Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#139


__ADS_3

Di dalam ruangan seorang dokter Juli terlihat jelas sangat gugup.


Damar selalu menggenggam tangannya memberi kekuatan.


Detak jarum jam seolah Juli harapkan berhenti saat itu juga.


Ada perasaan sedih ia harus mengambil langkah ini.


Hati kecilnya mengatakan kalau Juli tidak ingin menunda kehamilan.


Tapi ia juga perlu memikirkan masa depannya.


"Kalau suntik, harus pas Juli lagi datang bulan.


Laporan disini Juli baru 2 hari yang lalu kelar haid.


Kalau diajak hubungan kemungkinan peluang hamilnya besar."


Damar menghela nafas kasar mendengarnya.


Artinya dia harus menunggu selama 1 bulan lagi demi memperawani Juli.


Wajar bukan jika seorang suami meminta hak untuk menyetubuhi sang istri.


"Kak Tiara, aku gak mau pakai alat kontrasepsi atau spiral gitu.


Ngeri bayanginnya kak."


Juli bergidik menolak pilihan kedua yang Tiara berikan.


"Iya aku juga setuju Juls, kamu masih muda ini.


Berarti kamu coba pakai pil KB aja ya ?


Ingat Juls, jangan sampai ada yang terlewat diminum.


Aku kasih resep obatnya."


Tiara menulis nama merk obat dengan cepat lalu menyerahkannya ketangan Juli.


"Memang kalau telat sehari bisa hamil ?"


Damar meminta penjelasan mendetail.


"Tergantung masa kesuburan Juli juga saat kalian berhubungan intim.


Gini deh, kalau ada apa apa kalian sharing aja sama aku oke ?"


Sebagai dokter kandungan Tiara sangat memahami posisi pasangan baru ini.


"Thanks ya Ra, aku harap kamu segera menyusul sama Bara."


Damar mengajak Juli menyudahi konsultasi mereka.


"Iya mas sama sama.


Juli jangan lupa jadwal minum pilnya."


Tiara mengantar mereka sampai depan pintu.


"Iya kak, sampai nanti."


Selama perjalanan menuju suatu tempat, Damar masih fokus menyetir tanpa mengajak Juli berbicara.


Pikirannya juga kacau, satu sisi dia ingin segera memiliki anak diusianya yang hampir menginjak 32 tahun.


Di sisi lain Damar harus bisa mengerti keputusan Juli istrinya.


"Bapak marah sama aku ?"


Juli bertanya tanpa basa basi.


"Enggak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu."


Jawab Damar berbohong.


Sebnarnya dia tidak marah, hanya kecewa pada keadaan mereka saat ini.


"Apa ?"


Tanya Juli lagi belum ingin menyudahi pembicaraan serius antara dirinya dan suami.


"Tentang waktu yang berjalan lambat. Padahal aku sudah mengharapkan itu sejak mengenal kamu."


Ambigu jawaban Damar dirasa oleh Juli.


"Bapak mempermasalahkan kuliahku kan ?


Apa harus aku hamil sambil kuliah, atau berhenti saja demi hamil ?"


"Juls . ."


Damar memohon agar Juli tidak memulai pertengkaran.


"Aku ngerti perasaan bapak, bapak ingin segera memiliki seorang anak. Kasih aku waktu buat mewujudkannya pak, aku mohon.


Hati aku sakit setiap melihat bapak diamin aku kayak gini."


Dengan cepat Juli mengusap kasar air matanya.


Sungguh ia tidak ingin menangis didepan Damar.


Setelah menikah perasaan Juli berubah jadi lebih sensitif.


Ia sendiri bingung kenapa, Juli harus bisa mengontrol emosinya.


"Hey jangan nangis dong . ."


Damar menepikan mobilnya demi membujuk sang istri.


"Aku minta maaf kalau sikap aku keterlaluan."


"Aku mau pulang."


Pinta Juli tak memperdulikan permohonan maaf dari Damar.


"Pilnya ?"


"Nanti aku pakai jasa belanja online aja."


Juli lebih cekatan dibanding Damar. Zaman sekarang apa apa serba mudah, bisa dilakukan dirumah saja.


Damar menuruti keinginan Juli untuk segera pulang ke rumah.


Sudah baikan atau belum Damar juga tidak tahu pasti.

__ADS_1


Kenapa Damar masih saja dengan sikapnya, diam ketika ada masalah atau sesuatu yang ia pikirkan.


