Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Vonis


__ADS_3

Ditya menunggu Zoya menggunakan pakaian steril. Wajah istrinya masih pucat dan diberi selang infus darah.


Tidak semua orang bisa ikut masuk, harus bergantian.


"mas . ."


Lirih Zoya yang sudah sadar membuka matanya.


"baby X ?"


Pelan sekali suara Zoya, membuat Ditya lebih mendekatkan lagi wajahnya.


"dia baik baik saja, kamu harus banyak istirahat".


Bisiknya kemudian mengecup kening Zoya.


Tiba tiba saja Zoya terisak menangis, rasa takutnya masih melekat ketika mengingat kejadian yang hampir merenggut bayinya.


"hey, tenanglah ! Semua akan baik baik saja. Mas akan selalu ada disini, maafkan mas".


Ditya sudah tahu kalau Zoya pasti akan mengalami masa trauma. Meski berat, dia berusaha kuat untuk meyakinkan Zoya bahwa mereka mampu berlalu.


"sebisa mungkin Zoya harus bedrest, untuk memulihkan kondisinya. Saya menemukan hasil tes lanjutan, bahwa Zoya tidak bisa melahirkan secara normal. Mari kita capai kandungannya sampai bulan ke delapan. Kondisi Zoya tidak memungkinkan untuk meneruskan kandungannya".


Vonis dokter sangat menyakitkan perasaan keluarga, terutama Ditya. Ini murni salahnya yang tidak bisa menjaga Zoya.


Keadaan Zoya tidak sesehat dulu, ada kelainan pada dirinya karena pendarahan akibat terjatuh.


"ya Tuhan Zoya . ."


Nek Hafsari menutup mulutnya tak percaya mendengar perkataan Dr. Rahman.


"beruntung, baby X masih bisa bertahan. Tapi jika Zoya terus mengalami kendala selama sisa masa hamilnya, itu akan berakibat buruk pada kesehatannya".


Suasana diruangan dr. Rahman berubah menjadi suram. Tidak ada yang berani buka mulut, takut menyinggung perasaan Ditya yang masih merasa bersalah.


"mami harap kamu harus kuat, jangan lemah. Zoya dan baby X membutuhkan kamu Dit!".


Bu Aulia merangkul pundak Ditya untuk memberi dukungan.


Kabar Zoya masuk rumah sakit sudah menyebar, beberapa orang berniat menjenguk namun diberitahu kalau Zoya masih di ruang ICU.


Ditya juga sudah mengajukan resign ke bu Farida atas nama Zoya. Itu sudah menjadi keputusan akhirnya.


Giliran Bu Atikah yang menjaga Zoya, sementara Ditya istirahat di kantin rumah sakit.


Arga yang mendengar kabar dari Tia, kini sedang menemani Ditya menikmati kopi panas disore hari.


"aku turut prihatin Dit, semoga kalian bisa terus kuat".


Melihat Ditya yang masih melamun, Arga sangat khawatir. Tidak biasanya Ditya bersikap seperti itu. Tatapan yang penuh rasa khawatir dan merasa bersalah jadi satu.


"kamu harus bisa bangkit Dit, jangan hanya jalan ditempat. Perjalanan kalian bahkan masih sangat panjang".

__ADS_1


Nasehat Arga seperti seseorang yang sudah berpengalaman.


Membuat Ditya menyunggingkan senyum sinisnya.


"bicaramu seperti sang ahli Ga". Akhirnya Ditya bisa tersenyum lagi, siapa yang melakukannya ? Arga.


Yang sudah mulai dekat lagi dengan Ditya.


"ya sudah aku balik, kapan kapan ketemu lagi. Semangat Dit".


Arga menepuk kasar pundak Ditya sebelum meninggalkannya.


"bu, Ditya mana ?"


Setelah tertidur cukup lama, Zoya bangun dan mencari keberadaan suaminya.


"nanti ibu panggilkan ya sayang . ."


Bu Atikah mengelus rambut Zoya kemudian bergantian dengan Ditya yang baru saja kembali dari kantin.


"Zoya cari kamu Dit, dia sudah bangun".


Langkahnya menjadi berat saat bersiap mengenakan pakaian steril di ruang khusus.


Rasa bersalahnya terus mengalahkan keinginan Ditya untuk menjaga Zoya saat ini.


