
Bagaimana perasaan seorang istri saat tahu suaminya mengobrol dengan seorang perempuan lewat telpon.
Entah harus marah, curiga atau berapi api menuntut penjelasan.
Dan sang suamipun sadar jika istrinya mulai menaruh rasa curiga.
Yang tercipta kini hanyalah kebisuan diantara mereka.
Akibatnya sepasang suami istri tidur saling membelakangi dalam satu ranjang.
Selepas menaruh cangkir kopi Juli langsung keluar. Memberi Damar space untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Banyak pertanyaan yang belum diuraikan oleh keduanya.
Dari Juli sendiri soal foto Sofia berselca dengan suaminya dan tentang telpon tadi.
Juli terlalu takut memulainya, dia trauma dan tidak ingin lagi mengalami pertengkaran seperti dulu.
"Juli . ."
Panggil Damar kemudian memeluk istrinya dari belakang.
"Iya mas ?"
"Aku mencintaimu sayang. ."
Ucap Damar berbisik kedekat telinga Juli, nafasnya menerbangkan helaian rambut yang menutupi tengkuk Juli.
"Aku dan baby juga lebih sedikit mencintai daddy."
Damar tidak tahu kalau istrinya mengatakan itu dengan senyum manis diwajahnya.
Juli tidak marah karena ia percaya Damar seutuhnya. Kenapa Damar harus mengkhianatinya ketika mereka sudah menyerahkan hidup masing masing dalam ikatan rumah tangga.
"Setelah masalah selesai ayo kita pergi bulan madu, sekalian baby moon."
Ajakan Damar akhirnya menarik perhatian Juli.
Ia membalikan badannya menatap wajah lelah Damar.
"Oke daddy. ."
Selanjutnya Damar meminta izin menengok baby. Terjadi perdebatan kecil Juli yang khawatir usia kandungannya masih rentan. Melawan komitmen Damar kalau dia akan melakukannya dengan lembut.
Juli selalu suka cara Damar menjamahnya. Mulai dari melepas pakaiannya yang tidak rusuh, melakukan rangsangan, hingga menjaga ritme agar memperlambat menuju klimaks kenikmatan.
Keperkasaan seorang suami tak melulu dibuktikan dengan gerakannya. Melainkan efek samping setelah melakukan hubungan ranjang. Juli akan merasa ketagihan dan tak sabar menantikannya lagi.
Damar beruntung Juli membiarkannya menjadi yang pertama. Mengingat dia pacaran dengan sang adik cukup lama. Karena bagi Juli sebelum mereka sah menikah pantang menyerahkan keperawanannya.
☀️☀️☀️
Kabar Juli hamil sudah menyebar keseluruh keluarga Ditya. Menciptakah kehebohan di meja makan saat sarapan pagi bersama.
Apalagi Ditya, dia sampai memeluk Juli hangat sekali.
"Pokoknya Juli harus jaga kesehatan ! Pola makan, minum susu ibu hamil sama vitamin. Ingat jangan stres."
Zara memberi nasehat sebagai mama mertua juga sebagai seorang istri.
"Iya mah, Juli akan selalu ingat pesan mama."
Sebelum berangkat Juli memeluk Zara dan Grand Ma bergantian. Kalau saja tidak ada jadwal wawancara dengan dosen Juli masih betah dirumah mertuanya.
"Kami pulang ya mah, Grand Ma."
__ADS_1
Pamit Damar.
Mobil dengan cepat meninggalkan rumah milik Kevin. Damar buru buru mengantar Juli ke kampus setelah itu dia harus bekerja. Rencananya hari ini pihak hotel akan mengadakan konferensi pers. Semua materi sudah disiapkan secara matang oleh timnya.
Mereka akan bertemu Ifan dikampus. Dia membawa keperluan kuliah Juli, jadi Damar tidak perlu lagi menyetir.
Entah kenapa Damar pagi itu mengebut, membuat Juli sedikit ketakutan terlihat dari ekspresinya.
"Mas !"
Juli bisa bernafas lega setibanya mereka dihalaman parkir kampus.
"Ya ampun Juls kamu kenapa ?"
Damar melepas seatbeltnya lalu menengok kesamping mendapati Juli terengah engah.
"Kalau kamu repot aku bisa naik taxi, kenapa pake maksa nganter segala ?"
"Kenapa ?"
Tanya Damar penuh kebingungan.
"Mas Damar nyetirnya kenceng banget tadi, gak inget apa sekarang ada baby ?"
Akibat kesal Juli keluar begitu saja meninggalkan Damar.
"Juls aku minta maaf bikin kamu takut."
Sudah ada Ifan saat Damar mengejar Juli.
"Terima kasih pak Ifan."
