
Berhubung Ditya sudah berpengalaman, kalau istri sedang hamil disarankan tidak berhubungan intim. Ia membiarkan Zara tidur bersama Dee untuk beberapa minggu terakhir.
Seperti malam ini, Zara masih seranjang dengan Dee yang terus saja menempel padanya.
"Aww . ."
Tidur Zara terganggu ketika kaki Dee tak sengaja menendang perutnya.
"Dee, perut mama sakit. Dee bangun !" Anak itu masih nyenyak tak mendengar rintihan Zara.
Ditya masuk kebetulan mau mengajak Zara kembali ke kamar, karena sudah melewati trisemester pertamanya.
"Ra kamu kenapa ?"
Ia melihat Zara tengah meringis kesakitan.
"sakit, sepertinya perutku kram."
Tak ingin terjadi apa apa, Ditya membawa Zara ke rumah sakit. Biarkan Dee dijaga bi Mia pengasuhnya.
"kamu harus kuat Zara . ."
Gumam Ditya menunggu istrinya yang masih diperiksa.
"om gimana keadaan Zara ?"
Dr. Rahman baru saja keluar dengan raut wajah tak bisa ditebak oleh Ditya.
"Keadaan Zara sangat lemah, dia harus bedrest Dit. Beruntung bayi kalian selamat meski sempat terjadi benturan cukup keras."
Ditya bersyukur Zara dan calon anaknya baik baik saja. Tapi apa maksudnya dari benturan, apa Dee sempat menendang ketika tidur. Ingin rasanya marah, tapi Dee adalah anaknya sendiri. Lebih baik Ditya melihat keadaan Zara di dalam.
"mas ini jam berapa, Dee sama siapa ? Dia harus siap siap sekolah mas."
Itulah kata pertama yang terlontar ketika Zara sadar.
Hanya anak sambungnya yang ia pikirkan. Bahkan Zara lupa kalau Dee sempat menendang perutnya ketika tidur.
"tenang sayang, bi Mia kan sudah terbiasa menjaga Dee."
"mas aku gak mau jauh sama Dee kalau dia diurus pengasuh. Aku takut ada jarak diantara kami."
Alasan kuat yang selama ini Zara pegang teguh. Kenapa ia rela menjalani kesibukannya mengurus Dee.
Zara tidak ingin Dee menganggap dirinya hanya ibu sambung yang enggan merawatnya.
"sementara aja Ra, selagi kamu disini."
Ditya berusaha meyakinkan istrinya.
"kalau begitu, aku mau pulang sekarang mas !"
Mau tidak mau Ditya harus menuruti keinginan Zara yang memaksa. Padahal Dr. Rahman menyarankan Zara di rawat.
"mama . ."
Dee menyambut Zara yang tiba dirumah tepat saat ia akan berangkat ke sekolah.
__ADS_1
"Maafkan mama ya sayang, mama gak bisa nyiapin perlengkapan sekolah kamu."
"it's ok ma, Dee kan udah mau jadi mas udah besar.
Maaf ya ma kalau Dee tidurnya gak mau diem, semoga adik bayi baik baik saja."
Ditya menghela nafas mendengar penuturan anaknya. Benar saja kalau Dee sempat menendang perut Zara saat tidur.
"Dee ayo berangkat, pak Halim sudah nunggu."
Ditya menarik tangan Dee dan menuntunnya masuk kedalam mobil.
Dee membuka kaca dan melambaikan tangannya pada Ditya dan Zara.
"Mas kenapa muka kamu, apa kamu sedang marah ?"
Zara melihat perubahan sikap Ditya saat meminta Dee segera berangkat.
"Mulai sekarang kamu tidak boleh tidur dengan Dee lagi. Aku tidak ingin kamu kenapa kenapa Ra."
Raut wajah Zara mendadak masam, tak mengerti kenapa Ditya melarangnya dekat dengan Dee.
"mas kamu tidak salah bicara ?
Itu sama saja kamu menjauhkan kami berdua. Lagipula ini bukan kesalahannya, akunya saja yang lemah. Salahkan aku dan jangan Dee yang menjadi korban."
Untuk pertama kalinya Zara marah pada suaminya, ia pergi masuk kedalam tanpa berpikir lagi.
"kenapa, kenapa aku harus menjauh dari Dee ? Bukankah kamu ingin aku merawatnya, lalu untuk apa aku jadi istri dan ibu baginya ?"
