
Keesokannya, Damar benar benar datang menjemput Juli ke kost kostannya.
Bahkan ia sudah berdiri didepan gerbang masuk.
Juli menuruni tangga dengan ceria. Ia sangat cantik mengenakan rok denim selutut dengan kaos hitam, dilengkapi sepatu ketsnya.
"Selamat pagi pak Damar . ."
Juli tersenyum menyapa Damar yang membiarkan rambut gondrongnya terurai.
"pagi Juls, silakan."
Damar membukakan pintu untuk Juli yang kini tersanjung.
"thanks."
Keduanya masuk mobil lalu melaju menuju tempat yang dituju.
Saat mobil memasuki sebuah hotel yang tak asing bagi Juli, jantungnya berdegup kencang seketika.
Kenapa Damar mengajaknya kesana ? Ah gawat sekali, kalau karyawan yang mengenalnya melihat Juli bersama laki laki yang usianya terpaut jauh.
"Juls, kamu tidak turun ?"
Damar menyadarkan Juli yang sejak sampai terus saja bengong.
"oh iya pak."
Dengan penuh ragu juga cemas, Juli masuk mengikuti langkah Damar.
Damar mengajaknya ke poolside resto, kadang sewaktu waktu dia ingin makan di outdoor.
Disana sudah disiapkan meja VIP lengkap dengan beberapa menu.
Uhuk uhuk . .
Juli tersedak melihat menu yang kemarin ia buat. Jadi menu itu memang jadi favorit disini. Bersyukurlah Juli bisa menduplikasinya dengan baik.
"duduk Juls, ,"
Damar menarik kursi untuk Juli duduki. Ia bahkan memasangkan dinner napkin dipangkuannya.
"Aku sering makan disini, dan ini menu sarapan yang baru saja aku sukai."
Uhuk uhuk . .
Lagi lagi Juli diganggu oleh salivanya yang terkejut.
Pantas saja Damar sering makan di hotel itu, ia kan seorang CEO sukses pikir Juli.
"kamu baik baik saja Juls ? Wajahmu pucat."
Tingkat kepanikan Juli membuatnya tak karuan. Ia bukan takut ketahuan oleh Damar karena sering bekerja disana.
Melainkan pikiran tim FB yang sudah mengenalnya.
"ah tidak pak, aku baik baik saja."
Juli meneguk air hingga habis satu gelas.
Untung saja masih pagi, belum banyak yang berkeliaran disana. Juli harus cepat cepat menghabiskan makanannya lalu pergi.
Ekspresi wajah Damar menunjukkan raut tak suka dengan makanan yang di santapnya.
"Ini berbeda, kenapa tidak seenak biasanya. Aku harus membuat komplain."
Damar sudah bangkit dari duduknya, namun di cegat oleh tangan Juli.
"Pak aku harus ke kampus bisa terlambat nanti."
"biar aku antar Juls."
Juli menggelengkan kepalanya menolak ajakan Damar.
"tidak usah pak Damar, anda pasti sibuk. Kalau begitu aku pamit pak."
Tangan Juli mengambil tasnya dikursi kemudian pergi meninggalkan Damar.
__ADS_1
Juli menepuk jidatnya sambil berjalan. Ia sampai lupa mengucapkan terima kasih pada Damar, karena sudah mau mengajaknya sarapan pagi.
"selamat pagi Mr. Dee, apa sudah selesai sarapannya ?"
Sekar datang menghampiri Damar yang masih berdiri disamping mejanya.
"Tolong kamu kasih peringatan pada anak kitchen kalau masak harus konsisten."
"noted sir."
Sekar berjalan kedalam untuk memberitahu salah satu crew guna menyampaikan pesan dari bosnya.
Juli pergi ke kampus menggunakan layanan bus transJ. Pikirannya masih saja tertuju pada laki laki yang berhasil mengambil hatinya.
"Kenapa pak Damar baik sekali ? Apa dia tidak punya pacar ?"
Terlihat jelas tanda tanya itu memenuhi relung hati Juliana.
Damar bahkan menyimpan nomer telpon Juli, bagaimana bisa Juli tidak berharap padanya.
Baru kali ini Juli merasakan yang namanya jatuh hati.
Juli sampai dikampus dengan disambut teriakan histeris para mahasiswi. Suaranya berasal dari lapangan tengah. Segera Juli berjalan kesana untuk mengetahui apa yang terjadi.
"ada apa sih, heboh banget."
Tanya Juli pada kerumunan perempuan yang tatapannya fokus kedepan.
"Lihat !"
Perintahnya menggunakan dagu untuk menunjuk pusat perhatian.
"Kevin Aditya ketua BEM kampus, doi lagi memperjuangkan nama baik kampus lawan anak kampus lain."
Juli ikut menatap Kevin yang sibuk mencari celah untuk mencetak point. Keringat membasahi tubuhnya yang kekar, otot otot yang belum pernah Juli lihat kini mengeras.
