
☀️☀️☀️
Ema sangat senang Juli menginap dirumahnya.
Ia jadi bisa menikmati menu sarapan lezat dan bergizi buatan tangan Juli.
Sekar harus bangun pagi pagi demi melayani tuan rumah atas kemurahan hatinya menampung Juli.
"Kamu sudah mau ke kampus Juls ?"
Ema yang mulai bekerja disiang hari masih bersantai, sementara Juli sudah sibuk dengan tas dan buku catatanya.
"Aku ada acara di kampus, Ema terima kasih atas semalam.
Dan aku akan mengembalikan ini."
Juli memutar badannya menunjukkan dress milik Ema yang dipinjamnya.
"Jangan sungkan untuk datang menemuiku Juls.
Makananmu selalu yang terbaik."
Keduanya berpelukan dan cipika cipiki.
Juli langsung pergi ke kampus menggunakan ojek online yang sudah ia pesan.
Sesampainya di depan kampus, Juli sedikit memperhatikan sekeliling.
Belum terlihat mobil Kevin diparkiran tempat biasanya.
Ia akan menunggu kedatangan laki laki itu di dekat tempat parkir.
Harusnya Kevin sudah tiba, mengingat dia harus mempersiapkan segala sesuatunya.
Tapi apakah Kevin akan masuk mengingat kondisinya yang terluka ?
Akhirnya yang dinanti keluar dari mobil milik Damar.
Ternyata Kevin diantar oleh kakaknya, mungkin keadaan Kevin sangat buruk hingga tidak bisa menyetir sendiri.
Saat matanya menangkap keberadaan Juli, Kevin mempercepat langkahnya lalu memeluk Juli.
"Kenapa kamu pergi begitu saja Juls ? Aku khawatir."
Bisik Juli yang masih memaku tidak membalas pelukan Kevin.
Juli malah melihat kearah Damar yang berdiri bersama Sekar.
"Ayo masuk, aku akan memenuhi keinginanmu."
Juli tersenyum singkat pada Kevin, ia tidak ingin menengok kearah Damar lagi.
Kevin dibantu Juli berjalan masuk kedalam kampus.
Rasa linu dan perih masih terasa diperut Kevin.
Bahkan dosis obatnya sudah sangat tinggi, mungkin itu efek dari jahitan pada lukanya.
"hati bapak memang mulia, namun ada juga yang tersakiti diantaranya."
Sekar melirik kearah Damar yang masih memperhatikan Juli dan Kevin.
"bukankah ini lebih baik ?
Daripada kita memikirkan ego sendiri."
Damar masuk kembali kedalam mobil, membiarkan dirinya menyetir dengan Sekar duduk disampingnya.
Diam diam Sekar tersenyum, hatinya merasa terpsesona melihat kedewasaan sang kakak.
Andai saja hubungan mereka nyata, mungkin Sekar adalah wanita paling beruntung bisa memiliki Damar.
"kenapa kamu Sekar, apa kamu demam ?"
Damar menempelkan telapak tangannya dikening Sekar yang sejak tadi menatap kosong kedepan.
"Aku baik baik saja pak, hanya sedikit lelah.
Kalau bapak tidak keberatan maukah bapak makan siang ditempat favoritku ?"
Sekar mencoba mencairkan suasana diantara mereka yang selalu canggung dirasanya.
"Aku sudah berjanji akan memenuhi kebutuhanmu.
__ADS_1
Dan, panggil saja aku Damar saat kita hanya berdua.
Aku masih terlalu muda dan tampan untuk kamu panggil bapak."
Damar tersenyum singkat pada Sekar, Sekar hanya terkekeh mendengar Damar yang narsis itu.
"Oke, Damar."
Sekarpun tidak masalah, malahan dia lebih nyaman memanggil Damar hanya dengan nama saja.
Usia mereka hanya terpaut 3 tahun, masih terbilang sopan jika Sekar menyebut namanya tanpa embel embel.
"Aku minta maaf Kevin, ini semua kesalahanku."
Juli masih memapah Kevin hingga sampai di tenda sekretariat.
"Kenapa jadi salahmu Juls ?
Kasus penusukan terjadi dengan motif tertentu, tidak ada kaitannya denganmu."
Kevin bicara seperti itu tandanya dia memang lupa dengan perkataannya semalam.
-Flashback-
"Kevin bangun, kamu harus tetap sadar !"
Juli berusaha memberi kekuatan pada Kevin selagi menunggu kedatangan Damar.
"Juli, Romi masih mengincarmu. Tinggalah bersama nenek sementara waktu."
Dengan sisa kesadarannya Kevin berusaha memperingati Juli akan kejahatan yang bisa saja Romi lakukan.
Meski dalam keadaan tertekan, Juli bisa menyimpulkan kalau pelaku penusukan itu adalah Romi.