"dengarkan aku Zara, aku tidak bermaksud melakukan hal itu. Dee punya kebiasaan tidur yang kurang baik bagi kesehatanmu. Tolonglah mengerti, lagipula kita harus membiasakan Dee tidur sendiri."
Ditya menyusul Zara hingga ke kamar, ia masih harus menyelesaikan masalah sampai tuntas.
"mas aku tahu alasanmu begini, kamu sudah tidak sabar ingin melakukannya kan ? Apa aku ini alat pemuas kebutuhanmu ?"
Zara menatap tajam mata Ditya, hormon kehamilannya membuat emosi Zara cepat naik. Ia bahkan merasa bukan dirinya yang mudah marah.
"aku tidak munafik Ra, itu juga termasuk alasan kamu harus tidur di kamar ini lagi."
Ditya mulai mencium bibir Zara yang semakin menggoda ketika marah marah. Terus menuntut istrinya membalas, sudah lama sekali Ditya tidak melakukannya.
"uhmm . ."
Lenguhan Zara mulai terdengar karena lidah mereka mulai bergerak liar.
Tangan Ditya mulai mere*as dua gunung kembar milik Zara yang semakin membesar karena ulahnya.
"aah, benar kan mas kamu hanya ingin tubuhku hmm . ."
Zara tidak kuat menahan mulutnya untuk tisak mensesah.
Ditya menghentikan aksinya, ia menatap Zara penuh tanda tanya.
"aku mencintaimu Zara."
Bisiknya ditelinga Zara dengan nafas panas memburu.
__ADS_1
"mmm . ."
Mulut Ditya kini sudah sibuk menyedot pay*dara Zara. Perempuan itu selalu saja terbuai dengan sentuhan suaminya.
Pelan namun panas, percintaan mereka terjadi setelah sekian lama menahan diri demi adik bayi yang kini usianya 4 bulan.
Puncak kenikmatan terasa secara bersamaan oleh keduanya. Ditya tidak pernah membiarkan Zara merasakannya lebih dulu.
"turuti perintahku sayang, aku ini suamimu. Tidak ingin kamu kenapa kenapa."
Ucap Ditya yang masih memeluk Zara dari belakang, ia hanya menganggukkan kepala tanda menurut.
Malam itu sedikit ada perubahan baik bagi situasi rumah tangga Ditya dan Zara. Dee juga belajar terbiasa tidur sendiri tanpa membangunkan mamanya.
Zara menyimpan kepalanya didada Ditya untuk mencari kenyamanan.
Meski tidur Ditya beberapa kali tersenyum, mungkin saja memimpikan sesuatu yang indah.
Untuk kali ini Ditya tidak akan pernah menyia nyiakan seseorang yang sudah berkorban demi dirinya.
Hanya sebuah pengampunan yang dia harapkan agar segala kesalahannya dimasa lalu bisa di maafkan oleh Tuhan.
"mas bangun !
ayo kita sholat subuh berjamaah."
Zara yang sudah mandi membangunkan sang suami.
Ditya menggeliat mencoba membuka matanya, ia tersenyum kala melihat Zara mengenakan mukena.
cantik dan bersinar, sayang dia tidak bisa menyentuhnya.
Dengan perasaan semangat dipagi hari Ditya berjalan menuju kamar mandi.
terlihat senyum bahagia menghiasi wajah Zara melihat Ditya perlahan lebih mendekatkan dirinya pada sang pencipta.
"apa ini sudah happy ending mas ?"
batin Zara selalu memikirkan hal hal yang jauh dari kata zona aman. Ia selalu menyiapkan dirinya agar siap menghadapi segala masalah dalam rumah tangganya.
Keduanya selesai menjalankan ibadah sholat subuh berjamaah.
menengadah merapalkan do'a dan harapan untuk kehidupan lebih baik lagi.
"Aku mencintainya, tolong jangan pisahkan aku dan dia. biarkan kami tetap bersama didalam suka dan duka."
untaian do'a yang Zara ucapkan didalam hatinya seraya mengangkat kedua tangannya.
"Ampuni semua dosa dosaku, jadikanlah aku imam dan ayah yang baik bagi keluarga kecilku. Amin . ."
"Amin . ."
Zara mencium punggung tangan Ditya yang meletakkan tanggannya diatas ubun ubun snag istri.
"Aku akan buat sarapan mas, tolong lihat Dee di kamar."
Ditya mengangguk tersenyum kemudian Zara turun ke bawah dengan hati hati. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kandungannya.
__ADS_1