Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
makan malam


__ADS_3

setelah dari makam sunan Ampel, mereka memilih masuk ke salah satu warung di pinggir jalan besar.


tapi tiba-tiba Feby mendapatkan pesan dari temannya yang tiba-tiba meminta tolong untuk membelikan makanan arab yang di jual di area makam sunan Ampel secara Frozen.


Feby mendekat ke arah Ibra, "permisi mas, boleh aku minta tolong untuk membantuku membeli sesuatu di area pasar dalam,"kata Feby memohon.


"maaf aku ada telpon penting," kata Ibra yang melihat layar ponselnya.


Feby pun mengerti, "baiklah," jawabnya yang langsung ingin menemui pak Sodikin tapi tampaknya pria itu juga sedang repot dengan cucu-cucunya.


dia juga tak enak mau meminta tolong Vina karena gadis itu sepertinya sedang fokus dengan Amir membahas sesuatu.


Sedang Hardi dan Hana sudah tak ada di tempat,"sepertinya anda bingung mbak," tanya Wawan yang dari tadi melihat Feby tampak bingung.


"iya cak, aku ingin membelikan pesanan teman ku, tapi karena sudah malam,aku mau berangkat sendiri tak nyaman," jawab Feby.


"mau aku antarkan, kebetulan aku bisa bahasa Madura, setidaknya bisa dapat harga miring," jawab Wawan yang langsung memberikan jalan pada gadis itu.


Keduanya pun berangkat bersama, dan benar saja, dengan bahasa Madura dan arab yang cukup baik.

__ADS_1


Tampaknya Feby bisa mendapatkan banyak barang dengan harga miring, tapi saat mereka ingin pergi tiba-tiba seorang pria sepuh menghampiri keduanya.


"kalian pasangan suami istri yang bahagia, semoga Allah menjaga cinta kalian," kata pria itu yang mengejutkan Wawan dan Feby.


"tapi Mbah..."


"aamiin kan saja," jawab pria itu yang mengusap kepala keduanya.


"sudah mbak, kita kembali, takutnya mereka mencari kita, mbak juga belum makan," kata Wawan yang menjaga Feby dari desak-desakan para pengunjung.


"terima kasih cak," jawab Feby.


"aku kira kamu minta tolong bapak, kenapa malah pergi dengan orang yang bukan mahram mu, kamu jangan jadi wanita murahan," kata Ibra.


"apa mas, kenapa kamu marah, ayah ku sedang menjaga cucunya,sedang ibu juga, dan aku tak enak mau minta tolong Vina, setidaknya aku berterima kasih karena cak Wawan mau mengantar ku," kata Feby yang sudah berani menjawab


"lagi pula kamu itu ada saja yang di beli," marah Ibra melihat kresek merah yang di bawa Wawan.


"ini uang ku,lagi pula ini pesanan semua teman ku, karena mereka ingin tau rasanya masakan ini, apa salahnya, dan kamu marah tanpa alasan, apa ini baik," kata Feby yang tak habis pikir dengan tingkah dari Ibra ini.

__ADS_1


kenapa pria itu tiba-tiba berubah seperti ini, apa ini sisi lain dari pria itu, "tunggu dulu bung,kamu tak harus marah, aku bukan orang tak punya hati untuk membiarkan seorang gadis belanja sendirian," kata Wawan.


"tutup mulutmu, dasar orang rendahan," kata Ibra yang marah


"jaga bicara mu Ibra," marah Hardi.


Dia tak menyangka jika pria yang selama ini terkenal baik, punya sikap sekasar ini, saat marah.


"ada apa memangnya, apa aku salah," marah Ibra


"cukup, hentikan kita ke sini untuk berdoa bukan bertengkar," kata Hana yang melerai mereka semua.


"saya di sini cuma buat masalah, saya akan ke mobil saja, permisi," kata Wawan.


"tunggu cak, aku juga sudah tak ingin makan lagi, aku ikut ke parkiran dengan anda, dan maaf aku sepertinya tak pantas untuk menjadi pemilik kalung ini, karena aku bukan wanita suci," kata Feby yang melepas kalung pemberian ibra.


Semua orang kaget, melihat itu tapi Feby memang bukan gadis yang bisa di paksa melakukan apapun.


Wawan pun kaget tapi dia mendapatkan persetujuan dari Hardi, "Ibra aku ingin berbincang dengan mu sebentar, sayang kamu makan malam dulu," kata Hardi yang langsung mengajak pemuda itu keluar dari tempat makan.

__ADS_1


Sebuah bogem mentah di dapatkan pria itu dengan keras, "kamu tak mengira jika dku juga akan tau,untung dia memutuskan lamaran mu,dasar pria sialan,sekarang nikahi wanita itu dan jangan membuat masalah," kata Hardi.


__ADS_2