Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Menderita sendirian


__ADS_3

"ada masalah dengan Dee, sepertinya dia tidak menyukai ASI ibunya. Apa bu Zoya mengkonsumsi obat obatan ?"


Sesuai perintah Ditya, mereka berdua memeriksakan kondisi Dee kedokter spesialis anak.


Ditya bahkan menyempatkan waktu kerjanya untuk menemani Zoya.


Dee tertidur dipangkuan Ditya, orang tuanya mendengarkan hasil observasi dokter.


"iya dok, tapi itu sesuai resep dokter. Apa berbahaya bagi kesehatannya ?"


Mendadak tangan Zoya gemetar, ia meremas dress bagian pahanya. Mulai khawatir dengan kondisi Dee yang cukup serius.


"bagaimanapun, tidak semua bayi yang masih dalam masa pertumbuhan, bisa menerima asupan ASI jika ibunya meminum obat secara berkala. Coba saja Dee beralih ke susu formula, jika ibu memang masih harus mengkonsumsi obat."


Penjelasan dokter berhasil membuat Ditya bereaksi. Dia menatap kearah samping, menyelidik wajah Zoya yang tertunduk.


"kami akan coba, jika sesuatu terjadi kami akan kembali check up. Kalau begitu permisi dok, terima kasih."


Ditya menyudahi pertemuan itu dengan buru buru. Dia ingin segera keluar dari rumah sakit dan meminta penjelasan dari Zoya.


Mulai dari keluar ruangan dokter, melewati lorong rumah sakit, hingga duduk didalam mobil Ditya masih diam. Tidak mengatakan sepatah katapun pada Zoya.


Begitupun wanita itu, pikirannya masih saja sibuk sendiri.


Tindakannya bisa saja membahayakan Dee. Padahal ASI masih sangat dibutuhkan, setidaknya sampai usia 2 tahun.


Zoya diliputi rasa bersalah, kualitas ASInya jadi tidak bagus untuk dikonsumsi Dee.


"aku beli susu formula dulu."


Ditya menghentikan mobilnya disalah satu mini market. Meninggalkan Zoya yang masih memangku Dee.


Mereka telah sampai di Penthouse, Zoya langsung menaruh Dee dikamarnya.


Kamar yang disulap khusus untuknya, sekarang Dee sudah tidur terpisah. Zoya kembali ke kebiasaannya, pondah pindah kamar. Kadang ia ketiduran ketika menemani Dee tidur. Atau jika terbangun sudah larut malam ia kembali ke kamar Ditya.


Ditya merapikan kotak susu yang banyak dibelinya. Dia membaca aturan minum, sambil merebus air untuk disimpan di termos.


Persediaan air untuk membuat susu Dee.


Untungnya Dee sudah diberi asupan makanan, jadi tidak terlalu masalah kalau harus alih ke susu formula.


"biar aku yang buat mas, kamu istirahat dulu sebelum kembali bekerja."


Tangan Zoya berusaha mengambil alih apa yang sedang dikerjakan Ditya. Namun secara mengejutkan Ditya menepisnya kasar.


Raut wajah Zoya datar menerima perlakuan suaminya. Ia tahu kenapa Ditya bisa seperti itu terhadapnya.


"apa kamu masih akan diam ? Sejak tadi aku menunggumu Zoya, setidaknya katakan agar aku bisa memahaminya."


Rahang Ditya mengeras, sebisa mungkin dia menahan emosinya. Jangan sampai Ditya hilang kontrol, memarahi Zoya mengenai kondisinya yang meminum obat tanpa sepengetahuannya.


"aku minta maaf mas . .

__ADS_1


Aku kira dengan hanya minum obat aku akan baik baik saja. Nyatanya malah mengganggu kesehatan Dee."


Mulai terdengar isak tangis Zoya, tubuhnya lemas dan bersimpuh dilantai.


Tangannya menggenggam erat Ditya seolah meminta pertolongan untuk membantunya.


"cancer mas, itu yang sedang aku alami. Cidera yang beberapa kali aku alami, merusak beberapa organ lainnya."


Kejujuran yang Zoya katakan, bagai petir yang menyambar tubuh Ditya. Pria itu masih memaku, tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"bisakah kamu menolongku, agar aku bisa menemani kamu dan Dee lebih lama lagi."


Lirih sekali Zoya, menangis sesenggukkan. Selama ini tidak ada yang tahu, sakit yang selalu ia rasakan. Sudah berapa banyak air mata Yang jatuh, menahan rasa sakit yang menyeruak keseluruh tubuhnya.


Obat yang pernah Ditya tanyakan, hanyalah obat pereda nyeri. Tidak mampu menyembuhkan atau bahkan mencegah penyebaran.


"kenapa kamu Zoya ? Apa yang harus aku lakukan . . Ya Tuhan ini sungguh tidak adil."


Kekuatan Ditya seketika runtuh, kakinya yang gemetar bisa dirasakan oleh Zoya.


Tangan Ditya bergerak turun untuk meraih tubuh Zoya, dia peluk dengan erat istrinya.


Ditya dan Zoya menangis bersama, berbagi derita agar terasa lebih ringan. Takdir Tuhan memang tidak ada yang tahu, Zoya kini harus mengalami masa masa sulitnya.


