
156
Selamat pagi, setelah menjalani rutinitasnya sebagai seorang istri Juli kini siap dengan perlengkapan kuliahnya turun dari mobil. Sesuai perintah sang suami, ia diantar oleh Ifan.
Tadi sebelum berangkat, Juli bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan bersama hingga melengkapi kebutuhan Damar.
Sekalian melepas kepulangan mertua dan Grand Ma, mereka hanya menginap satu malam. Katanya lain kali mereka harus menginap dirumah Kevin gantian.
Juli usir jauh jauh pikiran tentang Damar yang pastinya akan menemui Sofia. Ia harus memberi perhatian lebih pada beberapa tugas akhir, apalagi tinggal menghitung hari Juli akan menyiapkan skripsi.
Kabar Juli telah menikah menyebar luas dan cepat seantero kampus. Pantas saja Juli selalu menolak beberapa ajakan kencan dari mahasiswa jurusan lain yang seangkatan.
Baginya rumah tangga lebih penting dari apapun selain mencapai kesuksesan belajar.
Nantinya waktu juga pikirannya akan terbagi menjadi dua yaitu menyiapkan skripsi sekaligus menjaga kehamilannya.
Menurut prediksi perhitungan, sebelum wisuda mungkin Juli melahirkan terlebih dulu baby didalam perutnya.
Juli senantiasa bersemangat setiap melangkahkan kakinya menyusuri koridor kampus menuju kelas.
Sapaan silih datang dari junior yang mengetahui sosok Juli.
Mendadak ia jadi populer akibat menikah dengan seorang pengusaha.
Mereka bahkan mengikuti akun media sosial miliknya. Disana Juli beberapa kali mengunggah kebersamaannya dengan Damar. Meski tak menunjukkan jelas wajah sang suami.
"Kita mulai materinya."
Dosen membuka mata kuliah yang dihadiri Juli.
Bukannya ke kantor, Damar malah memarkirkan mobil mewahnya dihalaman VIP rumah sakit.
Sedikit menyesal, Damar malah mengiyakan saat Sofia memintanya mengantar pulang.
Kevin ysng kebetulan baru sampai menghampiri sang kakak. Mengajaknya masuk bersama kedalam.
Kesibukan Kevin tidak serta merta menyita waktu kebersamaannya bersama Sekar.
Perlu diketahui, dia berangkat dari rumah Sekar kekasih barunya. Menginap tanpa melakukan hal gila adalah prinsip Kevin sejak menjalin hubungan dengan Juli.
"Mau kopi ?"
Kevin menawarkan Damar minuman sambil terus berjalan.
"gak usah, duluan ya."
Damar menaiki lift untuk bisa ke lantai 3, dimana Sofi sudah siap menunggu kedatangannya.
Kevin melambaikan tangan tanda perpisahan.
Saat pintu terbuka, Sofia baru saja selesai mengepak pakaian kedalam tas jinjing.
Ia berbalik mendengar seseorang datang. Senyum diwajahnya mengembang, Sofia berjalan cepat kemudian memeluk Damar singkat.
"Aku kira bapak ingkar janji. Kenapa tidak menjawab pesan pesanku ?"
Tanyanya posesif terdengar seperti seorang kekasih yang sedang menuntut penjelasan.
"Sofia aku banyak sekali pekerjaan, aku antar kamu pulang sekarang."
Damar mengalihkan pembicaraan, dia mengambil tas dibrankar lalu mengajak Sofia segera pulang.
Beruntungnya memiliki kakak seorang dokter, Sofia tidak perlu menunggu diperiksa oleh dokter observator dihari kepulangannya.
Dengan penuh keberanian, Sofia menggandeng lengan Damar sehingga menarik perhatian.
Suster, perawat maupun dokter mengetahui kakak sang Wakil Kepala rumah sakit itu sudah menikah. Dan merekapun tahu wajah sang nyonya, tentunya bukan Sofia.