Juli beranggapan dirinya salah dimata Damar.


Saat kematian nenek, dan sekarang soal kehamilan.


Juli maunya mereka saling terbuka satu sama lain agar masalah cepat berlalu.


Semoga saja kedepannya Damar bisa Memahami situasi.


Setibanya mereka dirumah, Kevin tengah duduk santai disofa ruang TV. Kebetulan hari minggu ia juga bisa libur.


"Habis dari mana ?"


Kevin berbasa basi pada Damar.


Aneh juga kalau dia harus cuek bebek sama keluarga sendiri.


"Ketemu Tiara , ,"


Jawab Damar, Juli langsung masuk ke kamar tanpa menyapa.


"Take a shot ?"


Kevin kepo deh, Damar sedikit mendengus.


"Yes, tapi kita pilih option pil."


Damar jadi tertarik duduk disofa. Mungkin sharing ke Kevin bisa sedikit mengurangi pikirannya.


"Sebisa mungkin mas Damar harus mengerti posisi Juli.


Biasanya seusia dia memang belum siap buat hamil."


Kevin mendadak sangat bisa memahami Juli.


Bukan menyangkut perasaannya, melainkan posisinya sebagai seorang dokter.


"Sepertinya sekarang kamu yang lebih mengenal Juli."


Damar menatap Kevin yang masih memajang wajah santainya.


"Yaelah, balas dendam nih.


Gue kan bicara kayak gitu sebagai seorang dokter.


Udah ah gue mau ketemuan sama Sekar."


Kevin menepuk paha Damar sebelum berdiri.


Damar mengerutkan keningnya tak percaya.


"Kalian lagi pedekate ?"


Giliran Damar kepoin adiknya.


"Ya kita lagi coba jalani aja dulu, yang pasti gue gak bakal main petak umpet seperti mas Damar."


Kevin meledek kakaknya, karena dulu kisah asmara Damar cukup rumit dibuat oleh dirinya sendiri.


"Nyindir . ."


Damar melempar bantalan sofa kearah kaki Kevin.


Hubungan mereka kembali hangat seperti sebelum rebutan Juli.


Setelah pintu terbuka, dilihatnya sang istri sedang asik memainkan handphonenya.


"Lagi apa ?"


Damar duduk ditepi ranjang memperhatikan.


"Ini, save nomer kak Adam. Sekarang kan satu kantor."


Jawab Juli ringan.


"Kalian tuh deket banget ya dikampus ?"


Mendengar pertanyaan Damar Julipun menyimpan handphonenya diatas nakas.


"Senior dikampus pak, kak Adam beberapa kali bantu aku.


Apalagi pas kena DBD."


Damar manggut manggut tanpa melirik Juli.


"Kenapa, bapak gak percaya sama aku ?"


"Aku percaya. Tapi kalian akan sering bertemu nantinya, setiap hari lagi.


8 jam dalam sehari kamu habiskan bersama dia Juls."


Seakan tidak terima dengan kenyataan kalau Adam bergabung di DGC.


"Pak Damar, ini masalah pekerjaan. Aku gak mau kita berdebat hanya karena orang lain."


Juli berdiri, kakinya melangkah menuju pintu.


"Kamu mau kemana ?"


Tanya Damar.


"Aku sumpek pak, aku mau izin bikin kue didapur."


"Kamu bisa pastry juga ?"


Damar baru tahu kemampuan Juli selain dibidang masak.


"Hmm, tapi aku tidak begitu percaya diri."


Juli berusaha menebar senyum pada Damar untuk meluluhkan hatinya. Supaya tidak ada pertengkaran kecil seperti tadi lagi.


"Bikin yang pakai keju ya Juls !"


Tak kalah manis senyum yang Damar ukir.


Dengan segala keterbatasan bahan bahan, Juli mampu menyelesaikan beberapa loyang pastry keju.


Selain keju meleleh didalamnya Juli juga menaburkan gula pasir dan parutan keju sebagai toppingnya.


Wanginya menyeruak diseluruh ruangan.


Hati Juli menjadi lebih baik saat dirinya berhasil membuat sesuatu didapur.


Juli pernah mengikuti ekskul pastry di sekolah Kejuruannya.

__ADS_1


Karena kekurangan perlatan Juli jadi enggan menggeluti bidang tersebut.


"Hmm . . . Wangi sekali."


Zara diikuti Grand Ma mendatangi sumber pemikat indera penciuman mereka.


