Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#158


__ADS_3

Sore menjelang malam, Damar berduaan saja diatas tempat tidur bersama Juli.


Juli membaca buku dengan posisi terlentang sementara Damar duduk menyandar dengan laptop dipangkuannya.


"Kamu suka ?"


Tanya Damar melirik sebentar kebawah melihat istrinya sejak tadi memainkan liontin berlian yang melingkar dilehernya.


"Sangat, terima kasih hadiahnya mas Damar suamiku."


Tangan Juli satunya menaruh buku disamping.


"Hadiah buat akunya mana ?"


Bosan dengan pekerjaannya, Damar segera menutup laptop lalu menaruhnya diatas nakas.


Juli mengernyit heran kenapa suaminya meminta imbalan. Mana dia tidak menyiapkan apa apa lagi.


Tak ada jawaban, Damar menatap wajah bingung Juli dari atasnya.


Mata Damar tertuju pada bibir polos Juli yang tetap berwarna merah muda. Begitupun Juli, menunggu bibir sang suami hingga akhirnya saling menyatu. Seraya melakukan ciuman lembut, Juli tersenyum kala Damar menginginkan tubuhnya sebagai imbalan.


"Kalau mas Damar sepamrih ini, habis badanku mas haha . ."


Disela sela jeda menghirup udara, Juli mengalungkan kedua tangannya keleher Damar.


Semakin tertantang, kini tangan Damar masuk kedalam baju berbahan tipis Juli.


Mencari kenikmatan lain didalam sana.


"Bantu aku pakai cara lain sayang !"


Pinta Damar ketika sudah mulai menegang diujung gelisahnya.


Ia tahu kalau mereka dilarang terlalu sering bersetubuh karena usia kandungan Juli masih rentan.


Sedikit banyak Juli tahu keinginan Damar mengarah kemana.


Tanpa penyatuan, Damar lega menyalurkan hasrat terpendam oleh bantuan Juli yang pengertian.


Dering ponsel segera mengganggu aktifitas keduanya. Tadinya Damar mau meminta lagi pada Juli.


Pokoknya Juli pintar meladeni Damar diatas ranjang.


"Angkat mas ! Siapa tahu penting."


Juli menyingkirkan tubuh Damar yang masih berada diatasnya.


Ia juga berjalan ke kamar mandi demi membersihkan tubuhnya.


"Halo . ."


Jawabnya ketus merasa terganggu.


"Oke, kami kesana sekarang."


Damar menutup sambungan telpon setelah mendengar kabar yany terjadi dari Kevin.


"Kenapa mas ?"


Juli keluar sambil mengenakan setiap pakaiannya. Baginya bukan masalah memakai baju dihadapan Damar. Toh mereka suami istri sah.


"MHospital, Sofia drop dan memburuk."


Damar bergegas ke kamar mandi membersihkan diri sebelum mendengar jawaban Juli.


Juli menangkap kekhawatiran pada nada bicara Damar. Patah sudah kepercayaan diri Juli bahwa sang suami tidak memiliki perasaan terhadap mahasiswinya.


Juli terperanga mengamati gerakan tergesa gesa Damar dihadapannya. Dia uring uringan mencari keberadaan handphone, dompet hingga kunci mobil miliknya.


Ingatan Juli memutar masa kecil Damar yang pernah ia ceritakan padanya.


Ibunya mengalami masalah rumah tangga saat sang ayah mertua menyukai wanita lain.


Akibat intensitas pertemuan keduanya, percikan api mulai menyala membakar hati Zoya ibu kandung Damar.


Juli meringis memegangi perutnya yang mendadak sakit.


Ia tidak mau pengalaman pahit itu menimpa hidupnya juga.


Jangan sampai Damar mengabaikan keberadaannya hanya karena penyakit Sofia.


"Juli ayo pergi !"


Damar setengah membentak menyadarkan Juli hingga ia terperanjat kaget mendengarnya.


"Iya mas. ."


Juli menerima uluran tangan Damar. Sebegitu khawatirnya dia pada kondisi Sofia hingga Damar tidak menyadari menarik Juli terlalu cepat.


Juli bahkan harus mengimbangi langkah kaki Damar menuruni anak tangga.


Sebenarnya Damar peduli atau memang menyimpan rasa untuk Sofia ?


Juli ingin bertanya, namun suaminya menyuguhkan tatap wajah tajam membuat nyalinya menciut.


Didalam mobil Juli memilih diam. Menengokpun ia tidak kuat hanya akan mendapati Damar berwajah dingin.

__ADS_1


Kenapa sih Damar seperti ini ?


Juli tahu ada yang tidak beres dengannya setelah mendengar kabar Sofia.


- Kamu harus kuat Fia, jangan menyerah sama penyakit kamu !"


Damar membatin berdo'a penuh harap tidak terjadi apa apa pada Sofia sebelum dia melihat wajahnya.