Siapa sih gadis yang bersama Damar itu, kenapa dia terlihat manja sekali pada suami orang. Mungkinkah pak Damar berselingkuh secara terang terangan ?
Begitu kiranya pikiran mereka.
"Ada apa Kevin ?"
__ADS_1
Damar menerima telpon sesaat sebelum menincak gas mobilnya.
- Lu gila mas ? Orang orang lihat kalian mesra banget tadi, apa kata Juli kalau dia tahu suaminya jadi bahan gunjingan. Gak usah deh loe pake acara kasihan segala sama Sofia ! -
Kevin berteriak memaki Damar diruangannya. Desas desus itunternyata cepat sekali menyebar.
"Nanti kita bahas, aku jalan dulu Kevin."
Damar langsung mematikan handphonenya.
"Itu dokter Kevin ?"
Sofia antusias mendengar Damar bicara dengan adiknya.
"Hmm."
Damar mengangguk singkat lalu melajukan mobilnya keluar dari area rumah sakit.
Perjalanan menuju rumah Sofia mendapat arahan dari gadis itu karena Damar belum pernah berkunjung. Jujur saja Damar berat hati melakukan ini semua. Namun istrinya sudah menabuh genderang peringatan agar dia mau membantu Sofia.
Mobil memasuki gerbang tinggi menjulang yang dibukakan satpam. Pantas saja dia merasa kesepian apalagi dalam keadaan sakit parah. Dirumah mewah nan besar bernuansa klasik, Sofia tinggal berdua saja dengan sang kakak. Dengan ditemani beberapa pekerja rumah, tidak menghilangkan kesunyian ditambah sang kakak sibuk bekerja.
Belum diketahui jelas kemana orang tua mereka, Damar pernah mendengar dari Tiara kalau orang tua calon suaminya lama sekali tinggal diluar negeri mengurus perusahaan.
Damar menurunkan tas milik Sofia disambut bibi asisten rumah yang berjalan menghampiri.
Setelah tas beralih tangan, Damar berniat langsung pamit pergi.
"Masuk dulu pak, aku buatin minum . ." Sofia menawarkan jamuan.
"Gak perlu Fia, aku harus ke kantor sekarang karena ada rapat penting."
Tanpa basa basi Damar segera masuk kedalam mobil meninggalkan Sofia.
Gadis itu setia memandangi mobil Damar hingga keluar gerbang rumah. Helaan nafas panjang ia keluarkan demi menetralkan perasaannya.
Ia tahu, ini akan sulit baginya. Namun tekadnya terlalu kuat untuk mewujudkan keinginan terakhir hidupnya.
Sofia bukan gadis lugu ataupun naif, jelas sekali ia tahu Damar tidak nyaman didekati olehnya.
"Apa gue ke kampus aja ya, buat ketemu kak Juli. Pasti kemarin dia yang bujuk pak Damar jenguk."
Sofia masih berdiri di depan pintu rumahnya.
Anak itu, padahal dia baru saja pulih malah berpikir melakulan hal hal hal aneh lagi.
Di kampusnya Juli merasa kewalahan membawa barang barangnya. Saking buru buru ia tak sempat merapikannya kedalam tas.
Di tengah koridor Juli bertabrakan dengan seseorang, untung saja Laptop miliknya ia genggam erat.
"Eh, maaf maaf. ."
Kata laki laki, membantu Juli memungut buku buku kuliahnya.
"It's ok, terima kasih."
Juli menerima 3 buku dari tangan orang dihadapannya.
Saat mata keduanya bertemu, Juli memang lupa dia pernah bertemu dengannya dimana.
Sementara laki laki iru malah tersenyum mendapat tatapan dari Juli.
"Aku Tedi, kita pernah papasan di deket ruang lab MHospital."
Dia memperkenalkan diri.
"Kamu temannya Sofia kan ? Waktu itu kamu nunggu seseorang, saya pikir bukan Sofia."
Juli berjalan diikuti langkah laki laki yang bernama Tedi.