"Mama sama Grand Ma udah pulang ?


Pas banget pastrynya jadi. Cicipin dong ma, Grand Ma. Enggak tahu rasanya gimana, baru lagi Juli bikin ini."


Juli berjalan membawa piring berisi pastry keju buatannya.


"Full package banget ya istrinya Dee . ."


Grand Ma mengambil lalu memasukkan kue kering berbentuk panjang itu kemulutnya.


Entah pujian atau apa yang pasti Juli lega Grand Ma tersenyum padanya.


"ih ini enak Juls, ajarin mama dong kapan kapan."


Puji Zara pada menantu pertama dikeluarganya.


"Mama bisa aja, Juli juga masih banyak belajar."


"Kamu bikin banyak ?


Nanti bisa buat hidangan tahlilan Juls."


Grand Ma ternyata mengakui hasil tangan Juli.


Padahal kalau tidak enak Juli akan menyuruh suaminya menghabiskan.


Apapun Damar suka jika terdapat banyak keju dimakanannya.


"Juli sisain sepiring ya Grand Ma, soalnya pak Damar suka banget sama keju."


"Eh kok masih manggil bapak, Damar kan bukan bapak kamu Juls.


Yang mesra sedikit gitu panggilannya."


Kena lagi deh Juli oleh Grand Ma.


"Juli malu Grand Ma, masih belum terbiasa.


Bingung juga mau panggil apa."


Juli menundukkan kepalanya.


"Coba pakai -Mas- atau abang.


Mama dengar dari Damar papinya Juli batak ya ?"


Zara memberi saran, karena Damar asli lahir di Yogyakarta. Sedangkan Juli masih berdarah Tiongkok Batak.


"Nanti Juli coba mah. ."


Juli terkekeh geli membayangkan dirinya memanggil mesra sang suami dihadapan keluarganya.


"Grand Ma harap kalian gak nunda punya momongan.


Apalagi usia Damar kan sudah sangat matang."


Kenapa Juli harus diingatkan lagi soal kehamilan.


Emosional lagi perasaannya.


Juli juga tidak ingin menunda, iapun berharap jadi wanita seutuhnya bisa melahirkan seorang anak.


Tapi mereka seakan lupa kalau diusianya, Juli belum siap mental.


Juli hanya tersenyum kaku menanggapinya.


"Mih, kan mereka berhak memutuskan jalan mereka sendiri.


Kita orang tua harus mendukung dan mendoakan."


Zara menangkap kalau Juli tidak suka membahas masalah itu, ia memberi pengertian pada Aulia.


"Grand ma hanya memberi saran. Banyak loh diluar sana wanita susah pengen punya anak."


Lagian seusia Juli cukup kuat kok buat hamil."


"Terima kasih Grand Ma nasehatnya. Juli akan ingat selalu, kalau gitu Juli ke kamar dulu mau ngasih ini."


Juli pamit dengan sepiring pastry keju untuk Damar.


Rasanya sudah tak kuat menahan air matanya. Cepat cepat Juli menjauhi area dapur menuju kamar tidurnya.


Saat ini belum ada yang mengerti perasaan Juli.


Mereka melihat dari sudut pandang luar.


Tapi itu tidak salah memang, semua orang tua pasti mengharapkan hal yang sama.


Yaitu segera mendapat keturunan baru dalam silsilah keluarga.


"Hey kenapa ?"


Damar bingung, tiba tiba Juli menangis sesenggukkan setibanya didalam kamar.


"Tiba tiba keinget mami papi.


Juli kangen sama mereka, sedih mereka gak bisa lihat Juli menikah hiks . . . hiks . . ."


Untung saja Juli punya alasan lain menutupi kesedihan dalam hatinya.


Artinya ia tidak jujur pada suaminya sendiri.


"Sst . . tenanglah Juls, kemari !"


Damar memeluk tubuh Juli yang menangis sesenggukkan.


"Aku minta maaf . . ."


Suara Juli tertahan menempel didada Damar.


"Untuk apa ?"


"Karena cengeng."


Damar malah terkekeh mendengarnya.


"Kamu gadis kuat Juls. pasti ini terlalu berat sampai kamu seperti ini."


Damar membelai rambut Juli mesra.

__ADS_1


Iya, ini masih terlalu sulit dipahami oleh Juli istrinya.


kalau saja tidak serba mendadak Juli mungkin bisa mempersiapkan diri dengan segala konsekuensi berumah tangga.


__ADS_2