Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#93


__ADS_3

Para pecinta menikmati kesendirian mereka masing masing,


ditengah suasana rintik hujan gerimis. Perasaan gundah gulana menyusup kesetiap pori kulit.


Kenapa bisa pas sekali cuaca malam itu ?


Benarkah alam ikut merayakan kesedihan anak manusia.


Juli masih nyaman memeluk bantal guling sambil mendengarkan lagu galau yang diputar radio.


Pikirannya menerawang ke sebuah khayalan, saat dirinya memiliki kekasih beda usia.


Laki laki itu pasti akan sangat menjaganya dengan baik.


Kenapa wajah Damar yang muncul dikepalanya ?


Ah Juli tidak ingin bermimpi setinggi itu.


Ia sudah pernah jatuh akibat ditolak olehnya.


Tok tok tok . .


Pintu kamar Juli terdengar diketuk oleh seseorang.


Dengan malas Juli membukanya agar tahu siapa dia.


"Siapa ?"


Tanya Juli melihat sosok perempuan bertubuh tinggi dengan pakaian formal.


"Saya Sekar,


Pak Kevin meminta saya untuk menjemput kamu.


Tolong menurut dan ikut saja, saya akan menunggu dimobil."


Bukankah dia sekretaris Damar, kenapa Kevin yang mengajaknya bertemu.


"Baik, aku akan ganti baju lalu turun."


Juli kembali menutup pintu dan segera memakai pakaian yang lebih sopan seperti Sekar.


Juli mengenakan jeans dengan atasan turtle neck berwarna hitam.


Kali ini flat shoes, ia tidak ingin terjebak nostalgia mengenakan sepatu kets lagi.


"Bu Sekar, boleh saya tahu ada keperluan apa saya bertemu Kevin ?"


Didalam mobil yang dikendarai Sekar, Juli duduk disamping mencoba mencari info.


"Kamu akan tahu setelah tiba."


Jawabnya singkat.


Mereka tiba disebuah kafe yang tidak asing bagi Juli.


Kafe yang memberinya kehidupan setelah lulus SMA.


Tempatnya bekerja untuk pertama kali.


-Tunggu !


MHotel, lalu MHospital,


MCafe ?-


Juli menepuk jidatnya, ia baru sadar kalau kafe dihadapannya pasti milik keluarga mereka juga.


Kenapa takdir bisa sekejam itu pada Juli yang gembel ini.


"Apa kamu akan terus berdiri disana ?"


Sekar menyadarkan Juli yang masih memaku.


Setelah sekian lama Juli hengkang dari MCafe, malam itu ia harus kembali kesana.


Pengalamannya bekerja di Mcafe sungguh menyenangkan.


Semuanya berakhir saat kejadian tidak menyenangkan menimpanya.


"Juli kamu makan disini ?


Akhirnya kita ketemu lagi."


Rekan kerjanya menyambut Juli dengan antusias.


Setengah tahun lebih Juli tidak pernah muncul di kafe itu.


"Ema, aku kangen kamu."


Mereka saling bergenggaman tangan, sayang harus berakhir ketika Sekar menatap tajam kearah Juli.


"Aku masuk dulu ya, sudah ditunggu gak enak."


Ema mengangguk tidak masalah.

__ADS_1


"Silakan duduk."


Kevin menarik kursi untuk Juli duduki.


Tepat dihadapannya ada Damar yang sudah mencukur rambut panjangnya.


"Kamu mau pesan apa Juls ?"


Tanya Kevin mencoba menguasai perasaannya dihadapan mereka.


"Apa saja pak Damar."


Ketiganya menatap Juli yang salah menyebutkan nama.


Padahal Kevin yang bertanya padanya.


"Maksudku Kevin, aku minta maaf sepertinya harus ke toilet."


Juli bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah toilet.


"Aw . ."


Juli terperanjat kaget saat tangannya dicegat seseorang dengan kasar.


"Ketemu lagi kita Juliana sayang."


Suaranya membuat Juli bergidik jijik, apalagi cengkraman tangannya.


"Lepaskan aku Romi !


Atau aku akan berteriak."


Juli berusaha melepaskan tangan Romi sekuat tenaga.


"Coba saja kalau berani, dari dulu kamu hanya menggertak sayang.


Kamu itu terlalu polos Juli, aku semakin suka."


Romilah penyebab Juli mengundurkan diri secara paksa.


Dia selalu mengganggunya, bahkan menawarkan jabatan asal Juli mau tidur dengannya.


Pahit sekali, akhirnya Juli lebih memilih keluar dari kafe itu.


Damar bisa melihat kejadian itu dari arahnya.


Ia pamit untuk ke toilet juga, dia sudah tak tahan saat Juli diganggu laki laki.