Seolah ragu, dan enggan melihat wajah istrinya.


"jangan pernah berani berpikir kalau ini salah kamu mas . ."


"tidak, aku sempat berpikir sama seperti kamu dulu. Kenapa hanya ada duka yang menghiasi kehidupan kita ? Kapan kita akan bahagia seutuhnya".


Untuk pertama kalinya, Ditya menangis sesenggukan didepan Zoya. Membuat wanita itu juga ikut menangis sedih melihatnya.


"please mas . . Hatiku hancur melihat kamu seperti ini".


Zoya mengusap air mata Ditya yang mengalir dipipinya.


"aku minta maaf Zoya, aku mohon maafkan aku".


Meski keadaannya sangat lemah, Zoya berusaha untuk duduk dan memeluk Ditya.


"kalau kita terjatuh, yang perlu kita lakukan hanyalah bangkit lagi mas".


Ingin memberi ketenangan untuk Ditya, Zoya menepuk punggungnya berkali kali.


🍀🍀🍀


Dokter akhirnya mengizinkan Zoya untuk pulang, setelah dirawat selama 2 malam.


Ditya membawa pulang Zoya ke Penthouse, keluarga yang ikut mengantar akhirnya mampir sebentar.


Mereka menghabiskan makan siang bersama, agar Zoya merasa terhibur dan tidak kesepian.

__ADS_1


"kak, nanti kenalin Tia ke Agus sama Gendis ya. Kata kak Milka mereka seru seru".


Tia dan Milka sedang menemani Zoya duduk disofa menonton film.


Sementara Ditya masih asik ngopi di balkon bersama Erwin dan Arga. Ketiganya jadi semakin akrab akhir akhir ini.


"iya dek, kapan kapan kita jalan bareng. Kamu pasti ketawa dengar logat Gendis yang medok".


Senyum Zoya mengembang mengingat kedua gadis itu. Belakangan mereka sangat sibuk, karena libur tahun baru hotel full terus.


"Zoy, gue ada kabar baik hehe. Erwin sudah melamar gue".


Dengan bangga Milka memperlihatkan cincin emas bermata satu dijari manis kirinya pada Zoya dan Tia.


"wah . . Selamat ya Milk, saya ikut bahagia".


Mereka berdua berpelukan, akhirnya Erwin siap menerima Milka sahabatnya itu.


"do'akan Tia juga ya kak, semoga kak Arga juga bisa membuka hatinya".


Tia selalu optimis mengharapkan hubungannya dengan Arga ada kemajuan seperti Milka dan Erwin.


"pasti".


Zoya dan Milka kompak menjawab secara bersamaan.


"bagaimana kalau kita berenam liburan, saat Zoya sudah fit lagi". Erwin menyarankan sebuah ide menarik, tapi tidak menurut Ditya.


"nanti gue konsul ke om Rahman dulu, bisa atau enggaknya gue kasih kabar". Keadaan Zoya membuat Ditya ekstra hati hati, supaya tidak terjadi apa apa nantinya.


"setuju".


Arga menyetujui saran Erwin, juga pendapat Ditya.


setelah semuanya pulang, Ditya meminta jasa Housekeeper untuk bersih bersih membantu bi Sumi.


kasihan kalau harus sendiri mengerjakannya.


kemudian Zoya masuk ke kamarnya, meninggalkan Ditya yang masih melakukan sambungan telpon.


Ditya melirik Zoya, dan langsung menutup telpon. dia mengikuti Zoya masuk.


dilihatnya Zoya sedang bersandar di pintu kamar mandi.


"ada apa ?"


tanya Ditya mendekati Zoya dan menggenggam tangannya.


"ayo kita percepat syukuran 7 bulananku mas, agar banyak orang yang mendoakan kita".


Zoya melingkarkan tangannya memeluk Ditya, rasanya sudah lama mereka tidak bermesraan.


"mmm, akan mas siapkan secepat mungkin". Ditya membalas pelukan Zoya.

__ADS_1


malam itu mereka harus rela tidur terpisah, Ditya tidak ingin mengganggu kesehatan Zoya.


bagai dipingit, mereka harus berjaga jarak untuk beberapa hari kedepan. tidak ada hubungan intim dulu saran dr. Rahman.


__ADS_2