Ia bahkan melajukan mobilnya diatas kecepatan biasanya.


Setibanya ditempat parkir, Damar bahkan langsung berlari masuk kedalam tidak memimirkan perasaan istrinya.


Juli menitikan air matanya, mencoba bertahanpun tetap saja terjatuh. Ia menghela nafas kasar menyiapkan mental.


Damar mendekat kearah ruang ICU dimana Sofia mendapat penanganan secara intensif.


Sudah ada Bara, Tedi juga Tiara disana. Berbeda dengan sebelumnya, jika Damar menolak permintaan tersirat seorang Bara kini dia setia menunggu hasil observasi dari dokter.


"Mas Damar, istri loe mana ?"


Kevin baru tiba setelah memeriksa pasien terlebih dulu.


"Jangan bilang kamu ninggalin dia mas ?"


Tiara ikut menyerang Damar. Nah, barulah sadar apa yang telah Damar lakukan setelah menerima panggilan telpon dari adiknya.


Damar memejamkan matanya mengerang frustasi. Jadi sedari tadi dia melukai perasaan Juli terang terangan.


Tatapnya tertuju pada sosok yang muncul menjawab pertanyaan Kevin dan Tiara.


Bisa bisanya perempuan itu masih menebar senyum.


"Sofia bagaimana ?"


Tanya Juli dengan wajah sedikit memucat, tertangkap oleh seorang Kevin yang berdiri paling dekat.


Belum sempat menjawab, Bara mendengar suara pintu terbuka lalu mengalihkan pandangannya.


"Pasien ingin bertemu dengan seseorang . ."


Bukan mengabarkan keadaan terkini Sofia, dokter meminta orang tersebut masuk menemuinya.


Setelah dia masuk, dokter ahli tumor menjelaskan kemungkinan tindakan cepat yang masih bisa menyelamatkan Sofia.


Yaitu melakukan operasi besar beresiko.


Kalau saja wali Sofia setuju, bisa dilakukan dengan cepat karena penyakitnya sudah kebal pada obat obatan apapun.


Seandainya saja dulu Juli atau Damar suaminya tidak mengenal seorang Sofia, dirinya tidak mungkin duduk dikursi sebelah brankar sekarang.


Kasihan dia, dipenuhi alat alat pembantu mulai dari selang infus hingga masker oksigen.


Lirih Sofia memanggil nama Juli agar mendekat kearahnya, suara kecil itu yang hanya mampu ia keluarkan dengan semua sisa kekuatan.


"Fia ..."


Juli menggenngam tangan Sofia mencoba memberinya dukungan.


"Bantu aku meyakinkan pak Damar, sebelum semuanya terlambat."


Katanya penuh usaha menyelesaikan kalimat yang ingin ia sampaikan pada Juli.


"Apa itu ?"


Juli menangis terisak pelan, antara kasihan juga sakit jika harus mendengar permintaan yang akan keluar dari mulut Sofia.


Sofia memberi isyarat agar Juli lebih mendekat lagi ke arah wajahnya.


"Aku ingin , , , kakak mengikhlaskan pak Damar menikahiku. Maaf sudah menyakiti perasaan kak Juli, aku tahu aku orang yang jahat."


Dan pada akhirnya Juli bisa berbuat apa, seperti dejavu baginya.


Dulu dia bisa menikah dengan Damar karena permintaan terakhir nenek Atikah.


Detik ini, Juli juga harus merelakan suaminya berpoligami karena alasan sama.


"Fia kamu menyakiti baby kami, juga Tedi yang tulus mencintai kamu."


Tidak, Juli tidak berani mengatakan hal itu langsung pada Sofia.


Jangan mengulangi kesalahan yang sama kedua kalinya.


Yang ada dia malah menahan kalimatnya dihati saja.


"Iya, aku akan berusaha meyakinkan mas Damar."


🌙️🌙️🌙️


Kalaupun semua hanya mimpi buruk, Juli berharap Damar segera membangunkannya penuh kasih sayang.


Lelah rasanya berjalan diatas pecahan kaca hingga tetesan darah mengalir semudah deraian air mata menetes membasahi pipinya saat ini.


Mereka yang berada diruangan Tiara sekarang sama sama menampilkan raut muka pusing.


Sejak menyampaikan pesan Sofia dihadapan semuanya, Juli memilih bungkam seribu bahasa. Yang terpenting baginya Damar sudah mengetahuinya.


Apapun keputusan Damar Juli akan terima. Meski berat, walau dadanya tak seluas samudera dan demi baby didalam kandungannya.

__ADS_1


Besar harapan sang suami menolak permohonan Bara agar mau menyetujuinya.


Tapi katanya Fia mungkin tidak akan bertahan, pun setelah operasi itu berhasil nantinya.


Jadi Bara masih mencoba meyakinkan Damar mau menikahi adiknya.


