Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#127


__ADS_3

Juli orang pertama yang tiba di ruangan itu.


Ia duduk dikursi mulai menyalakan laptopnya.


Memindahkan beberapa file penting demi kelancaran proses kerjanya.


Tak lama kemudian datanglah Malvin dan Miley.


Juli berdiri menyapa kakak beradik super cool menurutnya.


"Pagi pak Malvin, bu Miley.


Mau saya buatkan kopi atau teh ?"


Juli menawarkan bantuan, ia tahu betul seorang anak magang biasanya melakukan tugas tersebut.


"Nope Juls, kamu tidak perlu melakukan hal begitu.


Akan ada petugas hotel melakukannya untuk kita dan juga kamu."


Miley menepis tangannya kearah Juli lalu duduk dikursi kebesarannya.


"Jadi, apa kamu sudah mempelajari semua materinya ?"


Malvin berjalan mendekati Juli, laki laki itu bahkan duduk diatas meja kerja Juli.


"Sudah pak."


Juli gugup dipandangnya, ia mengalihkan ke sekeliling agar tidak bertemu mata dengan Malvin.


"Malvin !


Ada mas Damar dibelakangmu . ."


Miley berteriak mengejutkan kakaknya. Sontak Malvin gelagapan berdiri melihat ke pintu.


"Haha kena kamu !"


Miley tertawa terbahak bahak puas mengerjai Malvin.


"Sialan !"


Malvin mengumpat pada Miley.


"Kalau dia macem macem sama kamu, tinggal lapor saja sama mas Damar. Malvin takut banget sama dia."


Miley memberi saran pada Juli.


Tidak disangka, itu akan berpengaruh dikemudian hari.


"Hehe baik bu."


Juli menahan tawa menyaksikan tingkah mereka.


Menggemaskan sekali interaksi keduanya.


"Pagi tim . ."


Suara laki laki masuk ke ruangan dengan gagahnya.


-Dia mau apa disini ?-


Tanya Juli dalam hati.


"Bu Desi tidak bisa hadir karena anaknya sakit.


So, Juli akan ikut aku ke DGC bertemu client.


Dia harus terjun langsung."


Damar menatap Juli intens, sementara objeknya melirik ke arah Miley dan Malvin.


"Ide bagus itu, kalian pergilah.


Aku masih harus membuat laporan keuangan.


Dan Malvin dia akan menemui beberapa penyewa untuk taken contract."


Juli berharap sebaliknya, kenapa Miley malah menyetujui dia pergi bersama Damar.


"Ayo !"


Perintah Damar, Juli terlihat lesu meraih tas beserta laptopnya.


Di lobi mereka hampir saja keluar dan lolos dari marabahaya.


Pada akhirnya tetap saja bertemu dengan seseorang yang sangat Damar ingin hindari saat ini.


"Mas Damar . ."


Perempuan bertubuh jenjang itu berhambur manja memeluk lengan Damar.


"Lepaskan Jihane !"


Damar segera menepis tangan Jihane.


"Mas kan janji hari ini mau makan siang sama aku."


Jihane merengek membuat Damar pusing kepala.


"Aku banyak pekerjaan, kenapa kamu tidak ajak saja selingkuhanmu ?"


Damar tidak akan menutupi keburukan Jihane.

__ADS_1


"Apa sih maksud kamu ?


Ooh . . Jadi gara gara ada dia kamu dingin sama aku ?"


Jihane menunjuk Juli melalui sorot mata tajamnya.


"Kamu mengkhianatiku Jihane disaat kita hampir bertunangan.


Hinanya lagi kamu memilih lelaki brengsek macam Romi."


Damar membentak Jihane, dia berteriak tidak memikirkan sekeliling.


Juli melongo menatap punggung Damar. Jadi itu alasan yang membuat Damar mabuk semalam.


"Mas, , kamu semalam ke rumah ?"


Iya benar Jihane, Damar datang ke tempat tinggalmu yang jaraknya hanya beberapa puluh meter saja dari rumah neneknya.


Dan sialnya pintu rumah lupa tidak Jihane kunci.


Damar menyaksikan adegan ranjang Jihane bersama Romi.


Entah bagaimana keduanya bisa saling kenal.


Diamnya Damar membenarkan dugaan Jihane.


Juli setia berdiri dibelakang menyaksikan pertengkaran sang mantan kekasih.


"Ayo Juls, kita bisa terlambat."


Damar meninggalkan Jihane begitu saja lalu menuju mobinya yang sudah siap.


"Sial !"


Umpat Jihane kesal.


"Biar aku yang nyetir."


Juli menawarkan diri, karena ia tahu Damar akan membawa mobil sedan keluaran Honda.


"Yakin kamu bisa ?"


Damar ragu.


"Kalau porsche memang aku tidak bisa."


Juli merebut kunci dari tangan Damar kemudian duduk di kursi kemudi.


Sudah setengah jalan mereka tetap saja saling diam.


Juli tidak akan pernah berani mengungkit masalah Damar, bukan haknya untuk ikut campur.


Keluar dari pintu tol Juli masih harus mengendarai mobilnya membelah jalanan yang cukup mendaki.


Tiba tiba Damar meminta Juli menghentikan laju mobil.


Julipun menurut, ia menyalakan lampu sign kedua sisi.


"Ada apa ?"


Ketika Juli menengok kesamping, Damar langsung mencium paksa bibir Juli.


