Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
bagaimana


__ADS_3

kedua orang itu sudah di tunggu di rumah, Hana sudah berhasil membujuk Hardi meski dia akan menerima konsekuensinya jika sampai nanti dia hamil.


Ya itu bisa di pikirkan nanti, siang itu Feby dan Ibra juga datang, keduanya datang menggunakan mobil milik pria itu


Tentu tak hanya berdua tapi juga ada orang tua dari Feby, ya keduanya untuk menjenguk cucu-cucunya itu


"kalian sedang apa di sini, mana dua ganteng ibu?" tanya Bu Sodikin pada anak dan menantunya.


"Abrar dan Arga sedang tidur Bu, ada di kamar mereka," jawab Hana ramah.


"sepertinya mbak sedang kesal ya, karena tersenyum seperti itu," kata Feby yang mengenal bagaimana wanita itu.


"tidak kok, bapak ayo masuk dan dek buat minuman gih," kata Hana.


"lah kok aku, memang tidak ada yang bantu?"


"jangan manja," kata Hana yang langsung membuat adiknya itu lari ke belakang untuk membuat minuman.


Hardi sekarang tau bagaimana tahta tertinggi anak pertama perempuan di rumah,bahkan pak Sodikin selama ini memang selalu menuruti perkataan dari putrinya itu.


Semua sedang berada di ruang tamu kecuali Bu Sodikin yang menunggui cucu-cucunya tidur.

__ADS_1


Pasalnya dia seperti tak mau jauh dari kedua bocah tampan itu, terlebih mereka berdua adalah cucu pertamanya.


Tak lama terdengar suara motor yang datang,ternyata motor Amir yang di ikuti dua motor lain,dan juga ada sosok Wawan dan juga Pardi yang mengikuti juga di belakangnya.


Hardi dan Hana langsung bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan dan melihat ke arah kedatangan kedua orang itu


"jadi, apa yang kalian alami masih belum membuat mu sadar adik ipar ku," kata Hana dingin pada Vina


"maafkan aku mbak..." lirih gadis itu


tampak Amir juga tak bisa membantu, karena dia sudah dapat peringatan keras dari Hana


Karena dia mengiyakan ajakan dari Vina, dan untungnya dia mau membantu Hana membuat gadis itu sadar.


tanpa bicara, Hana langsung lari dan memrluk Hardi, dia masih takut dengan Hana yang tampak begitu keras.


Ya Hana melakukan itu agar gadis itu mulai bisa bertanggung jawab atas semua apa yang dia lakukan.


Feby yang menaruh minum pun keluar mengintip apa yang terjadi,"wah selamat, sekarang kamu merasakan punya kakak perempuan killer, inilah yang aku alami selama ini," kata gadis itu yang langsung dapat tatapan maut.


"maaf deh mbak, bercanda," kata Feby yang langsung masuk kembali

__ADS_1


Ibra tersenyum, dia baru melihat sosok Feby yang seperti ini karena gadis itu benar-benar berbeda.


Ya kondisi dari yang di alami Feby, sekarang kondisi gadis itu lebih baik dan sudah bisa lebih terbuka.


"apa tak enak mas?" tanya Feby yang melihat Ibra tampak terkejut.


"tidak kok, kopinya pahit tapi saat melihat mu kopinya jadi pas manisnya," jawab pria muda itu.


"mas gombal," kata Feby yang tersenyum malu.


Ya Ibra memang jujur jika dia menyukai Feby, dan gadis itu berjanji untuk membuka hatinya dan melupakan Amir yang bahkan tak menatapnya sedikitpun.


Akhirnya mereka semua masuk, dan seorang dokter datang untuk memeriksa kondisi Amir dan Vina.


Fan beruntung mereka hanya sekedar luka lecet dan tak terlalu parah, dan dokter juga menyarankan obat merah untuk cepat menyembuhkan luka-luka.


Vina terlihat senang saat melihat Ibra ada di rumah, ya dia ingat jika beberapa hari pria itu dkdn menginap di desa untuk membantu kakaknya.


"mas Ibra kapan datang?"


"tadi, seharusnya kamu tak membangkang pada ucapan kakak dan kakak ipar mu,karena mereka seperti orang tua, karena mereka yang menanggung tanggung jawab atas mu sebelum kamu menikah," kata Ibra dingin

__ADS_1


Vina merasa aneh,karena baru pertama kali mendengar Ibra seperti ini.


Apa mungkin pria itu kesal karena dia keluar hanya berdua dengan Amir, toh itu tidak seperti yang dia pikirkan.


__ADS_2