"Iya, benar. Sofia gadis keras kepala, dia selalu mengabaikan perasaanku. Katanya aku hanya merasa kasihan gara gara penyakit dirinya."
"Dan kamu tulus, meski tahu akan berujung menyakitkan ?"
__ADS_1
Dari nada bicara hingga caranya bercerita tentang Sofia, Juli bisa menebak kalau Tedi menyukainya.
"Perasaanku hanya akan membuat dirinya banyak pikiran. Oh iya, kamu mau aku antar kemana ? Mata kuliahku sudah selesai."
Tedi sopan menawarkan tumpangan untuk Juli.
"Gak usah, saya harus pergi ke suatu tempat dulu. Nanti kita ketemu lagi bahas Sofia."
Juli menepuk pundak Tedi sjngkat lalu melangkah keluar kampus.
Tepat di depan gerbang sebuah mobil sudah menunggunya, dan Juli tahu siapa pengemudinya.
"Mas Damar kok bisa jemput aku ?"
Selepas Juli duduk disebelah kemudi, tak lupa ia mencium punggung tangan sang suami.
"Iya, rapatnya berjalan lancar. Jadi aku bakal menepati janji buat temenin kamu."
Damar mengusap ujung kepala Juli sebelum menancap gasnya lagi.
"Kita ke rumah sakit ya mas, aku mau USG. Sebenarnya dr. Bara sudah menawarkannya pas aku ambil hasil lab. Tapi aku mau mas Damar juga bisa melihat bayi kita."
Mendengar perhatian Juli Damar tersenyum bangga. Istrinya sangat peduli terhadapnya, lantas kenapa dia masih berpikir mau dekat dengan Sofia.
Di sinilah sekarang keduanya, berada diruang praktek Tiara sebagai dokter kandungan.
Memang mereka bersaudara, namun perihal antrian konsultasi Damar tetap mengambul jalur umum.
Sebelumnya Tiara sudah mengoleskan gel diatas perut Juli.
Lalu menempelkan alat detektor yang bisa menampilkan progres bayi dalam rahim Juli.
"Tuh lihat mas Dee, duplikat loe sehat dan perkembangannya sangat baik. Gue mau loe jaga Juli jangan sampai stres apalagi kelelahan."
Tiara menasehati Damar cukup keras didepan Juli.
Ia tahu gosip mengenai Damar bersama Sofia calon adik iparnya pagi tadi.
Selain Kevin, Tiara juga masih menunggu penjelasan keputusan Damar selanjutnya.
"Bawel kamu, mana coba gak jelas gitu gambarnya."
Damar mencondongkan tubuhnya kedekat monitor disebelah brankar.
"Yang titik gelap, ukurannya masih dalam hitungan centimeter. Nanti aku cetak fotonya buat kalian."
Selesai diperiksa Tiara kembali ke mejanya menyiapkan resep vitamin.
Juli dibantu suster merapikan pakaiannya. Sementara Damar sudah duduk dihadapan Tiara.
Tiara menatapnya tajam tak suka.
"Apa sih Ra ?"
Damar penasaran dibuatnya.
"Disini heboh kamu selingkuh sama adiknya Bara. Kalau Juli tahu apa yang akan kamu jelaskan mas ?"
Bisik Tiara berusaha agar Juli tidak dapat mendengarnya.
"Juli tahu semuanya, dia bahkan menyuruhku menjenguk Fia kemarin."
Tiara menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesaran.
Sungguh diluar dugaan pasangan dihadapannya.
"Mas aku pengen makan rujak abis dari sini."
Suara Juli memecah keheningan diantara mereka. Tiara mengulas senyum mendapati kebiasaan ibu hamil pasiennya.
"Iya sayang, ayo berangkat."
Damar merebut secarik kertas dihadapan Tiara.
__ADS_1
"Awas jangan pedes pedes Juls, jangan buah yang asem juga."
Teriak Tiara saat keduanya sudah menghilang dibalik pintu.