Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#145


__ADS_3

Remang remang Juli menerawang sekeliling.


Cukup lama ia memejamkan matanya entah karena pingsan atau tidur.


Yang Juli ingat sebelumnya rasa mual diperutnya membuat pening dikepala semakin menjadi.


"Hei, kamu udah bangun ?"


Damar baru saja kembali dari dapur membawa segelas air. Dia duduk menggenggam tangan Juli.


"Aku bikin mas Damar repot ya, aku minta maaf mas."


Lirih Juli dengan suara serak khas bangun tidur.


"Sama sekali enggak Juls.


Kamu tuh kalau capek jangan terlalu fokus bekerja. Sebentar lagi kan . ."


"Tunggu mas, sebentar lagi apa ?"


Mendadak Juli tidak sabaran menunggu perkataan Damar selanjutnya.


Rasa gugup di dadanya semakin menggebu.


"Ya kamu sebentar lagi kembali kuliah. Udah mau skripsi loh . ."


Lanjut Damar.


Juli mendesah pelan kecewa dengan jawaban Damar.


Entah kenapa Juli mengharapkan sesuatu yang lain.


Pikirannya jadi tidak tenang akibat pingsan tadi.


"kevin periksa aku ?"


Tanya Juli, Damar mengangguk pasti.


"Apa katanya ?"


Lagi Juli mengajukan pertanyaan perihal hasil pemeriksaan dirinya.


"Dia ambil darah kamu, katanya 3 hari baru bisa keluar hasilnya."


Damar jadi sedikit curiga melihat sikap aneh Juli.


"Kamu itu kenapa sih ? Kayak banyak pikiran gitu deh."


Mata Damar memperhatikan gerak gerik Juli.


"Tidak ada apa apa mas Damar. Mungkin bener aku cuma kecapekan."


Juli tersenyum berusaha menutupi kegelisahannya.


"Kapan masuk kampus ?"


Juli bangun dari tempat tidur untuk minum air yang dibawakan Damar.


"Mungkin lusa mas, besok aku udah gak ke kantor. Awas ya kalau mas Damar macem macem."


Damar mendapat tatapan tajam dari Juli membuatnya bergidik.


"Paling satu macem, kangen sama kamu."


Damar memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya dipinggang Juli.


"Gombal deh, , "


"Serius sayang . ."


Kini tangan Damar sudah menjelajah ke setiap inci tubuh Juli. Bibirnya mengecup pundak, leher hingga menggigit gemas telinganya.


"Mas . ."


Desah Juli ditengah tengah tahap pemanasan adegan percintaan mereka.


"Hmm , ,"


Tak mau berhenti Damar kini memutar tubuh Juli lalu menciumi bagian dada Juli yang masih dilapisi kemeja tanpa lengan.


"Jangan sekarang !"


"Aku tahu kamu sedang tidak datang bulan Juls . ."


Damar membungkam mulut Juli menggunakan mulutnya. Ia tidak ingin menerima penolakan.


2 malam Damar absen menjamah tubuh Juli, ia hanya butuh pelepasan.


"Aku lelah mas , ,"


Mendengar pengakuan Juli kali ini Damar terpaksa menghentikan aktifitasnya membuka cd milik Juli didalam roknya.


"Kenapa ?"


Ayolah Juls kasihan milik suaminya sudah mulai berdiri.


"Please . ."


Juli memohon agar Damar tidak memaksanya.


"Oke baiklah, aku perlu ke kamar mandi dulu."


Damar melepaskan tangannya dari tubuh Juli.


Juli tahu hal selanjutnya yang akan Damar lakukan didalam.


Ia menangis, Juli merasa berdosa tidak mengabulkan keinginan Damar.


Demi sesuatu yang belum pasti Juli terpaksa menyakiti perasaan Damar.


Juli menantikan Damar keluar. Ia harus minta maaf pada sang suami.


Namun sudah terlalu lama Damar merenung didalam kamar mandi.

__ADS_1


Baru kali ini Damar mendapat penolakan dari Juli.


Juli biasanya akan senang hati melayani Damar meski dia meminta beronde ronde.


Ada apa dengannya, Damar jadi bingung sendiri dibuat Juli.


☀️☀️☀️


Pagi sekali Juli menyibukkan diri didapur menyiapkan sarapan pagi.


Ia bahkan meninggalkan Damar sendirian di kamar.


Satu persatu anggota keluarga mulai mendatangi meja makan.


"Juli kok gak panggil Dee,


bukannya makanan sudah siap semua ?"


Mama Zara mendekati Juli berniat membantu mengambil alih pekerjaan.


