Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#157


__ADS_3

157


Mobil masih bergerak dengan kecepatan normal menyusuri jalanan ibu kota. Di jam makan siang memang biasanya kembali macet karena kebanyakan orang kantor memilih makan siang diluar.


Pandangan Damar tertuju pada taman kota. Pikirnya dia akan menemukan penjual rujak disana, apalagi dengan cuaca seterik ini.


"Pak rujak mangga mentah sama kedondongnya satu porsi ya, pedes."


Setibanya didepan tukang rujak Juli memesannya langsung.


"Aku beli minum dulu ke toko disana."


Juli mengangguk membiarkan suaminya pergi sendiri.


Juli mengamati suasana taman kota yang pusatnya terdapat kolam air mancur. Bangku bangku taman bisa dijadikan tempat istirahat, apalagi dengan pepohonan rindang diatasnya. Mampu memberi kesejukan bagi para pengunjung.


Banyak remaja remaja duduk bersama teman maupun pasangan masing masing.


Terkadang rasa iri pada diri Juli muncul. Diusianya yang masih terbilang muda, Juli merelakan masa depannya dengan menjadi seorang istri dan bahkan akan menjadi ibu dari bayinya.


Egois tidak kalau Juli menganggap dia sudah menyerahkan hidupnya untuk Damar ?


Apapun konsekuensi kedepannya, Damar adalah pelindung sekaligus imam baginya.


Tanpa bisa mundur ataupun menyerah, Juli akan terus berusaha memberi kebahagiaan pada sang suami.


Bapak penjual rujak memberi Juli seplastik rujak racikannya. Ia menyantap rujak buah menggunakan tusukan sate.


Mendadak ia ingat Tedi. Kenapa Sofia menolak Tedi padahal laki laki itu bisa memberi kebahagiaan sempurna nantinya.


Bahkan Tedi ikhlas menerima keadaan Sofia.


"Mas Damar mau makan apa ? Disini tadi ada ketoprak, mie ayam sama bakso."


Tanya Juli saat Damar sudah duduk disebelahnya mbawa dua botol air mineral.


"Aku belum laper, nanti saja makan siangnya dirumah. Aku pengen makan masakan kamu soalnya."


Pekerjaannya dikantor memang sudah selesai, disana juga Damar tidak melakukan apa apa. Ia memutuskan untuk pulang lebih awal hanya demi menyantap makanan buatan Juli.


"siap daddy."


Juli kembali memakan rujak miliknya hingga tandas. Ia bahkan meminum bumbu yang berair itu. Damar hanya bisa menggeleng kepala melihat istrinya ngidam.


Merasa sudah puas, akhirnya Juli mengajak Damar pulang kerumah. Ia harus segera memberi asupan gizi untuk ayah dari bayinya.


"Mas, ternyata ada laki laki yang menyukai Sofia selama ini."


Ditengah kesibukannya menumis sayuran, Juli jadi teringat membahas Sofia pada Damar.


"Oh ya, kok kamu tahu ?"


Tanya Damar, pria itu duduk dikursi sambil membuka laptop demi memeriksa beberapa laporan projeknya.


"Tadi aku ketemu Tedi dikampus, dia suka banget sama Sofia. Tapi Sofianya nolak terus dengan alasan takut menyakiti perasaan Tedi."


Medium cook, Juli memindahkan sapotahu seafood buatannya ke mangkuk.


Sejak dulu Damar memang tidak menyukai makanan overcook.


"Besok aku antar kamu ke kampus, nanti kita bicara sama dia."


Kata Damar lalu menerima piring berisi nasi putih dari tangan Juli.


"Oh iya, kak Tiara bisik bisik apa sih sama mas Damar ?"


Juli duduk disebelah kanan Damar menopang dagunya menggunakan tangan.


"Itu , , , aduh aku pengen minum dulu sayang."


Damar gugup menjawab pertanyaan Juli disela mengunyah makanan.