Pantas saja banyak yang menyukai Kevin, dia memang kategori sempurna.
Kaya, tampan, pandai melukis, calon dokter, jago basket. Apalagi yang tidak ia miliki ?
Apa Kevin punya pacar ?"
Juli penasaran status laki laki itu, bukan apa apa ia hanya takut kalau pacarnya akan salah paham padanya.
"haha yang benar saja kamu tidak tahu tentang dia ?
Kevin itu memang sempurna, tapi dia tidak pernah mendapat pacar impiannya.
Tapi dia dekat sekali dengannya."
Tangannya menunjuk satu sosok perempuan yang berdiri membawa botol minum.
"siapa dia ?"
Tanya Juli.
"Jihane, dia sangat menyukai Kevin. Tapi Kevin selalu menolaknya, dengan alasan mereka hanya sahabat."
Juliana menyilangkan kedua tangannya memperhatikan sebuah adegan romantis yang baru terjadi.
Kevin berlari kearah Jihane dan meminum air yang dibawakannya.
Sedekat itukah mereka ?
Sudahlah, Juli tidak ingin mengambil pusing soal Kevin lagi.
"YES."
Kevin mengepalkan tangannya keatas setelah peluit panjang ditiup. Kemenangannya membuat tim basket kampusnya disegani di semua kalangan.
Kevin penyumbang skor terbanyak merasa bangga.
-Kevin, kenapa dia berjalan kearahku ?-
Mendadak Juli gugup, dadanya berdegup kencang.
"Hi Juls, selesai ngampus kamu harus menemaniku memulai lukisan baru Ratu."
__ADS_1
Bukan menjawab, Juli malah melihat ke sekelilingnya. Banyak mata memperhatikan mereka berdua, termasuk Jihane.
"oke."
Jawab Juli singkat lalu melangkah, namun tangannya ditahan oleh Kevin.
"apa ada masalah Juls ?
Bukankah kamu sudah bersedia."
Kevin sedikit heran dengan ekspresi wajah juli yang berbeda.
"Aku akan datang Kevin."
Juli melepaskan tangan laki laki yang masih bercucuran keringat itu.
"Dia kenapa sih ? Apa dia tidak suka orang orang melihatnya dekat denganku ?"
Kevin menggaruk kepalanya karena memang gatal juga.
Selama mata kuliah Juli tidak bisa mengendalikan pikirannya. Juli berharap bukan perusak hubungan Kevin dan Jihane nantinya. Ia bisa melihat dengan jelas kalau perempuan itu cemburu.
Tapi Juli juga harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Saat jam kuliah habis Juli merapikan buku bukunya.
Matanya menangkap sosok laki laki yang beridiri diambang pintu masuk kelas.
"Kamu takut sekali aku kabur ? sampai dijemput segala."
Juli berjalan menghampirinya.
"tidak Juls, aku sengaja karena merasa bosan. Hari ini aku tidak ada mata kuliah."
Juli manggut manggut percaya, mereka beriringan meninggalkan kampus.
Tenang sekali rasanya, berjalan menyusuri trotoar disaat cuaca cerah namun tidak begitu panas.
Sejak tadi juga Kevin terus menatap kearah Juli disampingnya.
"Kevin apa nanti pacarmu tidak akan salah paham, semisal kita sering begini."
Juli kembali teringat tentang Jihane dan ingin memastikannya langsung pada Kevin.
"haha Juli Juli, jadi itu yang membuatmu resah."
Jika Kevin sudah tertawa, matanya tertutup dan itu sangtlah manis. Senyumnya yang lebar menjadi daya tariknya.
"kenapa tertawa ?
Bukannya kalian dekat, aku tidak ingin Jihane membenciku karena dekat denganmu."
Juli membantu Kevin mengangkat garasi galerinya.
Saking fokus menatap laki laki itu Juli kehilangan keseimbangan kakinya.
Ia hampir terjatuh kalau saja Kevin tidak menahannya.
"hati hati Juls, jangan melukai dirimu akibat pikiranmu yang kacau."
Tangan Juli masih setia melingkar dileher Kevin.
Tanpa mereka tahu, Jihane memperhatikan dari arah jauh.
-kenapa harus dia Vin ?
aku disini selalu ada untuk kamu, bahkan kamu tidak bisa menerima sentuhanku-
Jihane adalah tetangga baru Kevin saat mereka baru saja duduk dibangku SMP. perempuan itu sudah langsung menyukainya saat pertama kali mereka bertemu diacara syukuran rumah baru Jihane.
Namun selama itu pula Kevin belum bisa menerima perasaan Jihane.
Apalagi semenjak Kevin bertemu Juli, mungkin kesempatan bersama untuk mereka tidak akan pernah ada.
"Ayo masuk, kamu harus menemaniku sampai aku bilang cukup untuk hari ini."
Kevin merangkul pundak Juli menariknya masuk kedalam galeri.
__ADS_1