Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Percikan api


__ADS_3

Sesampainya Ditya dikantor, dia langsung bekerja. Mengecek laporan 2 hotel sekaligus, dan membuat rincian rencana projek pembangunan yang dia menangkan tendernya.


Pikirannya harus tetap fokus meski terbagi dengan permasalahan keluarga. Posisinya juga sebagai calon Direktur utama perusahaan kontraktor MH Group sangat menyita waktu, membuat desain dan melakukan perincian budget serta daftar bahan.


Zoya sangat kasihan melihat suaminya harus bekerja keras. Apalagi nanti jika semuanya harus hilang begitu saja direbut Bima.


Ditya yang memberi perubahan pada kemajuan perusahaan yang ia pegang. Apa harus dia merelakannya diambil alih orang lain ?


"sh*it . ."


Saking kesal dan mentoknya pikiran Ditya, dia membanting penanya ke meja.


"Yan, masuk ke ruanganku sekarang !"


Dityaa memerintah Yani melalui sambungan telpon untuk menerima tugas yang akan dia berikan.


"ada yang bisa saya bantu pak ?"


Tanya Yani hati hati, melihat raut wajah Ditya yang masam ia tahu kalau sesuatu sedang terjadi.


"undang Abi Mahesa secara resmi, lakukan pertemuan tertutup dengannya. Akan saya beri kontaknya lewat email"


"maaf pak ? Abi . ."


Ditya memejamkan matanya, urat uratnya tampak jelas timbul disebelah mata dan lehernya.


Dia sedang tidak ingin bertele tele, menjawab kebingungan Yani yang mendengar orang bermarga Mahesa.


"akan saya kerjakan pak, permisi"


Yani tidak ingin Ditya marah besar padanya, ia langsung keluar dari ruangan bosnya.


"mas, makanlah dulu sebelum rapat !"


Zoya melihat Ditya semakin kalang kabut, ia juga khawatir dengan keadaan fisiknya. Ditya menyempatkan ke kamar sambil menunggu kedatangan Bima.


"aku tidak lapar Zoya !"


Tidak sadar Ditya setengah berteriak pada Zoya, suaranya menggema di rongga telinga.


"maaf Zoya, aku . ."


Perasaan Zoya sangat sedih, melihat sikap Ditya yang melampiaskan kekesalannya pada Zoya.


Seorang istri hanya bisa memberi dukungan, juga memiliki rasa khawatir tinggi pada suaminya.


Bagaimana kalau Ditya sampai tahu Bima mengincarnya ?


Membayangkannya saja Zoya tidak berani.


Air matanya menetes tak bisa terkendali lagi.


"tidak apa kalau kamu tidak mau makan, aku lihat Dee dulu.."


Sebelum Zoya berjalan, Ditya langsung menarik tangan Zoya dan memeluknya. Erat sekali, Ditya bahkan sangat merindukan masa dulu. Dimana hanya ada dia, Zoya dan baby Dee dihidupnya.


Selama berpelukan, Ditya mengenang kembali waktu bulan madunya. Romantis, kapan mereka bisa merasakannya kembali.

__ADS_1


Bahkan libur saja Ditya masih harus tetap bekerja.


"aku minta maaf Zoya, tidak seharusnya aku seperti tadi"


Zoya membalas pelukan Ditya, mencium dadanya berkali kali untuk memberinya semangat dan kekuatan.


"aku tahu kamu kuat mas, kita hadapi sama sama"


Ditya melonggarkan pelukannya, dia menakupkan kedua tangannya dipipi Zoya.


Mereka berciuman bibir, bertukar rindu yang selalu berlipat setiap detiknya.


"pergilah mas, doaku selalu untuk kamu"


"aku tidak bisa mengikhlaskan MH manufacturing, itu adalah curahan karyaku."


Ditya dan Bima duduk disofa tamu ruang kerjanya.


Keduanya berhadapan, saling menatap tajam.


"kalau begitu kita bagi saja saham jadi dua, kamu akan terus jadi ujung tombaknya. Aku yang akan memegang kendali."


Kakak beradik seperti sedang bertaruh dimeja judi.


Bima masih melayangkan penawaran pada Ditya yang sedikit menjinak. Apa niat Ditya sebenarnya ?


"bisakah kau hanya terima royalti, memegang kendali dikota tempat tinggalmu sebelumnya ?


Mendengar syarat yang diajukan Ditya, Bima menunduk tersenyum. Jadi adiknya ingin mengusir Bima dari kehidupan keluarganya ? Bukan uang yang diinginkan oleh Bima. Melainkan keretakan yang akan dia ciptakan sebentar lagi.


Pertanyaan Bima berhasil menyulut emosi Ditya. Dia mulai merasa darahnya mendidih disekujur tubuh.


