
Kedua pasang kaki saling bergelantungan duduk dikursi halte kampus.
Menyaksikan lalu lalang kendaraan yang melintas dijalan.
Sudah hampir setengah jam mereka berdiam diri tanpa percakapan.
"Ya ampun Kevin, kapan kamu akan memutuskan ? Mau disini sampai besok lagi ?"
Juli berdecak kesal oleh Kevin yang masih saja memikirkan solusi.
Sebagai ganti rugi yang harus Juli berikan atas rusaknya lukisan berharga Kevin.
"Ya aku bingunglah, kamu gak mungkin juga membeli lukisan yang sudah rusak."
Kata Kevin kemudian berdiri menatap Juli.
"oke, kamu harus menjaga galeri jika sewaktu waktu buka untuk dijual. Menemani pelukis handal ini sampai lukisan ratu selesai dibuat ulang."
"Apa ?
Ogah ah, aku juga kan punya kegiatan sendiri. Jangan itu, yang lain deh."
Lagi lagi Juli memberi tatapan memelas pada Kevin agar mencari ide cadangan.
"I have no idea Juls, sekalian kamu bantu jual stok lukisanku. Nanti ada keuntungan untukmu disetiap buahnya."
Juli memang baru mengenal Kevin hari itu, namun sedikit banyak ia tahu bagaimana Kevin.
Karena Kevin adalah ketua BEM jadi siapa yang tidak mengetahui sosoknya.
"fine, tapi syarat dan ketentuan aku yang akan putuskan. Jadwalnya harus aku yang menyesuaikan Kevin !"
Terpaksa Juli menerima tawaran Kevin akibat ulahnya sendiri.
"akan aku tunjukkan tempatnya."
Kevin menarik tangan Juli berjalan menyusuri trotoar.
Kurang lebih 100m untuk sampai di ruko pinggir jalan.
Ruko dua lantai dengan luas bangunan 36m persegi berjajar dengan ruko ruko lainnya.
Apotek sebelah kanan, mini market sebelah kiri dan jasa layanan umum lainnya.
"Kevin ini galeri kamu ?"
Juli dibuat kagum oleh Kevin yang memiliki usahanya sendiri.
"kecil kecilan Juls, rumahku jauh dari sini jadi terkadang tidur di ruko."
Kevin merendah sembari sibuk membuka garasi juga pintu kacanya.
Juli mulai masuk ke dalam, sudah terlihat beberapa lukisan yang masih terbungkus. Sepertinya pemilik tidak memiliki cukup waktu untuk memajangnya.
Lantai 1 khusus untuk galeri dan ruang tamu, lengkap dengan toilet umum.
"Naiklah !"
Kevin mengajak Juli naik keatas.
"Mau ngapain ?
Enggak ah, itukan kamar kamu."
Tolak Juli kemudian berkeliling melihat lukisan yang sudah dipajang.
__ADS_1
Kevin pasrah, ia masuk kedalam untuk merapikan tempat tidurnya. Mengganti satu set sprei dengan yang baru. Setelah itu ia mencuci piring kotor sisa sarapannya tadi pagi.
"tunggu, kenapa aku jadi sok rajin begini ?
Memangnya Juli akan menginap disini ?"
Tangan Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seolah ingin terlihat rapi dan bersih oleh Juli.
Ia kemudian turun memberi minum untuk gadis yang kini sibuk merapikan beberapa lukisan. Bahkan sudah mulai memasangkannya di beberapa spot.
"kamu jago melukis tapi ambil jurusan kedokteran. Apa paksaan orang tua ?"
Juli berhenti lalu menerima minuman kaleng dari Kevin.
"Jadi dokter is priority karena kebutuhan. Kalau melukis itu kepuasan tersendiri, turunan dari ayah."
Ditya memaksa Kevin untuk kuliah kedokteran, karena MHospital membutuhkan sosoknya. Karena Kevin juga pemegang Farma Kusuma. Bisnis keluarga akan seimbang jika mereka saling membantu.
"aku menikmatinya, agar bisa memberi kesembuhan bagi para pasien nantinya. Ibu dari Mas Dee meninggal karena penyakit yang dideritanya."
Kevin menunduk mengingat luka lama itu, sebuah pengorbanan nyawa agar Ditya bisa bersama mamanya.
"Mas, Kakak kamu maksudnya ?"