Sesak sekali Ditya menerima semua ini, dia bahkan menangis terisak isak. Kalau boleh meminta, janganlah Zoya. Ditya bahkan tidak mampu menahan rindu kala berjauhan dengannya.


"sakit yang aku rasakan, tidak ada apa apanya mas. Daripada rasa sakitku yang harus meninggalkan kamu suatu hari nanti. Aku takut sekali mas . ."


Zoya meraba wajah Ditya berkali kali, menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti menetes.


Hari itu, dimana dunia mereka berdua kembali diguncangkan oleh Tuhan. Kenyataan pahit, lebih pahit dari apapun yang terasa pahit didunia ini.


"tuan, nyonya . . Ada apa ?"


Bi Sumi tiba tiba muncul keluar dari kamarnya. Setelah mendengar keributan, beliau mencoba untuk menahan diri. Tapi ini sudah terlalu lama mereka menangis diarea dapur.


"tidak apa bi, saya titip Dee dikamarnya."


Zoya menyembunyikan Ditya yang masih menangis, ia meminta bantuan bi Sumi untuk pergi kekamar.


Terlihat jelas kalau mata nonnya sembab kebanyakan menangis, membuat bi Sumi semakin khawatir.


"baik non,."


Dengan Cepat bi Sumi berjalan menuju kamar Dee.


"ayo mas, sebelum Dee bangun aku ingin kamu mandi dan bersiap. Kamu tidak boleh terlihat kusut didepan anak kamu !"


Zoya melepaskan pelukannya, mengusap kembali pipi Ditya. Ia menarik lengan Ditya dan membawanya masuk ke kamar.


Pria itu hanya menurut, lemah dan tak berdaya.


Zoya mengajaknya mandi bersama, ia mulai melepaskan semua yang dikenakan Ditya.

__ADS_1


Tangannya beralih ke kran shower, menyalakan air yang mulai menghujani tubuh Ditya.


Zoya sendiri masih utuh dengan pakaiannya.


Apa yang sedang dipikirkan olehnya ? Membantu Ditya membersihkan badan seolah itu akan menjadi yang terakhir.


"hentikan Zoya !"


Ditya melepaskan tangan Zoya yang sedang mengusapkan sabun mandi kebadannya.


Tanpa pikir panjang, Ditya melakukan serangan pada Zoya. Dia mel*mat bibir basahnya, menarik tengkuk leher Zoya untuk mendekat. Satu tangannya memeluk pinggang Zoya agar memperdalam ciuman mereka.


Zoya melingkarkan tangannya keleher Ditya, merasakan sensasi nikmat menerima permainan lidah suaminya.


Pria itu secara paksa merobek dress Zoya, sehingga terjatuh begitu saja ke lantai. Bra dan Cd dilucutinya dengan mudah. Ditya membalikkan badan Zoya agar menghadap ke dinding.


Dia mulai memasukkan miliknya kelubang Zoya.


Tangan kanan Zoya menahan pada dinding, sementara satunya dipegang oleh Ditya sebagai sumber kekuatan. Tidak terlewat Ditya mere*as gunung kembar Zoya.


Pelampiasan rasa sedihnya, Ditya curahkan dalam hubungan s*x bersama Zoya.


"mmm mas . . Aah sakit . ."


Tidak seperti biasanya, Zoya merasakan hal aneh. Bukan sakit nikmat yang kini ia alami, melainkan rasa linu dan nyeri pada alat kel*minnya.


"sebentar lagi sayang, aku mohon bertahanlah. Aaah, hmmm . ."


Seharusnya Ditya tidak melakukan hal itu, Zoya tidak sesehat dulu. Kini apapun yang menyerang tubuhnya, Zoya tidak mampu menahan.


Daya tahan tubuhnya tidak sekebal orang sehat pada umumnya.


Pantas saja, Zoya selalu menolak permintaan Ditya untuk bersetubuh. alasannya karena sedang datang bulan. Memang benar, Zoya bisa berkali kali menstruasi dalam kurun waktu satu bulan. Hormonnya sangat tidak stabil, efek dari sakit yang di deritanya.


"mas keluarkan sayang . . Aaaah . ."


Ditya menikmati puncaknya, terbayar sudah rindu yang sudah lama dia pendam.


"aaw . . Mas, sakit sekali."


Zoya meringis kesakitan memegangi perutnya. Darah mulai mengalir jatuh melalui paha Zoya.


Darah yang tidak sewajarnya jika wanita mengalami haid hari pertama, itu banyak sekali seperti pendarahan.


"Zoya, . ."


Secepat mungkin Ditya mematikan air shower, membopong tubuh Zoya keluar dari kamar mandi.


Tak lupa Ditya memakai handuk kimono, begitu juga untuk menutupi tubuh polos Zoya.


"obat mas, tolong ambilkan dilaci TV.!"


Zoya menunjuk kearah rak TV, disanalah ia menyimpan stok obatnya.

__ADS_1


Laci yang tidak pernah Ditya jangkau, Zoya berusaha menyembunyikan penyakitnya selama ini.


Pada akhirnya ketahuan juga oleh Ditya.


__ADS_2