"I-iya mah sebentar."


Tampak terdengar ragu jawaban Juli.


Semalam saja Juli menunggu Damar hingga ketiduran.


Serius Damar mengunci diri menghindarinya.


Sejak kejadian semalam Damar sedikit marah pada Juli.


Juli bertabrakan dengan Damar didepan pintu.


"Hati hati !"


Kata Damar menahan tubuh istrinya agar tidak terjatuh.


"Mama nunggu kamu buat sarapan."


Mata Juli memperhatikan Damar intens.


Lagi lagi Damar mengganti kemeja yang sudah ia siapkan tadi pagi.


Biasanya Damar tidak melakukan hal itu setelah awal menikah Juli menegurnya. Mungkin karena sedang marah Damar sengaja menyinggung perasaan Juli.


"Mas , ,"


Tadinya Juli ingin meminta maaf namun Damar malah berjalan begitu saja menuju ruang makan.


Untuk pertama kalinya Damar mengabaikan Juli sejak mereka menikah.


Tandanya Damar marah sekali saat Juli menolak disetubuhi olehnya.


Tangan Juli mecengkram rambutnya kesal menerima perlakuan Damar.


"Lagi apa ? Ayo sarapan !"


Kevin mengejutkan Juli, ternyata dia melihat ketegangan yang terjadi diantara mereka.


Jadinya Juli tidak bersemangat apalagi selera makannya menjadi hilang.


Meja makan dipenuhi menu sarapan beragam hasil karya Juli.


Semua keluarga menyukai masakan menantu pertama Aditya Mahesa.


Mulai dari menu sehat hingga menu berat bisa mereka pilih sesuai selera.


Damar masih setia membungkam mulutnya meski mereka mengobrol ria sesekali.


Tiba tiba Juli merasa eneg mencium bau makanan dihadapannya.


Ia harus segera ke kamar mandi sebelum menciptakan kegaduhan di meja makan.


"Juli butuh ke kamar mandi, permisi semua."


Secepat mungkin Juli melangkah menjauh dari area makan.


Bahkan ia berlari agar sampai ke kamarnya.


Ia mengeluarkan cairan bening ke washtafel. Rasa mual di perutnya semakin tak bisa Juli kontrol lagi.


Muntah muntah dipagi hari seperti seorang ibu hamil muda mengalami morning sickness.


Sedikit banyak Juli tahu akan hal itu. Ia juga sempat mengecek tanggal terakhir dirinya mengalami menstruasi.


Kalau saja Juli bisa terbuka pada Damar suaminya.


Juli takut sekarang, kemungkinan besar apa yang dipikirkannya benar.


Sementara Juli tidak ingin bertemu Damar. Ia memilih duduk diatas toilet bowl menenangkan pikirannya.


Keputusan sepihak yang Juli ambil enam bulan yang lalu kini membuahkan hasil.


Setiap malamnya Juli melakukan ritual rutin.


"Juli . . ."


Damar mengetuk pintu kamar mandi. Dia khawatir terjadi apa apa pada istrinya.


Damar harus segera berangkat ke kantor tapi dia ingin melihat Juli lebih dulu.


Atau setidaknya menunjukkan pada Juli kalau Damar sudah tidak marah lagi.


Hatinya luluh jika mengingat kondisi Juli mungkin masih belum sehat sepenuhnya.


"Iya mas ?"


Sebelum keluar Juli membersihkan wajahnya dengan air kran lalu mengeringkannya menggunakan face towel.


"Hei kamu baik baik saja kan ?"


Damar mengelus pipi Juli yang tampak sedikit pucat.


"Kamu mau ke kantor sekarang mas ? Aku ikut pulang ya, aku mau istirahat di rumah aja."

__ADS_1


Pinta Juli memohon Damar tidak meninggalkannya di rumah itu sendirian.


"Iya, kita ke kantor lalu Ifan antar kamu ke rumah."


Syukurlah Juli merasa lega Damar tidak keberatan.


"Jaga kesehatan ya sayang, mama gak mau loh menantu mama sakit tidak ada yang menemani."


Zara mengantar Juli hingga ke dekat mobil.


"Mama juga, Juli harap mama mau menginap sesekali dirumah mas Damar."


Hati Juli tergerak untuk memeluk Zara mertuanya.


Kalau saja Grand Ma bisa sebaik ini pada Juli mungkin ia akan nyaman berlama lama dirumah milik Kevin.


"Karena kamu sudah minta, mama pasti akan datang mengejutkan kalian."


"Kami berangkat ya mah. ."


