Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#91


__ADS_3

Keadaan kitchen sungguh memanas. kobaran api disetiap kompor yang menyala, gesekan antara spatula dan wajan nyaring di telinga.


Orang orang sibuk kesana kemari melakukan tugasnya masing masing.


Juli masih berdiri menatap penuh ragu.


Kenapa dia dipanggil kalau memang tidak ada pekerjaan untuknya.


Daripada berdiri mematung, Juli lebih memilih mencuci peralatan kotor.


"Juls tinggalkan itu, tolong kamu bantu saya siapkan piring."


Pak Geri adalah leader di shift saat itu, dia bapak bapak tampan jago masak.


Anaknya sudah dua dan mereka cukup akrab hingga Juli tahu kehidupannya.


"yes chef."


Juli kini bersemangat, adrenalinnya selalu meningkat saat melakukan plating.


Ia harus mengikuti tata plating sesuai prosedur. Meski dirinya selalu gemas ingin melakukan kreasinya sendiri.


"Jangan sok pintar kamu Juls, plating sesuai SOP."


Perintah salah satu crew wanita yang usianya mungkin sama dengan pak Dosen.


"Jangan dengarkan dia !"


Geri meminta Juli agar tidak tersinggung, fokus saja pada hidangan dihadapannya.


"Apa sudah ready semua ?"


Alin datang untuk mengambil menu menu yang dipesan oleh bosnya.


"Yes mam."


Gery mantap menjawabnya, kemudian ia menaruh setiap menu pada troli.


Alin dibantu Waitres melayani Mr. Dee dan keluarganya.


Mereka tengah asik berbincang di meja VIP.


Sesekali canda tawa terdengar menyenangkan.


Sekar juga ikut menemani Damar jika sewaktu waktu membutuhkan sesuatu.


"Silakan ibu bapak, kami harap kalian menyukai menu andalan kami."


Alin tidak pamit, ia akan menunggu penilaian atau saran yang mereka sampaikan.


Ia berdiri bersama Sekar.


"Uhuk uhuk . ."


Mendadak Zara tersedak, membuat semua khawatir.


"minum dulu mah !"


Damar yang duduk disamping Zara memberinya gelas berisi air.


"Apa mama tidak merasa ini terlalu pedas ?"


Zara memastikan rasa saus dari blackpaper yang ia makan pada Atikah.


"Iya Zara, kamu benar.


Harusnya ada standard tingkat kepedasan, bagi kita yang tidak suka pedas."


Bu Atikah merasa hal yang sama pada Aglio e olionya.


Padahal sebelumnya Damar sudah memesan agar jangan pedas.


"Alin tolong jelaskan, kenapa makanan malam ini kacau sekali.


Saya pikir standardnya sama dengan yang sering saya makan."


Damar menyelidik ekspresi Alin yang gugup.


Pasti ada yang tidak beres dengan karyawannya.


"Maafkan saya Mr. Dee.


Anak anak selalu berusaha menyamakan standard.


Beda tangan selalu berbeda pula rasa yang dihasilkan.


Akan saya perbaiki kinerja mereka."

__ADS_1


Damar menghela nafas sebelum mengatakan sesuatu.


"Kami akan menunggu.


Tolong siapkan makanan yang biasa saya pesan, dan crew yang pertama membuatnya harus melakukan itu."


Damar memberi ultimatum pada Alin.


"Yes sir."


Alin percaya diri karena ia sudah memanggil Juli untuk hal ini. Harusnya sejak awal Alin membiarkan Juli yang melakukan semua itu.


"Dengarkan saya baik baik !


Mr. Dee komplain habis habisan gara gara blackpaper dan aglio e olio.


Sisca bukankah kamu bertanggung jawab bagian saus ?


Lakukan dengan baik dan ikuti SOPnya.


Pak Geri tingkat kematangan yang bapak lakukan sangat baik."


Alin melaporkan hasil kerja timnya, Sisca berdecak kesal dibuatnya.


"Juli, tolong buatkan menu menu yang selalu kamu buat. Dari appetizer hingga dessert untuk 5 porsi.


Pak Geri akan membantu kamu."


Untuk kali pertama Juli tidak senang mendapat kesempatan itu.


Terlebih melihat raut wajah Sisca yang menatapnya tajam.


"Kenapa harus dia mam ?


Dia hanya pekerja harian, ini tidak adil bagi kami."


Benar saja, Sisca tak terima dan memberontak pada Alin.


"Cukup Sisca !


Lebih baik kita lakukan sekarang apa yang diperintahkan Mr. Dee.


