
"mertua kamu sudah menceritakan semuanya, bu Atikah tidak ingin menutupi apapun. Hanya saja papi melarang mami kasih tahu kamu, takut kamu seperti ini."
Mulai dari keputusan Zoya yang ingin mendonorkan organ tubuhnya, bu Atikah memang memberitahu juga besannya. Kalau identitas pasien yang dibantu, memang Aulia dan Mahesa tidak tahu menahu.
"kamu harus bisa melewatinya Dit ! Lawan rasa bersalahmu, Zoya juga ingin yang terbaik untuk kalian berdua."
Mahesa ikut menasehati Ditya, ini kesempatan mereka berusaha meyakinkan Ditya agar bangkit.
"semuanya sudah berakhir, Ditya sudah menyakiti Zara. Lagipula kalian tidak bisa menerimanya bukan ?"
Ditya bangkit dari sofa, setelah lukanya diobati bu Aulia.
"kamu yakin mau ikut masuk ?" Tanya Kusuma pada Zara, mereka sudah sampai dihalaman rumah Mahesa untuk menghadiri acara ulang tahun Dee.
"Zara datang sebagai anak mama, ini akan jadi yang terakhir Zara melihatnya."
Sebelum memutuskan untuk ikut, banyak hal yang sudah ia pertimbangkan.
"mama berdoa yang terbaik untuk Zara."
Atikah mengelus rambut Zara, ini bagaikan mimpi. Zoya ada pada diri Zara.
"selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat sejahtera, sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia."
Teman sekolah dan tetangga yang hadir, menyanyikan lagu ulang tahun untuk Damar Aditya.
Kenangan pesta ulang tahun bersama ibunya, saat Dee masih berusia 1 tahun. Dan itu menjadi yang pertama dan terakhir. Apalagi Dee masih kecil, belum mengerti apa apa waktu itu.
Ditya mendampingi Dee meniup lilin dan memotong kue. Tatapannya tertuju pada sosok perempuan yang baru saja hadir ditengah keramaian.
"onti Zara !"
Pandangan Dee manangkap kehadiran Zara, dia berlari kearah perempuan yang diharapkan menjadi mama sambungnya.
Dee memeluk erat Zara, begitupun Zara membalasnya dengan tetesan air mata.
"onti kenapa nangis ? Biar Dee kenalkan onti sebagai mama Dee ke teman teman."
Dengan lembutnya, tangan Dee bergerak menghapus airmata dipipi Zara.
"Dee tahu kan onti sayang banget sama kamu. Jika Tuhan berkenan, do'a kita akan terkabul. Sekarang, jalan onti sama ayah sudah berbeda. Kan onti udah jadi onti Dee sunggugan. Nenek Atikah mamanya onti Zara."
Ditya berusaha mengalihkan pandangannya, tidak ingin bertemu mata dengan Zara.
Keluarga Mahesa memang sempat diberi tahu Ditya, kalau Atikah akan menikah lagi. Hanya mereka tidak tahu kalau Zara adalah anak dari suaminya sekarang.
Milka yang juga hadir, tidak menyangka kalau Zara terhubung dengan Ditya oleh takdir.
__ADS_1
"Mahesa ? Jadi Ditya anak kamu . ."
Kusuma membetulkan posisi kacamatanya, benar kalau orang yang dilihatnya adalah Mahesa. Teman lama Kusuma, yang terpisah sejak masa kelulusan SMA dulu.
"Kusuma ! Haha . ."
Keduanya berjalan mendekat, memeluk satu sama lain.
Sekian lama akhirnya bisa saling bertemu kembali.
"sama sama anak jowo."
Gumam Mahesa, tawa keduanya pecah. Lebih heboh dari anak anak yang ramai berebut makanan dan souvenir.
"Zara anakmu toh ? Lagian tidak ada namamu dibelakangnya."
"kenapa, kamu pasti melarang anakku berhubungan dengan Ditya ?"
Goda Kusuma yang memang benar, pertama kali bertemu keluarganya sempat tidak suka. Karena belum mengenal satu sama lain dengan baik.
"aku terserah Aditya saja, sudah bukan hakku melarangnya."
Suasana jadi lebih nyaman dan mencair, pikiran kurang baik tentang Zara akhirnya pergi begitu saja dibenak mereka.
Milka mengajak Zara berbicara empat mata di meja makan.
"Zara, aku minta maaf soal sikapku yang kekanakan. Harusnya aku tidak begitu, Ditya berhak bahagia dan melanjutkan hidupnya."
Zara tersenyum miris, mengingat sekarang mereka bertegur sapapun tidak.