"mungkin kamu terlalu nyenyak, sampai tidak mendengar apapun dikamarku."


"ayolah kak ! Aku tidak akan bisa mencurigai istriku sendiri, aku sangat mempercayainya."


Sial bagi Bima, Ditya tidak terpancing sama sekali oleh umpan yang Bima lemparkan.


Yang ada Bima malah merasa tersentuh dengan panggilan yang Ditya berikan. Ya, Ditya memanggilnya kakak. Setidaknya dia menerima satu pengakuan.


"aku tidak bisa berbagi Ditya, sejak kecil aku sudah merelakan papa untuk kalian. Kali ini aku harus mendapatkan apa yang aku mau."


Bima bangkit dari duduknya, dia berniat pergi dari ruangan Ditya.


"oh satu lagi, tangan Zoya sangat lembut dan wangi. Membuatku ingin memiliki pendamping sepertinya."


Pria itu tersenyum licik melirik kearah Ditya yang masih duduk dengan tatapan kasarnya.


Terlihat urat tangan Ditya menegang, matanya memerah. Bima akhirnya berhasil memercikan api diantara mereka.


Dia melangkah dengan penuh kemenangan.


Senja kini berganti malam, menutup hari yang melelahkan. Sejak pertemuannya dengan Bima, Ditya melanjutkan pekerjaannya dengan sungguh sungguh. Dia tidak akan pernah memberikan sepeserpun pada Bima.


Seharusnya darah lebih kental dari air itu benar adanya, tidak diantara mereka.


Pantaskah Bima disebut kakak ? Kelakuannya sama sekali tidak mencerminkan statusnya.

__ADS_1


Zoya malam itu juga enggan memasak, Ditya pasti tidak mau makan lagi pikirnya.


Ia lebih memilih menjaga Dee, kasihan dia. Orang tuanya sibuk menghadapi masalah rumah tangga.


"kamu tidak masak ?"


Muka kusut Ditya masuk ke kamar mendapati Zoya yang sedang menemani Dee tidur.


"kamu lapar mas ? Akan aku pesankan room service"


Zoya menghentikan aktifitasnya memandang Dee dan berjalan menuju telpon.


Ditya menarik tangan Zoya, menahannya dengan sangat kencang.


"mas, sakit. ."


Wanita itu meringis kesakitan, meminta tangannya dilepaskan oleh Ditya.


"apa yang kamu lakukan dikamar Bima ? Kalian berbuat macem macem dibelakangku ?"


"aku berusaha menjaga martabatku sebagai istri kamu mas, dan kamu bertanya padaku seperti itu ? Apa kamu tidak percaya pada istri kamu, kamu mau tahu apa yang aku lakukan semalam ?"


Zoya sekuat tenaga melepaskan genggaman tangan Ditya menggunakan kedua tangannya.


Ia meraih gelas berisi air dimeja dan memecahkannya.


Prang . .


Suara gelas terjatuh pecah, diikuti tangisan Dee yang terkejut mendengarnya ketika tertidur pulas.


Krek . .


Zoya kembali melakukan hal yang sama, giliran kaki kirinya yang ia taruh diatas pecahan tadi.


"Bima melakukan hal yang sama seperti kamu tadi, aku bersumpah mas tidak melakukan apapun."


Kini Zoya bagai mati rasa, meski berdarah ia tidak merasakan sakit seperti semalam.


Demi Ditya percaya padanya, Zoya rela melakukan apapun.


Menyaksikan istrinya, Ditya berlutut dihadapan Zoya. Lututnya seperti lemas tidak ada tenaga. Tega sekali Ditya berani mencurigai istrinya sendiri. Dia tertipu oleh adu domba yang dilakukan Bima.


"hentikan Zoya, aku mohon..!"


Tangan Ditya bergerak mengangkat kaki Zoya menjauh dari serpihan kaca.


Zoya ikut duduk dilantai, dipeluknya Ditya agar merasa tenang dan nyaman.


"tadi malam aku sangat takut mas, dia mengunci pintu. Demi bisa keluar, aku rela melakukan apapun."


Zoya menenggelamkan kepalanya dipelukan Ditya. Tangisnya pecah, tak kuasa ia tahan lagi.


"aku minta maaf Zoya, ini salahku. Hatiku terkoyak oleh kakakku sendiri."


sekarang Ditya tahu apa niat Bima sesungguhnya. tujuannya bukan uang atau perusahaan. melainkan kehancuran keluarganya demi membalas dendam.


tidak akan Ditya ulangi kesalahan yang sama, dia akan selalu menaruh kepercayaan pada Zoya.

__ADS_1


__ADS_2