Hasil pemeriksaan terakhir menunjukan ada komplikasi yang diderita Sofia.


Hal tersulit bagi Damar ialah melihat istrinya terluka. Ini masalah yang tidak pernah ia harapkan datang ke kehidupannya.


Kenapa kisah rumit disebuah Televisi harus mereka alami didunia nyata.


"Tolong panggilkan penghulu !"


Kata kata itu, terlontar lantang dari seorang Damar Aditya.


Semua terkejut mendengar keputusan akhir yang ia ambil.


Sementara Juli masih menatap nanar lantai ruangan itu.


Lidahnya keluh, hatinya membeku dan entah kapan bisa cair kembali.


Juli bahkan tidak meminta atau melarang Damar soal pernikahan keduanya.


Belum genap setahun usia pernikahan mereka, kini Juli harus mendapati fakta suaminya akan menikah lagi. Artinya ada istri kedua selain dirinya. Ingin sekali Juli berteriak menyalahkan keadaan. Apa salahnya sehingga harus mendapat rasa sakit yang amat sangat.


"Aku antar Juli istirahat di kantin."


Tiara membantu Juli berdiri meninggalkan kaum pria.


Kasihan dia harus menanggung luka menghujam dalam hatinya.


Tiara mengerti betul apa yang berkecamuk pada diri Juli sekarang. Untuk ukuran seorang istri, Juli sudah berusaha setegar karang menerima kenyataan pahit ini.


"Gue menyerah atas Juli bukan untuk kebodohan loe mas."


Kevin menunjukkan kekecewaannya terhadap Damar didepan Bara.


Damar hanya diam tak bersuara. Semua kekacauan yang terjadi tidak bisa menyalahkan seseorang. Tetap saja, Bara merasa paling bertanggung jawab disini.


Tidak enak hati pada Juli, wanita itu, kenapa bisa mengikhlaskan keputusan Damar. Harusnya dia menolak dan melarang mentah mentah, namun Juli hanya diam.


"Sorry Damar, and thanks . . ."


Seperti tidak tahu malu, Bara mengucapkan kedua kata itu tanpa melihat wajah Damar.


Jujur dia membenci dirinya sendiri, dia menyakiti hati Juli secara tidak langsung.


"Juli, bisa kita bicara sebentar ?"


Tedi ikut menyusul ke kantin rumah sakit. Tiara tahu soal Tedi dari kekasihnya Bara.


Juli sedang tidak ingin membahas apapun dengan siapapun. Rasanya masih enggan mengingat kalau sebentar lagi suaminya akan menikahi Sofia.


"Juls aku ambilkan minum buat kamu dulu ya. Tolong jaga dia sebentar Ted."


Tiara meninggalkan mereka berdua untuk pergi membeli minuman hangat di cuaca dingin seperti ini.


Tedi mengangguk tidak masalah.


"Juls, kamu yakin baik baik saja ?"


Meski Tedi tahu keadaan Juli sangat berantakan, setidaknya dengan bersimpati mungkin Juli akan merasa tidak sendirian.


"Entahlah, aku memang belum bisa ikhlas. Yang aku takuti dari diriku ialah saat hati ini merasa lega karena mungkin kebersamaan mereka hanya sebentar.


Apa aku sangat kejam ?"


Begitulah hal yang tengah bergejolak dalam hati seorang Juli.


Damar mendengarnya dari jarak tidak terlalu jauh. Pemikiran Juli sama sekali wajar, dan salahnya menjadikan situasi rumit diantara mereka berdua.


Damar hanya bisa menunduk, membiarkan orang lain menghibur Juli.


"Kamu berhak marah, menangis apapun agar bisa lega.


Tapi kamu juga harus ingat, kalau Damar hanya mencintai kamu. Dia melakukannya atas dasar kemanusiaan."


Juli terkekeh mendengar kalimat terakhir Tedi.


Sesaat yang lalu dia melihat sisi lain dari seorang Damar, dan itu membuatnya takut. Takut kalau kalau Damar ternyata menaruh rasa pada Sofia, apapun bentuknya selama itu menyangkut perasaan.


"Juls, minum dulu."


Tiara kembali membawa tiga gelas kertas teh hangat.


"Terima kasih kak."


Juli meminumnya dengan tangan gemetar. Tedi juga Tiara merasa kasihan melihatnya.


"Gawat Juls, bude mau kesini. Kevin mengatakan semuanya."


Setelah membaca pesan dari Zara, Tiara langsung menyampaikannya pada Juli.


"Kak Tiara bisa bantu kami kan ? Tahan mama sampai proses ijabnya selesai. Aku tahu mereka tidak akan membiarkan semuanya terjadi."


"Penghulunya sudah tiba."

__ADS_1


Tedi juga mendapat kabar dari Bara. Mereka bergegas kembali keruangan Sofia.


__ADS_2