Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#149


__ADS_3

Juli terperanga melihat ruang tamu berantakan. Tubuh Ifan tergeletak tak sadarkan diri dilantai.


Juli takut rumahnya kemalingan di sore begini.


Dengan cepat ia merogoh sakunya mengambil handphone untuk menelpon Damar.


Sambungan sudah terhubung, sayangnya benda pipih yang menempel ditelinga Juli itu tiba tiba direbut tangan seseorang.


Dia mengenakan stelan jas berdiri penuh percaya diri memasuki rumah Juli tanpa izin.


Bahkan dia sudah melumpuhkan Ifan asisten suaminya.


"Kamu hanya perlu ikut denganku, maka aku tidak akan berbuat kasar."


Katanya tanpa basa basi.


"Oke, tapi ada syaratnya."


Setenang mungkin Juli mencoba bernegosiasi.


"Silakan mrs. Juliana."


"Ifan harus ikut bersamaku."


Keduanya melirik seonggok manusia tak berdaya di bawah kaki mereka.


"Bawa dia juga !"


Dia memerintah pada anak buahnya yang berdiri diambang pintu.


Juli melangkah keluar tanpa rasa takut pada pria dibelakangnya.


Ifan juga dipapah lawan sejawatnya, sama sama pengabdi majikan.


"Apa lagi ?"


"saya harus mengunci pintu dulu, kalau maling masuk memangnya tuan mau ganti rugi ?"


Serius kata kata Juli malah membuat penculiknya terkekeh gemas sendiri.


Dan mobilpun melaju meninggalkan rumah, membawa pergi Juliana juga Ifan oleh seorang pria.


Di kantornya Damar baru saja selesai melakukan pertemuan dengan kepala bagian guna membahas masalah kritikan.


Damar dibuat wara wiri oleh komentar yang ditulis dikolom review website hotel.


Masalahnya bagian yang terkait merasa tidak pernah melakukan kesalahan itu.


Meski sibuk Damar menyempatkan waktu untuk menelpon Juli. Ada satu panggilan tak terjawab dari Juli, Damarpun memanggil balik.


Panggilan terhubung namun tak kunjung diangkat Juli.


"Halo mah . .


Juli udah dirumah belum ?"


Tanya Damar ketika Zara menerima telpon darinya.


"Loh mama malah mau tanya kamu, Juli udah jalan belum. Ini mama masih nunggu dia dari tadi."


Jawaban Zara malah membuat Damar khawatir dan cemas.


"Tadi Damar telpon Ifan hapenya mati mah, gak biasanya dia begitu."


Giliran Zara yang khawatir, mereka sama sama diam memikirkan dimana keberadaan Juli sekarang.


"Mah udah dulu, ada pesan yang harus Damar baca."


Dengan cepat Damar mematikan panggilan keluar lalu membaca isi pesan dari kontak sang istri.


- Juli aman sama saya, asalkan pengacara anda tidak membantu Hana.


By : Hiroshi Yuta -


Sialan !


Damar mengumpat kasar nama Yuta sekencang mungkin. Karyawan yang lewat dihadapannyapun terkejut bosnya marah besar.


Ini salahnya, Damar lengah menjaga Juli hanya karena mengutamakan keselamatan Hana.


Kasihan dia, pasti Juli sedang ketakutan saat ini didekat Yuta.


Mengingat perlakuan buruknya pada Hana, Damar tidak bisa tenang sedetikpun.


Damar memberi kabar penculikan Juli pada Galih.


Dia meminta Galih mempercepat proses pengumpulan bukti. Damar juga ingin tahu alamat Yuta di Jakarta dari Hana.


"Argh . . ."


Damar membanting stir berulang kali melampiaskan kekesalannya.

__ADS_1


Tahu akan seperti ini Damar tidak akan melibatkan diri kedalam masalah Hana.


Penyesalan memang selalu datang terakhir. Damar harus tenang dan berpikir jernih.


Ting . .


Barulah Damar mendapat pesan dari Galih, tertera alamat rumah Hiroshi Yuta di Jakarta.


