
Demi apa dia melakukan hal itu ?
Jelas tidak ada keuntungan baginya merelakan sang suami dekat dengan perempuan lain. Lupakah dia kalau sekarang sudah tumbuh darah daging mereka diperutnya.
Keadaan mengalahkan egonya. Kalau saja gadis itu tidak sedang sekarat, mungkin situasi bisa lebih terkendali olehnya.
"sudah sampai bu . ."
Ifan harus mengejutkan Juli yang sejak tadi duduk dikursi belakang. Padahal mobil sudah berhenti sekitar 5 menit.
"Iya."
Julipun segera turun karena mertuanya sudah menunggu didalam.
Zara sudah tiba satu jam yang lalu. Ia bahkan sudah merapikan belanjaan untuk stok bahan makanan anak juga menantunya.
Ia perhatian karena tahu mereka tidak memiliki asisten rumah tangga sejak hidup mandiri.
Juli selalu merasa paling beruntung memiliki mertua penyayang seperti Zara. Zara sudah menganggap Juli sebagai anak perempuannya bukan hanya sekedar menantu.
"Mama. . ."
Di ruang TV Juli berhambur memeluk Zara yang sedang membaca buku disofa.
Zara sempat kaget kemudian langsung membalas pelukan Juli.
Ada isak tangis kecil dari Juli terdengar oleh Zara.
"Ada apa ? Cerita sama mama sayang !"
Ia mengusap usap punggung Juli memberinya ketenangan.
"Juli gak tahu mah, tiba tiba saja merasa sedih inget mami."
Bohong, Juli tidak mengatakan sejujurnya tentang masalah yang terjadi dalam rumah tangganya.
"Hmm, wajar sayang. Biasanya ibu hamil jadi lebih sensitif. Mama juga begitu pas mengandung Kevin."
"Gitu ya mah ? Berarti aku gak cengeng cengen banget kan . ."
Pertanyaan Juli berhasil mengundang gelak tawa mertuanya.
"Ya enggak dong, eh udah makan siang belum ? Mama bawain makanan bergizi buat ibu hamil."
Zara antusias menarik tangan Juli menuju meja makan.
Juli terpana melihat menu makanan yang sudah terhidang.
Ada grilled salmon, brocoli garlic sauce dan beberapa snack bar ibu hamil untuk mengurangi rasa mual.
Saking perhatiannya Zara terhadap Juli ia mau memasakkan menu menu itu.
"Juli jadi repotin mama, maaf ya mah. ."
"Enggak sama sekali, mama malah seneng bisa bantuin Juli. Ayo sayang dimakan."
Bersama Zara, Juli sedikit lupa tentang kesedihannya.
Damar sedang bersama Sofia berduaan. Dia menemani Sofia hingga tertidur kembali setelah meminum obatnya.
Menurut dokter ahli tumor Sofia besok sudah bisa pulang.
Bahkan dia sempat meminta Damar menjemput lalu mengantarkannya pulang.
"Damar !"
Panggil seseorang menunda langkahnya yang ingin keluar dari bangunan rumah sakit.
"Apa ?"
Ketus Damar menjawab setelah menengok ke belakang.
"Terima kasih sudah mau menemui Sofia. Saya harap jangan patahkan semangat berjuangnya."
Damar mendengus sinis mendengar ucapan Bara, kakak kandung Sofia mahasiswi didiknya.
"Gue melakukannya atas dasar kemanusiaan. Jangan terlalu percaya diri kamu Bara."
Ingin segera pulang, Damar pergi begitu saja tanpa menggubris lagi seorang Bara.
Jika Damar marah siapapun tidak bisa menahanya. Yang ada mereka akan kewalahan menghadapi kelakuannya. Apalagi Juli, istrinyapun terkadang sulit menebak jalan pikirannya.
Ifan mengantarkan Damar pulang ke rumahnya.
Damar lelah, dia harus berpura pura menyayangi Sofia sedangkan hatinya terus memikirkan Juli.