"kamu salah, Ditya bahkan memilih kamu daripada kami keluarganya. Bahkan dia membawa Dee saat kami belum bisa menerima kamu."
Asa yang dikatakan Milka tidak akan merubah apapun. Zara sudah bulat dengan langkahnya.
"aku pamit dulu mbak, papa sama mama sudah nunggu."
Sudahlah, semuanya sudah tidak ada gunanya lagi. Zara enggan membahas soal hubungannya dengan Ditya.
"kami pamit yo, semoga kita bisa kumpul kayak tadi lagi."
Kusuma mengajak Atikah dan Zara pulang, dilepas oleh Mahesa, Aulia Dee juga Ditya.
"onti, jangan pergi ! Dee mohon, menginaplah disini ya ?!"
Dee berlari kearah Zara, dia memeluk lengan Zara seolah akan ditinggal pergi jauh olehnya.
"Dee, suatu saat kita akan bertemu lagi. Be a smart boy, and don't cry, ok ?!"
__ADS_1
Kali ini saja, biarkan Zara memeluk Dee dengan penuh kasih sayang. Sekarang ia mengerti, kenapa dirinya bisa sangat menyayangi Dee. Itu karena perasaan yang disalurkan oleh Zoya.
-Ditya, aku tahu kamu bagai tembok tinggi yang susah untuk dipanjat. Seperti patung es yang butuh waktu lama untuk mencair. Semoga kamu selalu bahagia, bersama Dee juga-
Sebelum masuk mobil, Zara menyempatkan melirik kearah pria yang berdiri tegap tak bergeming.
"Ayah jahat, Dee kecewa sama ayah ! Ayah buat onti Zara menangis, dia itu baik ayah."
Dee marah pada Ditya, dia berlari kedalam meninggalkan semuanya.
"cobalah kamu memikirkan perasaan anakmu. Sebelum semuanya terlambat seperti dulu lagi."
Bu Aulia menepuk pundak Ditya memberi semangat.
-beri aku kesempatan itu Zara !-
Batin Ditya, dia juga masih bingung dengan perasaannya. Awalnya Ditya sudah menyukai Zara, tapi saat tahu kenyataan itu Ditya kembali merasa tidak pantas mendapatkan kesempatan untuk bahagia.
"kamu tahu Dit ? Zoya sangat amat mencintaimu, apapun dia lakukan demi bertahan sama kamu. Selain itu, dia juga ingin kamu selalu bahagia. Maka dari itu, lepaskan semua rasa bersalahmu ! Mulailah semuanya dari awal, tidak ada gunanya larut dalam penyesalan. Dia akan sangat mengerti, kamu juga butuh sebuah kehidupan. Yang Zoya inginkan, kamu dan Damar akan mendapat kebahagiaan tanpa kesedihan lagi."
Begitu kiranya yang disampaikan bu Atikah, mertuanya yang kini sudah Ditya anggap ibu.
Semua orang tahu, Ditya tidak pernah berani melangkah karena kesalahannya dulu pernah mengkhiantinya.
"anggap saja, Zoya menuntunmu menuju seseorang yang bisa meraih tanganmu keluar dari keterpurukan. Melaluinya, Zoya akan terus ada untuk menjaga kalian. Kamu juga bisa mencintai mereka, dengan rasa yang sama."
Bolehkah begitu ? Ditya bahkan tidak ingin mencari jawabannya.
"ayah . ."
Dee mendekati Ditya yang masih setia berdiri menatap kearah jendela.
"mulai sekarang, Dee janji tidak akan meminta ayah nikah sama onti Zara. Kalau memang itu membuat ayah menderita."
Anak itu, menghapus air matanya yang berani jatuh saat dirinya berusaha tegar.
"Dee hanya ingin ayah bahagia, biar Dee yang akan menemani ayah selamanya. Tidak ada yang lain, hanya kita."
Ditya berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Dee.
"kemarikah !"
Ia meminta Dee memeluknya, Ditya mengelus kepalanya.
"ayah sangat sayang sama Dee, kamu segalanya buat ayah."
Hanya kata kata itu yang bisa ia ucapkan. Dalam hatinya, Ditya juga ingin kebahagiaan untukmu nak. Bersabarlah, semoga ayahmu bisa melawan rasa ini.
__ADS_1
"tidur ya Dee ?! Ini sudah malam, besok sekolah."
Seperti biasanya, jika tidak ada tugas malam Ditya yang akan menina bobokan Dee. Kali ini mereka tidur di rumah Mahesa, ia enggan pergi kemana mana. Karena semua tempat selalu mengingatkannya pada Zoya. Mulai dari kamar itu, penthouse, rumah pribadi. Bahkan sekarang, apartemenpun akan menjadi kenangan Ditya dan Zara.