Romi langsung melepaskan saat mengetahui Damar bosnya berjalan kearah mereka.


Sapa Romi yang diacuhkan Damar.


"Juls kamu baik baik saja ?"


"Juli mantan cook disini tuan, saya datang untuk menyapa.


Benarkan Juli ?"


Romi menatap penuh ancam pada Juli yang hanya mengangguk pelan.


"Saya permisi."


Juli segera pergi menuju meja yang menyisakan Kevin dan Sekar.


Damar mengikuti dari belakang, dia masih curiga akan hubungan keduanya. Ada yang tidak beres tadi, Juli seperti ketakutan oleh sosok Romi manager MCafe.


"Sebelum makanan tiba, aku mau mengajukan proposal kerja sama ke pihak MHotel.


Aku ingin mengadakan pameran bulan depan.


Sebagai batu loncatanku memulai karir.


Juli akan menjadi kuratornya."


Kevin membahas tujuannya mengadakan pertemuan.


Keputusannya sudah bulat.


Selain demi kecintaannya pada melukis, Kevin juga ingin Juli lebih dekat dengan Damar.


"Ide bagus Kevin,


kamu sangat cerdas.


Lalu apa keuntunganya bagiku ?"


Bisnis tetap bisnis, Damar menuntut Kevin untuk profesional.


"Aku akan menjadi pemasok lukisan MHotel dengan harga kusus.


Saatnya mengganti suasana mas, lukisan di setiap sudut itu sudah jadul."


Kevin menyerahkan sebuah proposal ke hadapan Damar.


Berisi rincian kerja sama, hitam diatas putih.

__ADS_1


"Akan aku pelajari terlebih dulu. Nanti mas kasih kabar saat sudah tanda tangan."


Damar tersenyum pada Kevin lalu menyerahkan proposal itu ke arah Sekar.


Setelah membahas urusan bisnis, mereka berempat menyantap makanan yang sudah dipesan.


Damar melirik kearah Juli yang sangat cantik.


Rambutnya dibiarkan terurai berantakan, apalagi atasannya pas badan.


Menambah kesan seksi, kenapa Damar jadi mesum.


"Kevin,


menurutmu bagaimana reaksi ayah kalau aku menjalin hubungan dengan Sekar ?"


Uhuk uhuk . .


Sekar tersedak mendengar perkataan Damar yang aneh baginya.


Tangan Juli yang memegang sendok seketika gemetar.


Ia sembunyikan diatas pangkuannya.


Kevin menyadari itu lalu menggenggam memberinya kekuatan.


"Entahlah.


Bukankah ibumu juga mantan sekretaris kakek.


Dan ayah menikahinya, itu tidak akan mudah mas."


Kevin tersulut emosinya oleh sikap Damar.


Kevin tahu dia sengaja melakukannya agar Juli cemburu lalu mundur melupakannya.


"Darah memang kental Kevin.


Aku mewarisi sifat Ayah dan ibuku."


Brak . .


Kevin memukul meja dengan tangannya.


Kenapa Damar semakin menjengkelkan.


"Cukup !


Bisakah kalian tidak membawa masalah keluarga kalian untuk kami dengar ?"


Juli menatap kearah Sekar.


Ia tidak mampu melihat kakak beradik itu bertengkar.


"Kevin aku pulang sekarang, terima kasih untuk makan malamnya."


Juli pergi meninggalkan mereka, segera Kevin mengejarnya.


"Saya kecewa sama bapak,


bapak pengecut yang lari dari masalah."


Sekar juga ikut meninggalkan Damar sendirian.


Bisa bisanya dia menyeret Sekar kedalam masalah pribadinya.


Bahkan Sekarpun bisa menilai kalau Damar menyimpan rasa pada Juli. Hanya saja entah kenapa Bosnya malah menyakiti gadis malang itu.


"Juli tunggu !"


Kevin menghadang langkah Juli yang terus berjalan menjauhi Kafe.


"Apalagi Kevin ?"


"Juli aku tahu kamu menyukai Damar. Aku akan membantu kamu agar bisa mendapatkan hatinya."


Kevin mencoba meyakinkan Juli agar percaya.


"Kenapa orang besar seperti kalian bertingkah seenaknya.


Jangan memberi harapan semu Kevin, dia hanya menganggapku adik perempuannya."


Juli menyetop taxi yang kebetulan lewat.


Kevin hanya termenung mendengar ucapan Juli.


Benarkah pemikiran Kevin selama ini ?


Damar memang tidak bahagia dengan kehadirannya sebagai adik.


Dia lebih berharap kalau bayi yang terlahir dari Zara adalah perempuan.


Malam itu Kevin sadar akan kata kata Damar kakaknya.


Bahwa darah memang lebih kental dari pada air.

__ADS_1


__ADS_2