Kamu akan fokus menangani layanan kamar juga pesanan tamu regular."


Geri menyudahi perdebatan yang terjadi.


Kali ini biar saya yang menjadi cook helper."


Kepemimpinan Geri Juli akui memang bagus.


Juli jadi bersemangat kembali setelah hampir ingin menangis.


"Yes chef."


Tangan Juli mulai sibuk menyiapkan sesuatu yang diperlukan.


"Mas Damar, jangan galak galak nanti tidak ada perempuan yang tertarik."


Kevin tersenyum sengaja meledeknya.


"Soal pekerjaan aku selalu tegas, tapi masalah perempuan aku tidak ingin bertindak sembrono."


Damar melirik kearah Ditya menyindirnya secara langsung.


"Kalian ini kalau ketemu pasti debat terus.


Kasihan nenek yang menjaga kalian."


Zara selalu menjadi penengah sejak dulu saat anak anaknya bertengkar.


"Sudah sudah, lebih baik kita makan sekarang keburu malam."


Perintah Atikah saat makanan sudah terlihat mendekat.


Setelah insiden komplain yang dilakukan Damar, makan malam akhirnya berlangsung lancar.


Keluarganya menyukai masakan yang kedua.


"Kalian naik keatas lebih dulu.


Damar masih ada pekerjaan."


Kevin bersama kedua orang tua dan neneknya ke kamar.


Sementara Damar diikuti Sekar menuju kitchen.


"Good job tim.

__ADS_1


Keluarga bos menyukai menu yang kedua.


Andai saja kamu mau bergabung Juls, aku akan menempatkanmu sebagai koki pribadi si bos."


Alin akui kalau crewnya memang tidak bisa memenuhi kriteria Damar. Tapi mereka juga sangat baik dalam menyajikan makanan untuk para tamu.


"Iya benar apa kata bu Alin Juls. Lagipula disini lagi kurang orang."


Geri ikut meyakinkan Juli agar menerima tawarannya.


"Oh jadi dia yang membuat menu selama ini ?"


Ternyata sejak tadi Damar sudah berdiri mendengar semua percakapan mereka.


"Mr. Dee


saya bisa jelaskan, tolong beri saya kesempatan."


Semua kelabakan melihat kemunculan Damar.


Terutama Juli yang tidak berani menatapnya.


"Apakah itu kamu tali sepatu ?


Maksudku Juliana."


Damar menyelidik untuk memastikan kalau dia tidak salah mengenali.


"Aku minta maaf pak Damar, aku tidak bermaksud merusak tim ini. Semuanya salahku tolong jangan hukum mereka !"


Sejujurnya Juli tidak ingin mengorbankan dirinya.


Ia hanya merasa perlu menyelamatkan Alin dan crew.


Kalau saja masakan Juli tidak sebagus itu, anak kitchen tidak akan mendapat masalah.


"Alin kapan jam kerja Juli selesai ?"


Tanya Damar.


"sudah 1 jam yang lalu pak, dia part time disini."


Alin khawatir kalau Damar akan memarahi Juli yang menurutnya tidak bersalah.


"kita bahas masalah ini besok diruangan saya.


Ayo Juli aku antar kamu pulang."


Damar menarik tangan Juli meninggalkan dapur.


Sekar dibuat heran olehnya, kenapa Damar tidak jadi menghukum mereka ?


Padahal sejak tadi dia kelabakan menahan emosinya.


"Sekar kamu boleh pulang,


tolong kosongkan jadwal setelah rapat dengan Alin selesai besok !"


Damar memberi tugas pada sekretarisnya.


"Yes sir."


Perempuan tinggi semampai itu meninggalkan Damar dan Juli untuk mengambil tasnya.


"Aku bisa pulang sendiri pak, tidak perlu repot repot."


Dilobi Juli berniat pamit, ia enggan jika Damar harus mengantarnya pulang.


"Kenapa ?"


Damar menuntut Juli menjawabnya.


"Karena bagiku bapak hanya seorang dosen.


Aku tidak bisa menerima kebaikan dari bapak.


Bapak tidak usah khawatir, saya tidak akan menerima panggilan kerja lagi disini."


Tanpa bisa ditahan oleh Damar, Juli pergi begitu saja.


-Bodoh kamu Juliana !


Bisa bisanya kamu menyukai orang seperti pak Damar.


Bercerminlah sebelum bermimpi, kamu tidak pantas untuknya.-


Sepanjang jalan Juli merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


Sungguh naas nasib yang ia miliki, Juli tidak berani lagi menyukai Damar setelah tahu dia adalah pemilik MHotel.


__ADS_2