Dia ingin segera melihat wajahnya lalu memeluk mencium setiap inci tubuhnya.
__ADS_1
Bagaimana dia harus menjelaskan pada Juli kalau besok Sofia memintanya menemani keluar dari rumah sakit.
Mesin mobil belum mati sepenuhnya Damar bergegas keluar. Dia berlari kecil masuk kedalam rumah mencari keberadaan Juli.
"Juli , ,"
Teriak Damar memanggil sang istri.
"Sayang . . ?"
Langkahnya mencari ke setiap sudut rumah, saat hendak menaiki anak tangga Damar berpapasan dengan Zara mamanya.
"Susst, kok teriak teriak Dee ?"
"Juli mana mah ?"
"Dia baru tidur, tadi bilang sama mama kepalanya pusing."
Ada helaan nafas dari mulut Damar mengetahui kabar istrinya tidak enak badan. Sementara dia malah asik berduaan dengan Sofia.
"Kalau gitu Dee nyusul ke kamar ya mah, maaf bikin repot mama."
"Mama suka kok jagain Juli, berasa punya anak perempuan.
Udah gih naik ! Tapi jangan dibangunin kasihan."
Zara turun untuk menyiapkan makan malam mereka bertiga. Rencananya Ditya dan Aulia juga akan menyusul menginap.
Dan Juli senang mendengar Grand Ma mau berkunjung.
Damar duduk ditepi ranjang mengamati wajah lelap Juli. Tanganya perlahan bergerak mengelus pipi sang istri. Damar bisa melihat gurat lelah pada kerutan keningnya.
"Aku kangen sama kamu Juls."
Suaranya pelan sekali bergumam mengutarakan perasaannya terhadap Juli.
Selalu ada jarak meski mereka setiap hari bersama. Damar selalu menggila ketika berjauhan dengannya.
Asal Juli perlu tahu, Damar menjadikannya pemilik hati satu satunya.
Bukan Damar tidak mengerti, Juli pasti akan memintanya dekat dengan Sofia hanya demi membantunya.
Jelas dia tidak mau, namun istrinya keras kepala hingga terus memenangkan perang dingin yang terjadi diantara mereka.
Sambil menunggu Juli bangun, Damar segera melepaskan pakaiannya menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan.
Ia merasa lebih enakan setelah istirahat sebentar tadi.
Juli melihat kearah pintu kamar mandi menunggu keluarnya sang suami.
Terukir senyum dibibir Juli mengingat wajah Damar.
Sebentar lagi dia akan melihatnya secara langsung.
Ting.
Sebuah pesan masuk ke handphone Damar diatas nakas.
Selama ini Juli selalu menjaga privasi Damar. Namun kini hatinya tergerak untuk melihat sekilas pesan yang biasanya muncul dilayar tanpa harus membukanya.
From : Fia
Besok jangan lupa jemput ya pak Damar.
Ternyata Damar menyimpan kontak Sofia dengan nama panggilan tak biasa. Karena setahu Juli semua orang memanggil gadis itu Sofia. Fia terdengar seperti panggilan kesayangan. Ah mungkin hanya perasaan Juli saja, dia mencoba berpikir positif.
"Sayang kamu sudah bangun ?"
Damar keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.
Ia berjalan mendekati Juli sambil mengeringkan rambutnya.
Untungnya Juli sudah menaruh kembali handphone sang suami. Gesit gerakan Juli menyiapkan pakaian rumah untuk Damar dari lemari.
"Mas, besok bisa antar aku ke kampus ?"
Juli menyerahkan celana beserta kaos oblong ketangan Damar.
"Besok aku ada meeting pagi pagi. Nanti biar Ifan yang antar kamu gimna, bolehkan ?"
"Tapi mas, kan suami aku mas Damar bukan pak Ifan."
Tidak biasanya menurut Ifan, Juli kali ini merajuk akibat bukan dirinya yang mengantar Juli ke kampus.