Langsung saja Damar menyalakan mesin, melajukan mobil secepat kilat membelah jalanan ibukota.


"Saya tahu kamu wanita pintar, mari kita lakukan negosiasi."


Benar Yuta membawa Juli ke rumah mewahnya.


Mereka tengah duduk berhadapan disofa ruang tengah.


"Anda sudah kalah tuan Yuta. Hana tidak akan pernah mundur."


Juli duduk sedikit menyandarkan tubuhnya. Mendadak ia merasakan sakit pada perutnya.


Yuta menganati perubahan wajah Juli yang menjadi pucat, gerak tubuhnya juga seperti gelisah.


"Kalau begitu bagaimana kalau saya mengacaukan perusahaan suamimu ? Hari ini baru permulaan mrs. Juli."


Jadi masalah di kantor disebabkan oleh pria itu.


"Anda salah menjadikan saya umpan, Hana tetap akan menggugat karena mas Damar sudah menjaminnya."


Mendengar Juli memanggil suaminya dengan sebutan mas, berhasil menyentil relung hati Yuta.


Bahkan Hana selalu memanggilnya Yuta San, tak pernah sekalipun ada kemesraan diantara mereka.


"Mrs. Juli ketika Hana meninggalkan saya, barulah saya menyadari arti kehadirannya. Bukan hanya pemuas nafsu, tapi seorang pendamping ditengah kehampaan."


Kali ini Yuta mengutarakan kejujuran hati dan perasaannya.


"Kenapa harus memaksanya pulang ? Cinta tidak bisa dipaksakan tuan Yuta. Hana awalnya menyukai pribadi anda, hingga akhirnya dia harus sakit bertubi tubi."


"Nona . ."


Ifan datang dikawal dua anak buah Yuta, dia sudah sadar dari pingsannya.


"Tenanglah, saya tidak akan menyakiti istri bosmu."


Yuta meminta Ifan agar tenang, dia perlu mendapat solusi dari seorang Juli.


Saat berkunjung kerumah Damar Yuta bisa melihat kalau Juli bisa membantunya. Berbeda dengan Damar atau Hana, Juli berpikiran terbuka menurut pendapat Yuta.


"Aah . ."


Membuat Yuta khawatir melihat keadaan Juli.


"Apa lagi yang anda tunggu Mr. Yuta ? Cepat bawa nona Juli ke rumah sakit !"


Ifan berteriak tidak sabaran memerintah Yuta tanpa sadar.


Yutapun terpaksa membopong Juli menuju mobil. Jika Damar tahu jelas suaminya akan mengamuk menghajar Yuta habis habisan.


Tapi ini demi keselamatan Juli, Yuta bertanggung jawab karena telah menyanderanya.


Mobil sengaja Yuta kendarai seorang diri untuk mengantar Juli ke rumah sakit. Setelah sehat nanti Yuta berniat tidak akan melibatkannya lagi.


Terlalu riskan bagi posisinya nanti.


"Bisa cepat sedikit ? Baby kami harus baik baik saja !"


Juli mencengkram lengan kiri Yuta sementara satunya memegangi perut rata miliknya.


"Bertahanlah ! Aku akan mengebut."


Injakan kaki Yuta pada gas semakin dalam berusaha melaju sekencang yang ia bisa.


Setibanya didepan IGD suster langsung membantu Yuta memindahkan Juli ke brankar.


Sementara Yuta diminta mengisi formulir data pasien.


"Suster, dia sedang hamil."


Kata Yuta pada perawat yang akan memeriksa Juli di bilik ruang IGD.


Cukup lama Yuta menunggu Juli selesai diperiksa. Tindakannya sembrono melibatkan Juli untuk mendapatkan Hana kembali.


"Suami pasien ?"


Tanya dokter yang memeriksa Juli.


"Bukan, saya hanya mengantar. Bagaimana keadaannya dok ?"


Jika Yuta bisa khawatir pada Juli, artinya masih ada rasa kemanusiaan didalam dirinya.


