Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Salah Lagi:(


__ADS_3

Waktu tes telah berakhir, kini di dalam ruangan hanya menyisakan Safira, Nafisa dan Laila yang masih tertidur dari tadi.


"Laaa,,, bangun..." ucap Nafisa membangunkan Laila yang masih tertidur pulas di atas meja kelas. Efek bangun terlalu pagi sih ya ini mah hhaa.


"Laila sayang bangunnnn... sayangku cintaku bangunn..." tambahnya lagi.


"Cara lo bangunin dia terlalu alay, harusnya kek gini." sela Safira dengan tampang songongnya.


"Wouyyy!!! Nurlaila!! Bangunn lo mau kena hukum lagi gituu?!!" serunya, beruntung tak ada siapapun di ruangan tersebut.


"Eunghhh...." Laila hanya melenguh pelan dan kembali tertidur. Nafisa menahan tawa melihat respon Laila yang tak bergeming.


Safira menatap sebal kearah Laila, dan menepuk jidatnya. "Ini kebo beneran atau kebo jadi jadian, kok gini banget?" keluh Safira dengan tampang melasnya. Nafisa tak bisa menahan tawanya dan pecah begitu saja.


"Untung manusia bukan kebo hhhaaaa....." timpal Nafisa dan kembali tertawa.


Safira mendengus sebal dan duduk di atas meja. "Kalian berdua kenapa belum keluar? Mau di hukum?" tanya Kakak panitia setengah mengancam. Ia tak melihat Laila yang masih tertidur pulas karena terhalang Safira yang sedang duduk di meja.


Nafisa dan Safira yang sedang sibuk sendiri menoleh kaget. Kakak panitia tersebut menghampiri Nafisa dan Safira, mereka saling pandang bingung, dan hanya diam.


"Temen kalian tidur? Gak kalian bangunin?" tanyanya dan menggeleng, tidak habis pikir dia ternyata ada yang seperti ini.


"Udah di bangunin kak, cuma gak bangun bangun." jawab Nafisa.


"Masa sihh? Coba Kakak bangunin." ujarnya merasa tak percaya. "Hei dek! Bangun!" serunya sedikit pelan sih.


Laila masih tak bergeming, "heii! Bangun dong!!!" nada suaranya mulai meninggi. Dan Laila masih tak bergeming juga.


"Tuhh kan? Kakak sih gak percaya." sahut Safira lalu menyimpan handphone nya.


"Dia masih hidupkan?" tanyanya lagi, masih tak percaya dia.

__ADS_1


"Hidup lah Kakk, dia tuh bakal cepet bangun kalo denger teriakan maut Mamanya hhiii." ujar Nafisa setengah bercanda.


Entah keberuntungan atau kesialan, entah kebetulan atau kesengajaan. Tiba tiba saja Surya datang keruangan tersebut, nyelonong begitu saja tanpa permisi yang mana membuat mereka terkejut.


"Ini kalian masih di kelas? Pengen di hukum Iyaaa?! Kamu juga Citra bukannya nyontoh yang bener malah ikut i,ku,tan?" omelnya dan memelankan suara ketika melihat Laila yang tertidur pulas.


"Dia kan cewe tadi? Kenapa kalian gak bangunin? Malah di biarin?" omelnya lagi. Dia tuh ketos galak dengan mulut pedasnya.


"Gak bangun bangun Ya, dia tidurnya dah kayak orang mati hiii..." ucap Citra Kakak panitia tadi sambil bergidik. Sedangkan Safira dan Nafisa hanya diam sambil menatap takut ke arah Surya.


"Dahh lo pada keluar, biar ni bocah gue yang tanganin." ujar Surya sambil mengibaskan tangannya kearah mereka bertiga.


Safira dan Nafisa menurut saja karena melihat tatapan Surya yang tajam, terutama kakak panitia tadi.


Namun rupanya mereka hanya keluar dan mengintip dari balik pintu. Surya nampak mendekatkan wajahnya kearah Laila, mereka mengira Surya akan menciumnya namun detik berikutnya.....


"NURLAILA BANGUN MAU GUE HUKUM LAGI HAHHH?!!!" teriak Surya tepat di telinga Laila.


Nafisa dan Safira langsung tertawa terbahak bahak melihat Laila terkejut. "Rupanya teriakan kak ketos ampuh juga ya? Hhaaa...." ujar Nafisa sambil terbahak, tak melihat tatapan Surya yang sudah memerah menahan kesal.