"Aku tahu kok, tadi pagi mas Damar jemput Sofia kan ?"


Uhuk uhuk. . .

__ADS_1


Tersedak juga pada akhirnya seorang Damar Aditya mendengar pengakuan Juli.


Bagaimanapun seharusnya dia berkata jujur pada Juli. Toh ini semua gara gara istrinya juga Sofia jadi bergantung terhadapnya.


"Aku minta maaf ya Juls, maaf gak bilang dulu sama kamu."


Ekspresi wajah Damar menunjukkan penyesalan atas tindakannya.


"Mas Damar . . . Gak ada rasa kan sama dia ?"


Tanya Juli hati hati.


"Sumpah, aku berani bersumpah gak ada rasa sama Sofia.


Awalnya dia mahasiswa biasa bagiku, sampai saat aku memuji tugas essaynya.


Aku pikir jika tidak mengapresiasi keberhasilan mahasiswa aku bakal disebut dosen killer berhati dingin.


Dia bahkan mencari kontak pribadiku ke bagian tata usaha.


Setelah menghadiri kelasnya Sofia beberapa kali, dia selalu mengirimkan pesan pesan. Aku pusing Juls, lebih stres lagi saat kamu memergokiku telponan dengannya."


Bukannya meneruskan makan, Damar lebih memilih menceritakan awal perkenalannya dengan seorang Sofia. Juli masih berusaha mencari kebohongan pada sorot mata Damar, namun ia sama sekali tidak menemukannya.


"Aku tahu mas kamu jujur sama aku. Semoga kita bisa menyelesaikan setiap masalah sama sama. Aku sama baby butuh mas Damar, jujur aku gak mau kehilangan kamu. Apa aku egois ?"


Lirih Juli.


"Hei , ,"


Damar menggenggam erat tangan Juli lalu menciumi punggungnya.


"Kamu istri aku Juls jelas kamu berhak atas diriku. Jangan pernah berpikir untuk melakukan tindakan bodoh."


Karena Damar tahu, bisa saja Juli menyuruhnya menikahi Sofia hanya demi mewujudkan keinginan terakhir gadis itu.


"Iya mas, aku janji tidak akan melakukannya. Aku minta maaf sempat berpikir kamu ada rasa sama dia."


Juli menunduk malu tak sanggup menatap wajah Damar.


Damar mengangkat dagu Juli kemudian memberinya senyuman. Juli mengangguk lalu meraih sendok untuk menyuapi Damar.


"Non Fia, ada yang nyari diluar."


Bibi asisten menghentikan kegiatan membaca Sofia diruang TV karena kedatangan seseorang.


"Siapa bi ?"


Sofia meletakkan buku bacaannya bertema religi diatas meja.


"Katanya teman non Fia, maaf bibi lupa tanya nama."


Penasaran, Sofia segera berjalan kearah pintu utama rumahnya. Terlihat punggung seorang laki laki jangkung berbahu lebar berdiri membelakanginya.


Sofia tahu siapa dia, namun ada gerangan apa temannya itu datang lagi dihahadapannya.


Dia laki laki itu, yang pernah mati matian mengejar dirinya sejak sekolah menengah pertama.


Bahkan mengikuti kemanapun Sofia menempuh pendidikan.


Awalnya Fia bersikap baik padanya karena jujur tersanjung oleh kegihihan usahanya.


Seperti amnesia, beberapa bulan terakhir gadis itu bersikap acuh juga kasar padanya. Mentah mentah menolak setiap kebaikan untuknya. Sofia tidak ingin memberi harapan semu untuknya.


"Hai ..."


Sapaan laki laki yang kini sudah berbalik menghentikan proses ingatan masa lalu mereka.


Senyumnya selalu sama, Sofia hampir saja tergoyahkan.


"Mau apa kesini ?"


Langsung ketus menatap wajahnya.