Ifan hanya tersenyum mengangguk tak merasa direpotkan.
Damar menahan tangan Juli yang ingin segera masuk.
"Enggak, tapi jangan diulang lagi. Aku masuk dulu ya mas, bentar lagi wawancara evaluasi."
Agar Damar percaya Juli tersenyum selebar mungkin.
"Good girl, baby baik baik ya sama mommy."
Damar menyempatkan mengelus perut Juli singkat.
"Sampai ketemu di rumah daddy. ."
Juli melambaikan tangannya pada Damar.
Lalu Ifan mengemudikan mobil mengantar bosnya ke kantor meninggalkan kampus.
Demi kelancarkan proses belajarnya Juli mengonsumsi susu ibu hamil dan Vitamin yang sengaja Ditya belikan untuknya.
Ayah mertuanya itu tahu kalau Damar terlalu sibuk mengurusi perusahaannya.
Hari ini Juli berjalan penuh percaya diri menjalani setiap proses kuliahnya.
Tidak ada waktu malas malasan meski mengandung buah hatinya dengan Damar.
"Loe happy banget kak, mentang mentang diantar pak Damar."
Suara seseorang menghentikan langkah Juli, tadinya mau masuk kelas ia berhenti menoleh ke belakang.
"Kamu lihat ?"
"Iyalah, mahasiswa tingkat akhir yang legend gara gara pacaran sama adiknya dosen kampus."
__ADS_1
Julia menghela nafas lega dia tidak menyebutkan dirinya pacar bahkan istri dari Damar.
"Jadi loe deket sama Damar karena mantannya dr. Kevin ?
Kak Juli beruntung banget bisa deket keluarga Aditya."
"Sofia, bisa kita bicara nanti ? Saya harus ujian wawancara sekarang."
"Kalau gitu gue tunggu dikantin ya kak, gue harap kali ini loe mau bantuin gue."
Ada harapan besar tersirat dalam senyum Sofia untuk Juli. Juli menjadi iba dibuat gadis malang dihadapannya.
"We'll see . ."
Tangan Juli mengusap singkat pundak Sofia sebelum dirinya berjalan kedalam.
Dosen pembimbing masa KKN Juli sangat terkesan menerima laporan magangnya. Juli berprestasi dibidang marketing, selain itu dia juga menjadi inspirator dalam mengembangkan bisnis usaha menengah kebawah.
Sedikit berlebihan Damar bahkan memberi surat penarikan Juli sebagai karyawan baru ketika dia sudah wisuda nanti.
"Selamat Juliana, anda akan dengan mudah lulus dengan IPK memuaskan. Kami bangga memiliki mahasiswa sukses dimasa magangnya."
Siapalagi kalau bukan Prof. Felix interwiewer Juli.
Karena kesibukan dosen senior itulah Juli bisa mengenal Damar suaminya.
"Terima kasih Prof. Berkat bimbingan profesor dan pak Damar saya bisa maju."
"Saya mau mengucapkan selamat secara langsung atas pernikahan kalian berdua. Damar banyak cerita progres kamu dari semester awal. Dari situ saya tahu kalau dia sangat menyukai anda."
"Terima kasih Prof. Kalau begitu saya permisi ya Prof. Selamat siang."
Tak terasa mereka menghabiskan kurang lebih 2 jam, mengobrol soal observasi langsung dunia bisnis dan manajemen.
Keluar dari kelas Juli ditunggu mahasiswa entah siapa.
"Siapa ?"
Tanya Juli, karena ia tahu Julilah yang sedang ditunggunya bukan Profesor Felix.
"Sofia kak, duh gimana ya aku bilangnya ?"
Mungkin temannya Sofia, dia terdengar kebingungan.
"coba kamu tenang dulu ! Jelasin sama saya ada apa sama Sofi !"
"Tadi dia baik baik saja, sekaramg sudah berada diparkiran. Dia minta kakak kesana sekarang."
Juli langsung lari ketempat tujuan tanpa sadar kalau dirinya sedang mengandung.
Ia ingat kalau Sofia memikiki penyakit serius namun tidak tahu apa lebih jelasnya.
Di area parkir sudah siap sebuah mobil yang didalamnya terduga ada Sofia.
Juli tahu logo dibagian mobil itu berlogo MHospital.
Ambulance, menurut petugas penyakit Sofia kambuh lagi.
"Saya ikut sama dia pak."
Juli duduk disamping brankar dimana Sofia sudah tak sadar dipasangi masker oksigen.
"Baik bu, nanti kita akan bertemu dr. Bara kakaknya pasien disana."
Sirine ambulance nyaring terdengar meninggalkan area parkir kampus.
__ADS_1