Romi pasti tidak terima atas perlakuan Kevin yang memukulinya.
---
"H E I"
Kevin menjentikan jarinya menyadarkan Juli yang masih melamun mengingat kejadian semalam.
"Kamu sudah sarapan ?
Juli mengeluarkaj tuperware dari tasnya, berisi inkigayo sandwich yang ia pelajari di youtube.
"Kamu selalu tahu apa yang aku rasakan Juls.
Aku bosan dengan makanan hotel."
Kevin langsung melahap sandwich buatan Juli dengan satu kali suapan.
"Makan yang banyak Kevin !"
Entah apa yang harus Juli lakukan agar Kevin atau Damar tidak terluka karenanya.
Apa Juli benar benar pembawa sial dihidup mereka ?
"Kenapa kamu bilang rumah Ema, siapa dia ?"
Ternyata benar dugaan Juli, Kevin memang tidak ingat tentang apa yang diucapkannya semalam.
Juli tidak menyalahkannya karena Kevin dalam keadaan terluka.
"Aku menginap dirumahnya,
dia rekan kerjaku saat di MCafe.
Ayo Kevin, apa yang bisa aku bantu sebagai asistenmu ?"
Untuk sekarang saja, Juli akan mengabulkan permintaan Kevin.
Juli tak hentinya melebarkan senyuman pada Kevin.
"Cukup temani aku sampai akhir acara, aku tidak tahu kapan akan membutuhkan bantuanmu Juli."
Kevin mengelus ujung kepala gadis itu, ia selalu ingin melakukannya.
"Bagaimana dengan stanmu ?"
Juli ingat kalau Kevin masih membuka galeri hari ini.
"Ada Jihane, lagian dia siap melakukannya."
__ADS_1
Benar, Juli sedikit lupa kalau Jihane sekarang sudah membencinya karena terlalu dekat dengan Kevin.
"Kevin apa kamu tidak berniat membuka hati untuk Jihane ?
Dia sangat menyukai kamu sejak lama."
Tepat atau tidak waktunya Juli akan mencoba meyakinkan Kevin.
"Juls, hati tidak bisa dipaksakan akan pada siapa memilih.
Jika aku mencoba, yang ada hanya Jihane terluka karenaku.
Sudah ya jangan bahas ini lagi ?"
Juli menghela nafas menurut saja apa keinginan Kevin. Setidaknya ia sudah berusaha membantu Jihane.
"Ok, as you order."
Juli mulai membantu Kevin menyiapkan keperluan yang akan digunakan hari ini.
Adam datang tidak lama setelah Juli dan Kevin siap.
Pria berkulit sawo matang itu ikut senang melihat kedekatan mereka.
"Wah kayaknya kita ada BEM bayangan . ."
Goda Adam bergabung dengan keduanya selepas memakai jas keanggotaan.
"Bisa aja loe Dam.
Hari ini Juli jadi asisten gue, biar ada kegiatan dia."
"Benar juga, dia bisa bantu gue.
Kan loe ada pertandingan basket hari ini."
Kevin yang lupa seakan diingatkan oleh wakilnya Adam.
"Gue baru ingat jadwalnya hari ini, nanti gue cari seragamnya di anak anak lain."
Kevin santai menanggapi Adam yang memintanya menjadi kapten tim seperti biasanya.
"No Kevin !
Kamu gak bisa main basket dalam keadaan seperti ini."
Juli melarang keras Kevin yang masih bersikeras akan bertanding.
"Keadaan yang bagaimana Juls ?"
Adam mwngerutkan dahinya heran.
"Maksud Juli gue lagi gak enak badan, gak usah dipikirkan Dam.
Loe sarapan dulu gih."
Kevin tersenyum menepuk pundak Adam secara gentle.
Adam yang laparpun hanya menurut, dia pergi ke kantin meninggalkan Kevin dan Juli yang kini menatap tajam Kevin.
"Look, I can do this Juls. Hanya untuk pembukaan saja selebihnya akan kuserahkan sama pemain cadangan."
Kevin masih bersikeras membuat Juli mengizinkannya.
"Apa jika aku melarang kamu akan mengabulkannya ?"
Juli mencoba menghentikan Kevin.
"Kamu harus berarti bagiku terlebih dulu bagiku Juli, agar aku menuruti semua keinginanmu."
Kevin berjalan mendekati Juli yang kini terkungkung diantara meja dan tubuh Kevin.
"Maka jadikan aku bagian terpenting bagimu Kevin ?!"
Juli menantang Kevin agar lebih terbuka mengenai perasaannya terhadap Juli.
-Aku ingin sekali melakukannya Juls, tapi aku tidak bisa.-
"Akan kupikirkan . ."
Kevin belum bisa melakukannya, bukan waktu yang tepat untuk tergesa gesa.
Kevin tahu kalau Juli pasti masih menyimpan rasa pada kakaknya.
__ADS_1