"Aku mau ajak kamu jalan jalan, untuk terakhir kalinya saja."

__ADS_1


Tatapnya penuh harap Sofia mau menerima ajakannya keluar.


Kenapa kata terakhir membuat hati Sofia teriris ?


Apa dia sengaja mengingatkan tentang kematiannya.


Sofia berdecak sebal menanggapi, pada akhirnya . .


"Jangan jaug jauh dan jangan lama ya Ted ! Lagi males gue aslinya."


Sofia kembali kedalam mengambil tas miliknya.


Tedi tersenyum lega,


angin segar baginya Sofia lunak hari ini.


Niatnya mengadakan perpisahan bersama Sofia. Bagaimanapun Sofia itu teman terdekatnya sejak menduduki bangku kelas 1 SMP. Sikap culun Tedi membuat Sofia yang pecicilan memberi kenyamanan tersendiri.


Teman temannya sering mengolok olok Tedi, hanya Sofia berdiri didepannya membela.


Makanya Tedi sangat menyukai gadis blasteran Indo Amerika, ia keluar mendahului langkah Tedi menuju mobil sedan klasik di halaman parkir.


"Kita makan mie ayam tempat biasa ya Fia ?!"


Ya, Tedilah orang pertama yang memanggilnya Fia. Sejak perkenalan pertama mereka Sofia lebih nyaman orang orang memanggilnya Fia ketimbang Sofi atau lainnya.


"Terserah kamu."


Sofia menjawab acuh sembari duduk disebelah kemudi.


Sofia sibuk dengan pikirannya. Tedilah alasan Fia menambahkan daftar terakhir keinginannya sebelum benar benar pergi dari dunia ini.


Akibat ketidakmungkinan dirinya menikah, membuat Sofia melampiaskan pada laki laki yang jelaa jelas tidak menyukainya.


Jila Sofia meminta Tedi mengabulkan permintaannya, jelas laki laki bermuka sangar namun kalem itu pasti akan bahagia sekali.


Sofia tidak mau menyakiti apalagi memberi kesan menyedihkan untuk sahabatnya.


Bukan mau Sofia menempeli Damar, ia butuh pengalihan hati dari seorang Tedi Akbar.


Karena hati kecilnya bicara Sofia sempat memiliki perasaan yang sama untuknya.


Ia hapus setelah kenyataan kalau dirinya sakit keras.


"Kamu tahu Ted asdos Prof. Felix ?"


Suara Sofia memecah keheningan selama perjalanan.


Tedi diam menatap lurus kedepan, ia tahu kalimat selanjutnya akan seperti apa.


"Pak Damar namanya, gue rasa dia nerima perasaan gue.


Aneh gak sih kalau dosen sama mahasiswanya pacaran ?"


Sofia melirik kesebelah kanan, ingin tahu raut wajah Tedi.


"Selagi kamu bahagia, aku akan berdoa untuk kalian. Lagipula sebentar lagi aku harus pergi ke Kairo, pindah kuliah."


Orang tua Tedi menginginkan anaknya menjadi seorang guru besar dikemudian hari.


Pada akhirnya, demi menghindari Sofia Tedi rela mengejar impiannya kuliah di Universitas nomer satu disana.


Tertunduk, Sofia gelisah dalam hati mengetahui sahabatnya berniat meninggalkannya.


Kalau bisa, dia akan menahan memintanya tinggal.


Tapi apa alasannya ?


Sofia merasa kepalanya cenat cenut tiba tiba.


"Fia kamu dengar aku ?"


Setelah itu suara Tedi sudah tak mampu Sofia dengar lagi. Semua berubah menjadi gelap.


Bukan mie ayam depan SMP mereka tujuan mobil Tedi sekarang, melainkan MHospital.

__ADS_1


pertama kalinya dia mbawa mobil seperti kesetanan. panik sekali Tedi melihat darah keluar dari salah satu lubang hidung Sofia.


__ADS_2