yang melihat udang berukuran besar.


"baiklah mas,"


mereka juga membeli ayam kampung, ya sekarang Feby belanja untuk sepuluh hari kedepan kecuali sayur karena dia biasa beli di tukang sayur pagi.


Setelah itu mereka pulang, tapi Feby turun sendiri karena Wawan harus pergi ke rumah Hardi karena ada panggilan darurat.


Feby pun mulai membersihkan semua yang tadi dia beli, dan menatanya di freezer.


"aduh aku lupa belum beli buat lalapan, beli ke warung Mak Ijah aja ya," kata Feby yang langsung bergegas pergi ke warung itu.


karena letak warung itu tak jauh, Feby memilih berjalan kaki, dan saat sampai dia mengambil kubis dan wortel.


"Mak punya petai gak,"


"ada neng mau berapa papan,"


"iya neng," jawab wanita itu belum tau siapa yang belanja.


Tiba-tiba dia tersenyum cerah saat melihat sosok Feby yang berdiri di depannya, "ya Allah nyonya Wawan toh ternyata, ya Gusti lindungilah mbak Feby ya,"


mendengar itu Feby bingung, ada apa Mak?"


"ya Allah mbak Feby,saya tau jika mbak sedang hamil,nanti kalau denger ucapan yang aneh-aneh gak usah di masukin hati ya neng, anggap saja angin lalu," kata Mak Ijah.


"iya Mak,"


"semoga mbak Feby ini bisa ya menghadapi para orang yang ingin menghancurkan keluarga mbak, aku jadi ingat dengan mantan istri Wawan dulu,dia kasihan sekali,karena mengira Wawan tak punya dan terus dapat omongan buruk,hingga kepikiran jadi akhirnya dia meninggal dunia saat melahirkan,"


Feby pun terdiam, dia hanya bisa mengangguk sedih, tapi dia sekarang berbeda.


Dia sekarang akan bicara apapun yang dia suka atau tidak, karena dengan diam itu tak menyelesaikan apapun.


Baru juga Mak Ijah bilang seperti itu, tiba-tiba sosok Wiwit ini datang dengan gaya sombongnya.


"Mak mau ikan mas bumbunya dong, wah siapa ini, kok ada nyonya Wawan di sini," kata Wiwit


"memang tidak boleh ya, Jan saya sedang belanja," jawab Feby heran.


"Mak tolong di hitung ya, dan saya minta ceker dua kantong dong Mak," kata Feny


"bagaimana sudah bangkrut ya suamiku, jangan sampai jadi kepala desa korupsi karena kehabisan modal," kata Wiwit mengejek Feby.

__ADS_1


"siapa yang bilang, Jan anda tidak tau berapa nominal tabungan Kami, bahkan uang yang di gunakan untuk kampanye saja itu uang dingin karena bukan uang usaha kami," jawab Feby.


"alah kekayaan cuma lima milyar saja bangga," ejek Wiwit lagi.


"dari pada belum menikah di usia mbak,gitu kok suka komentar hidup orang,malu tuh sama umur," kata Feby yang membuat wiwit tak percaya jika Feny ini tak bisa di ganggu seperti istri Wawan terdahulu.


dia melihat Feby pergi dari warung itu, "dasar wanita berkulit pedas," kesal Wiwit


Feby sampai di rumah dan mengirimkan pesan pada wawan,bertanya japan dia pulang.


Karena baru pulang malam, Feny pun membuat ceker pedas manis kesukaannya.


Ya dia masak dengan cepat karena di bantu dengan presto, rumah sudah bersih dan dia juga sudah mandi.


Ceker camilan juga sudah matang, jadi dia duduk menikmati waktu nonton drama Korea rekomendasi Vivi.


Di kota Surabaya, Vina sedang bingung mencari baju untuk di gunakan ke rumah orang tua Reihan.


dia ingat jika dia membawa beberapa rok dan atasan kemeja dari desa.


Dia pun memakai itu dan melengkapinya dengan kacamata dan hiasan rambut sederhana


Tapi meskipun begitu dia sudah sangat cantik, dan saat Rei melihatnya dia tak menyangka jika akan melihat sosok kalem dari Vina


"silahkan tuan putri,"


"terima kasih.."


Keduanya pun berangkat ke rumah Rei, ternyata di sana ada arisan keluarga.


Tapi acara itu di buat mewah dan besar, beberapa tamu datang dengan mobil mewah, ya meski tidak bisa mengalahkan mobil sport yang baru di beli kakaknya yang bilang cuma iseng itu.


"ayah ibu..." panggil Rei yang mengandeng Vina dengan lembut.


Keduanya mendekat, tampaknya kedua orang tua Rei kaget melihat Vina.


"ini siapa Rei?" tanya sang ibu.


"ini Vina kekasih ku,aku ingin memperkenalkan dia pada keluarga kita," kata Rei dengan senang hati.


"apa Rei, kamu tau jika kamu tak bisa memiliki kekasih dari sembarang orang," kata ayah Rei yang tampaknya tak suka dengan penampilan Vina yang sederhana.


Tiba-tiba seorang pria mendekati Vina, "Alvina Hartono, anda putri dari juragan Hartono, adik dari pak Hardika Hartono?" tanya pria itu dengan semangat.


"iya benar, tapi apa kita saling kenal, karena aku jarang sekali kenal dengan rekan bisnis mas Hardi," kata Vina takut.


"sepertinya anda melupakan saya, om Hans yang dulu jadi pengacara keluarga Hartono, sekarang anda sudah besar,"


"om Hans,apa kabar!" kaget Vina yang tiba-tiba ingat pria sepuh itu.


"ya Tuhan kamu sudah sebesar ini, dan apa ini kamu tidak buta kan mau dengan Rei," tanya Hans.


"apa? Tidak kok dia itu cukup baik, tapi ya kami hanya sedang perkenalan saja, om tau kan bagaimana kakak ku jika tau aku pacaran," kata Vina yang membuat Rei menepuk dahinya.

__ADS_1


__ADS_2