Citra sudah pucat pasi lalu nenarik pergelangan tangan Safira dan Nafisa kemudian melarikan diri takut kena amukan Surya. Sedangkan Laila cengengesan sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Atensi Surya kembali pada Laila. "Lo tuh, baru aja ikut tes dan belum tentu keterima disini dah berulah aja, dua kali lagi. Buat hukumannya, kalo misalkan lo keterima di sekolah ini, lo langsung dapet lima poin dan sisa poin lo tinggal lima juga. Tapi kalo nanti lo gak keterima hukumannya liat aja nanti." tutur Surya panjang lebar tanpa jeda dan juga dengan tampang watadosnya.


"Iya deh terserahhh..." ucap Laila pasrah. Laila sedikit merasa pusing karena bangun tiba tiba.


"Oh iya, gue juga bukan nyokap lo yah." tambah Surya lagi.


Laila nampak mengernyitkan dahi. "Emang kapan aku manggil Kakak Ibu atau Mama atau Bunda atau Mami atau-" pertanyaan Laila terpotong.


"Gosah di absen, jadi fiks lo tadi mimpi?" tuduh Surya sambil menatap selidik ke arah Laila.

__ADS_1


Laila menggeleng juga mengangguk, ia ingat tadi ia berteriak menyebut kata 'Mam'. "Yakan? Dasar bocah!" ujar Surya kemudian berjalan meninggalkan Laila. "Oh ya, cepetan ke aula, kalo nggak hukumannya di tambah, ini dah telat." tambah Surya lagi dan benar benar keluar.


"Gue bukan bocah tarzan!" umpat Laila pelan dan Laila segera menarik tasnya yang menjadi bantalannya tidur tadi, kemudian berlari menyusul Surya yang sudah keluar lebih dulu.


Merasa di kejar seseorang Surya pun menoleh kebelakang dengan gerakan slowmotion hhee.


Laila yang berlari pun susah untuk menghentikan langkah kakinya dan pada akhirnya menabrak dada Surya. "Ngapa ngikutin? Mau jadi langganan guru BK iya?" todong Surya saat Laila menatapnya kemudian menunjuk ruangan BK yang berada di depan mereka.


"Ya nggak lah Kak, bisa gak lulus aku. Ohh iya, aku mau ke aula jadi ngikutin." jawab Laila.


"Ke aula kesana Nurlaila, kalo mau nemuin bu Hanum sih ya silahkan, buat ngaduin kelalaian lo tadi." ujar Surya enteng kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya.


"Mana mau aku." gumamnya kemudian berbalik dan berlari kearah yang Surya tunjuk tadi. Laila tiba tiba berhenti karena ada pertigaan, ia bingung akan memilih jalan yang mana, dan pada akhirnya ia kembali berbalik dan mengejar Surya kembali.


Surya berjalan menuju ke ruang guru yang ada di ujung koridor, ia kembali mendengar langkah kaki seseorang yang terburu buru.


"Kakk huh...huhh....tungguu." panggil Laila yang masih ngosngosan dan membungkukan tubuhnya.


Surya berbalik. "Apalagi sih?" tanya Surya mulai kesal sendiri.


"Itu kak, jalan ke aula kemana? Tadi aku terus lurus tapi malah nemu pertigaan, pilih kanan atau kiri??" tanya Laila.


"Kanan." jawab Surya singkat, setelah mendapat informasi Laila secepat kilat berbalik dan akan kembali berlari.


Namun kecepatan kaki Laila kalah dengan ketangkasan tangan Surya. Yahh, Surya menarik kerah baju Laila hingga Laila tak jadi berlari.


"Aduhh Kakk, aku kecekik inii haiss." rengek Laila sambil menarik kerah depannya.


Surya melepaskan tangannya dan Laila pun berbalik. "Kenapa narik lagi Kak?" tanya Laila sambil merapikan dasinya.


"Ke aulanya bareng, biar nanti poin lo di kurangi, lo bantu gue bawa data siswa yang di terima sekolah disini. Ambilnya di ruang guru, gada penolakan, itung itung hukuman tambahan." pinta Surya.

__ADS_1


Laila nampak berfikir. "Lagi pula kalo lo mau ke aula, nanti disana juga ada pertigaan dan gue gak bakal ngasih tau lo. Salah lo juga sih ya pake nyamperin lagi." ujar Surya santai dan tanpa ekspresi.


__ADS_2