"Abis meeting selesai aku jemput kamu. Terus kamu boleh bawa aku kemana aja, aku siap melayani tuan ratu."
"Aku ke dapur dulu, bantuin mama masak."
__ADS_1
Tanpa menanggapi perkataan Damar Juli keluar begitu saja.
Damar hanya menghela nafas kasar mendapati kemarahan istrinya.
"Aku minta maaf Juls. ."
Gumam Damar.
Di dapur Zara sudah hampir selesai menyiapkan menu makan malam. Juli turun menghampiri dengan ragu, harusnya dia membantu mertuanya namun Juli malah baru bangun tidur.
"Mah, Juli minta maaf gak bantu bantu."
Zara menengok tersenyum lalu menaruh beberapa piring bersih.
"Jangan sungkan sama mama, ibu hamil gak boleh capek capek."
Tit tit . . .
Suara klakson mobil terdengar nyaring
dari arah halaman depan rumah. Siapa lagi kalau bukan Ditya dan Grand Ma.
Inisiatif Juli menyambut ayah mertua dan nenek.
"Assalamualaikum . ."
Ucap Aulia juga Ditya bersamaan dengan munculnya Damar.
"Waalaikumsalam."
Jawab Damar dan Juli kompak.
Ditya merentangkan tangannya meminta dipeluk sang menantu kesayangan.
Juli masuk dalam dekapan ayah mertua manja.
"Yah, genit banget sama menantu. Mama bisa cemburu kalau saja lihat kalian sedekat ini."
Bagi mereka Damar menggemaskan saat cemburu. Seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda dari biasanya.
"Kamu sirik aja Dee, ayah juga kan sayang sama Juli dan cucu pertama ayah."
kata kata Ditya didukung dengan senyum meledek dari Juli.
Auli hanya menggeleng merasa lucu melihat tingkah mereka.
"Maah ... ayah tuh peluk peluk istri aku."
Damar berjalan menuju ruang makan. disana Zara hanya terkekeh geli mengetahui anak sulungnya cemburu pada ayahnya sendiri.
"Ayah sudah izin sama mama, katanya mau ambil alih peran kamu saat kamu sibuk nanti."
Damar menghela nafas memperhatikan keluarganya tak percaya.
"Mending Damar makan mah, lagian Juli juga malah nempel terus sama ayah."
"Jadi begini seorang Damar kalau lagi cemburu ?
Juls, kalau Dee berani menyakiti kamu lapor sama ayah atau mama. biar kami ambil alih menjaga kamu."
Ayah Ditya memberi ultimatum Damar agar tidak memiliki kebeeanian untuk menyakiti istrinya.
"Juli sayang kalian semua."
Kata Juli berlari berhambur memeluk manja Damar.
"Ayo kita makan, semuanya sudah siap."
Perintah mama Zara, semuanyapun duduk patuh membuka piring masing masing.
Malam itu mereka menghabiskan kebersamaan dengan penuh kehangatan. Sayang sekali Kevin masih tugas di rumah sakit menangani pasien.
Juli tahu kalau besok Damar pasti akan mengantar Sofia pulang. masalah memang bagi kondisi psikisnya, namun sekali ini saja Juli mencoba berpikir jernih.
Rasa ibanya pada Sofia sudah berubah menjadi simpati. Hatinya selalu tergerak ingin menolongnya.
Jika orang lain ataupun keluarganya tahu mungkin semua akan menyalahkan sikap Juli.
Juli bisa apa, Damar suaminya saja sudah menerima tantangan yang Juli berikan.
Yang pasti, malam ini Juli merasa bahagia terdapat keramaian menemani kesunyiannya.
Damar senantiasa mengelus perut Juli hingga ia bisa terlelap tidur.
Meski sesekali dirinya diganggu pesan kiriman Sofia.
Gadis itu selalu saja gigih mencari perhatian Damar.
__ADS_1
Saatnya nanti Damar akan menjelaskan status dirinya supaya Sofia mau mengerti dan berhenti.