Bisa jadi Yuta juga memiliki rasa peduli untuk Hana istrinya. Faktanya dia tidak mempermasalahkan Hana ketika Yuta tidak disiapkan sarapan atau pakaian kerjanya.

__ADS_1


"Kondisi pasien baik baik saja setelah mendapat asupan vitamin. Tolong jangan sampai ibu hamil tertekan apalagi stres. Saya permisi."


Dokter segera pamit meninggalkan Yuta.


Sore menjelang malam mobil Damar baru berhenti di depan sebuah rumah. Perlu waktu kurang lebih 2 jam jarak tempuh tanpa masuk jalan tol.


Belum turun juga, Damar mengamati kediaman yang terlihat sepi menurutnya.


Tidak ada mobil satupun terparkir didepan garasi.


"Ada kabar apa ?"


Damar menerima panggilan dari Galih.


"It's clear Damar. Memang sempat mangkir dari pajak, tapi perusahaan beserta anaknya stabil dikendalikan Yuta."


"Damn it !"


Umpat Damar frustasi mencari senjata untuk menyerang Yuta. Kalau begini posisi Hana tidak menguntungkan.


"Satu lagi,


komentar buruk mengenai MHotel ditulis salah seorang model pakaian merek milik Hiroshi Yuta."


Tambah Galih terus menyampaikan informasi yang dia dapat.


"Oke, aku masih mencari Juli.


Loe jaga Hana baik baik."


"Damar aku minta maaf , ,"


Galih meloudspeaker, Hana juga mendengarkan sejak tadi.


"Ini semua gara gara aku Juli dalam bahaya. Tolong selamatkan dia, atau aku akan hidup dalam penyesalan."


Sesaat mereka diam tak ada suara. Damar sendiri bingung harus mencari Juli dimana. Handphone Juli dan Ifan sama sama mati.


"Dia Juli yang kuat, pasti akan baik baik saja."


Damar menunduk sedikit ragu dengan apa yang ia katakan barusan.


🌙️🌙️🌙️


Juli bangun dari tidurnya bertepatan isian infus sudah hampir habis.


Ia melirik sekeliling mencari keberadaan seseorang.


"Nona . ."


Ifan muncul dari balik pintu menghampiri Juli.


"Mr. Yuta sudah membebaskan kita, tapi . . ."


Perkataan Ifan menggantung memunculkan tanda tanya diwajah Juli.


"Tapi apa ?"


Juli penasaran.


"Dia sengaja mempersulit kepulangan kita. ."


Juli memperhatikan Ifan juga dirinya bergantian.


"Haha . . ."


Gelak tawa Juli nyaring diruangan rawat inap. Ifan jadi khawatir sendiri melihat Juli seperti itu.


"Nona baik baik saja ?"


"Jadi, gak ada mobil, gak ada uang terus handphone artinya kita gak bisa pulang."


"Bagaimana kalau Yuta san memaksa Hana supaya tidak jadi menggugatnya ?"


Juli menggeleng yakin.


"Justru sebaliknya, Yuta akan membiarkan Hana melakukannya."


Ifan menuntun Juli keluar ruangan. Untungnya Yuta membayar tagihan rumah sakit, mereka bisa keluar dengan mudah.


"Pak, kita pinjam telpon bagian informasi aja."


Ide bagus muncul dikepala Juli saat mereka berjalan melewati receptionist.


"Anu non, saya lupa nomer telpon tuan Damar."


"Haha pak Ifan, saya juga gak hafal. Tapikan masih ada nomer hotel."


Lalu Juli mulai mengobrol dengan staf informasi, meminta bantuan dengan meminjam telpon.


Hampir ketiduran, Damar masih berada didalam mobil. Setia menanti kedatangan si tuan rumah, siapa tahu ada Juli bersamanya.

__ADS_1


"Nona Juli ada di rumah sakit Permata di Jakarta Selatan."


Mendengar kabar dari kantor, Damar menjadi bersemangat kembali menjemput istrinya.


__ADS_2