Damar mencium tangan Zara diikuti oleh Juli.


Kebetulan mereka sudah pamit pada yang lainnya didalam tadi.


Mobil dikemudikan Ifan meninggalkan kediaman atas nama Kevin.


Zara menatap kepergian mereka, merasakan kembali ada masalah di rumah tangga anaknya.


Damar mendiami Juli saat sarapan tadi.


Setibanya mereka di lobi kantor Damar sudah bisa melihat sosok seorang perempuan duduk dilobi.


Pasti ada satu hal penting yang ingin disampaikannya sehingga sepagi ini ia sudah menunggu kedatangan Damar.


"Kenapa mas . . ?"


Juli melihat Damar gelisah belum juga mau keliar mobil.


"Ada Hana."


Sesaat Damar diam, tadinya dia tidak berencana melakukan pertemuan dengan Hana. Apalagi situasi mereka sekarang ini sedang marahan.


"Aku ikut."


Juli membuka pintu mobil mengajak Damar segera menemui Hana.


Hana berdiri dari duduknya ketika melihat Damar datang bersama Juli. Ada sorot mata takut atau semacam butuh perlindungan.


Gestur tangan Damar meminta Hana duduk kembali seraya dirinya juga Juli duduk dihadapannya.


"Aku minta maaf mengganggu kalian sepagi ini."


Hana berucap membuka pembicaraan. Ia tahu Damar orang sibuk apalagi sekarang ada Juli sebagai istrinya. Rasanya tidak mudah bagi seorang istri membiarkan suaminya menemui perempuan lain.


"Bukankah 2 hari lagi pengacara kamu akan mengajukan gugatan cerai. Ada apa Han ?"


Muncul garis kasar dikening Damar menuntut Hana segera menjelaskannya.


"Dia tahu tempat tinggalku di Bali. Dia kirim orang buat maksa aku kembali ke Tokyo."


Suara Hana bergetar layaknya orang menahan rasa takut mendalam.


Damar melirik Juli disampingnya sebelum menanggapi permasalahan Hana.


"Aku tidak tahu harus melakukan apa, selagi belum masuk persidangan dia masih suamimu Yuta berhak melakukannya."


Sebisa mungkin Damar belum ingin ikut campur terlalu jauh. Ia sekedar membantu menyewa pengacara handal untuk menangani kasusnya.


"Lalu Hana harus bagaimana mas ?"


Bisik Juli masih terdengar oleh orang yang di maksud.


"Juli begitulah memang kenyataanya. Kecuali Hana sudah melayangkan gugatan, dia akan mendapat perlindungan dari pengadilan. Yuta juga akan diawasi bahkan bisa menjadi tahanan kota."


Damar menghela nafas kasar menjelaskan posisi Hana yang lemah.


"Aku hanya butuh tempat bersembunyi, sampai saat itu tiba."


"Bagaimana kalau Hana tinggal sama kita mas ?"


Apa Juli tidak sadar dengan ucapannya ?


Bagaimana bisa dia berpikir membawa wanita yang pernah Damar sukai dulu kedalam rumahnya.


Damar menatapnya tajam seolah tak percaya, Juli benar benar diluar dugaan.


"Kamu gak harus melakukannya Juli. Aku masih bisa menjaga diriku sendiri."


"Mas Damar punya beberapa orang untuk menjaga kamu saat keluar rumah.


Perumahan kami ketat mana mungkin anak buah Yuta bisa masuk."


Juli meyakinkan Damar juga Hana untuk setidaknya mempertimbangkan kembali sarannya.


"Juli ada benarnya. Kalau kamu stay disini mereka malah akan leluasa mengganggumu Han."


Pada akhirnya Damar harus menyetujui ide Juli.


Hana sendiri ragu apa dia sanggup melihat kemesraan laki laki yang pernah ada dihatinya selama bertahun tahun bersama perempuan pilihannya.


Tapi Hana juga butuh melarikan diri dari Yuta agar bisa bebas menjalani hidupnya.


"Terima kasih Juli, kamu baik sekali."



Hana Hiroshi ( Marga dia dapat dari sang suami yaitu Hiroshi Yuta )


Hana bisa dibilang cinta pertama Damar. sayang sekali Hana menolak Damar karena mengejar karirnya sebagai calon desainer. Hana harus pindah ke Harajuku Jepang memulai kesuksesannya.


Hana menikah dengan Yuta yang tak lain pemilik brand fashion tempatnya bekerja.


Bisakah Damar dan Juli membantu Hana ? Atau kehadiran Hana malah membahayakan posisi Juli.

__ADS_1


__ADS_2