Seperti sebuah pelampiasan balas dendam, ciuman Damar sedikit brutal dan menuntut.


Juli memukul dada laki laki itu berulang kali karena merasa kehabisan nafas.


"Hmm . ."


Lenguh Damar merasa semakin terangsang oleh penolakannya.


Tahu Juli mulai sesak Damar memberi jeda melepaskan bibirnya.


Juli menatapnya tajam lalu melepas seatbeltnya, ia keluar mencari udara segar didepan mobil.


Damar menyesali perbuatannya yang memaksa tadi.


Diapun mengikuti Juli dan berdiri dibelakangnya.


"Maafkan aku Juls . ."


Ucap Damar bernada sesal.


"Aku gak ngerti apa mau bapak, hubungan kita salah jika terus seperti ini."


Juli melipat kedua tangannya didada menatap jauh ke jalan utama yang cukup sepi di jam kerja.


"Kamu harus menentukan siapa diantara kami."


"Bapak jangan memaksa karena aku tidak bisa.


Aku sudah sejak lama memutuskan memilih Kevin."


Juli menjawab penuh penekanan berharap Damar mau mengerti posisinya.


"Oke, ,


bagaimana kalau kamu akhirnya memang tidak bisa menerima kesibukannya ?"


"Bukan berarti setelahnya aku langsung memilih bapak.


Perasaanku bukan untuk dilelang begitu saja."


Damar mengalah, dia tidak lagi meneruskan perjuangannya membujuk Juli.

__ADS_1


"Masuk Juls, biar aku yang menyetir."


Juli malah tertawa mendengarnya.


"Kenapa ?"


"Ternyata benar kata pak Malvin,


Udah dekat aja mau nyetir."


Juli menyusul Damar masuk kembali ke mobil.


Di rumah sakit,


Kevin memasuki ruang kerja miliknya yang baru.


Tiara selalu membuntutinya sejak sebelum perkenalan Kevin pada seluruh staf MHospital.


"Apa lagi sih Ra . . ?"


Kevin duduk dikursi kebesarannya mulai membaca baca laporan.


"Ada satu hal gue mau pastiin sama kamu, ,"


Tiara duduk disofa khusus tamu di sebrang meja Kevin.


"Apa ?"


Tanya Kevin tanpa meliriknya, dia masih fokus mempelajari keadaan managment perusahaan.


"Loe yakin sama hubungan kalian ?"


Merasa tidak leluasa bicara diposisinya Tiara pindah duduk dikursi depan Kevin. Ia mencondongkan badannya memandangi Kevin.


"Yakinlah, memang kenapa ?"


Tanya Kevin santai.


Sejujurnya Tiara ingin mengatakan kalau Juli dan Damar mungkin saja masih saling menyayangi.


Hanya saja mereka rela berkorban demi menjaga perasaan bocah dihadapannya itu.


"Gue sih kasihan sama Juli, dia punya pacar seorang dokter yang nantinya bakal super sibuk.


Masih yakin dia bakal tetep betah sama loe ?"


Tiara berhasil mendapat perumpamaan lain agar tidak menyinggung perasaan sepupunya.


Dan penjelasan Tiara berhasil mengalihkan perhatian Kevin. Dia menjeda halaman laporan menggunakan kedua tangannya.


"Akan aku pikirkan masalah itu, terima kasih sudah peduli."


Kevin menanggapi kekhawatiran Tiara biasa saja. Meski dalam hatinya dia juga sangat takut juga cemas.


"Gue mau maksi di MCafe, loe chat aja ya mau dibawain makan apa."


Tiara bangkit dari kursi.


"Gak usah Ra, aku ada rencana makan siang bareng Juli disekitaran hotel."


Kevin menolak tawaran Tiara.


Tiara terkejut mendengarnya.


"Maksud loe Juli magang disono ?"


Tiara memang tahu Juli dijadwalkan magang.


"DGC lebih tepatnya."


Kevin mengoreksi.


"Yaelah sama aja kali,


laters Kevin."


Tiara keluar dari ruangan bertuliskan Wakil Kepala Rumah Sakit.


Diangkatnya Kevin sebagai wakil kepala sudah lumrah dimata karyawan rumah sakit.


Selain cucu dari pendiri, Kevin juga membuktikannya dengan memiliki track record cukup baik menghandle operasi.


Tinggal menunggu waktu saja dia akan menjadi Kepala Resmi.


Kepala Resmi bukan berarti kepala tim dokter.


Kevin akan membawahi dan mengawasi kelancaran operasional rumah sakit.


Posisi aslinya baru berstatus dokter spesialis bedah baru.


Jadi banyak penyesuaian yang harus Kevin pelajari dan pahami.


Bukan sekedar menangani pasien, Kevin juga bertanggung jawab memimpin rumah sakit dibawah Kepala.


Jabatan Kepala masih dibawah pengawasan ahli kepercayaan Ditya.


Selain waktunya pensiun, pria bertitel Profesor doktor itu merasa hutang budi pada Mahesa sahabatnya.


Dia diminta mengemban tugas sementara menyiapkan keturunannya yang akan meneruskan.


Kevin bertekad mempelajari laporan beserta tugasnya sebelum jam makan siang.


Pagi tadi sebelum berangkat dia sudah membuat janji untu makan siang bersama Juli.

__ADS_1


__ADS_2