Laki laki itu hanya mengangguk membenarkan kalau ia memiliki seorang kakak.
"Kami satu ayah dari rahim yang berbeda, ibu Zoya mendonorkan jantung untuk ratu agar hidupnya berlanjut."
"oh my god, wajah di lukisan itu mama kamu ?"
Juli menutup mulutnya tak percaya, jadi Ratu yang dimaksud kevin adalah mamanya sendiri.
"Hadiah perkawinan mereka yang ke 21 tahun, harusnya tahun kemarin aku memberikannya. Tapi terbengkalai karena masa magangku di rumah sakit."
Padahal Kevin seharusnya baru menjalani koas disemester 4 sekarang ini, Juli tahu jadwalnya. Pasti itu terjadi karena urusan keluarga, pikirnya.
Juli jadi merasa menyesal sudah merusak lukisannya.
"masih ada waktu, asal kamu mau melakukannya dengan baik."
Juli tersenyum pada Kevin hingga membuatnya salah tingkah.
"Ayo kita mulai semuanya !"
Ajak Juli.
Mereka berdua mulai membuka penutup lukisan. Kevin yang naik ke kursi untuk memasang, dan Juli yang akan memberinya lukisan.
Sebuah kombinasi kompak yang terjadi.
Entah kenapa Kevin nyaman didekat Juli walau baru saja berkenalan.
"Aku antar kamu pulang Juls."
Setelah mengunci kembali galeri, Kevin ingin mengantar Juli pulang karena hari sudah gelap.
"loh ini mobil kamu Vin, aku pikir milik pelanggan."
Juli terkekeh ketika Kevin membuka pintu mobil CRV goldnya.
"kejutan."
Katanya tersenyum, tak lama mobil Kevin sudah meninggalkan jejeran ruko itu.
Kevin terkejut saat melihat bangunan yang dimaksud Juli. Kini mereka sudah sampai di tempat tinggal gadis bertubuh porporsional itu.
__ADS_1
"kejutan . ."
Juli mencoba tersenyum setulus mungkin.
"aku tinggal di kos puteri, jadi gak usah berpikir macam macam."
Kevin tidak ikut keluar, ia hanya duduk memperhatikan didalam mobil.
"baiklah, kabari aku jika kamu ada waktu untuk menjaga galeri."
Kevin memberi Juli kartu namanya.
"Yes sir."
Juli menerima kartu itu dan masuk kedalam gerbang.
Sementara Kevin tidak akan bertanya banyak pada Juli. Bagaimana hidupnya sehingga harus tinggal di kamar kost, yang semewah apapun dalamnya akan tetap kumuh bagi Kevin.
Kevin yang terbiasa hidup nyaman tidak bisa membayangkan hal apa saja dijalani Juli selama ini.
"halo mas, ada apa ?"
Sebelum meninggalkan kostan Juli, Kevin mengangkat telpon terlebih dulu.
"tolong jemput nenek, kita akan makan malam disini."
Pinta laki laki diujung telpon yang tak lain adalah Damar.
"On my way . ."
Langsung saja Kevin menancap gas mobilnya, menjemput nenek tercintanya. Nenek yang selalu mengurus Kevin sejak bayi.
Baru saja Juli selesai mandi, ponselnya berbunyi sejak tadi. Sudah ada 5 panggilan tak terjawab dalam kurun 1 menit.
"Whassap mam, Apa ada masalah lagi soal tambahan crew ?"
Juli yang sudah hafal gelagat penelpon mencium sesuatu berbau mendesak.
"oh gosh Juls, you've to come here. We need you, tamat kita gara gara kamu."
Bicaranya selalu saja bercampur bahasa inggri yang sangat pasih.
"On the way mam . ."
Dari pada mwmbuang waktu untuk bertanya, Juli lebih suka langsung pergi mendatanginya.
Wanita itu yang selalu memberinya pekerjaan, demi mendapat uang saku Juli rela bekerja.
Ia langsung menyanggul rambutnya agar rapi jika bekerja nanti.
"Ada keperluan apa non ?"
Tanya satpam baru, Juli tahu itu karena ia sudah hafal siapa saja karyawan yang bertugas menjaga keamanan hotel.
"Juliana, Daily Worker FB product."
petugas itu memeriksa logbook memastikan siapa saja yang dijadwalkan masuk pada jam tersebut.
"Bu Alin sudah menunggu, silakan."
dari tadi Juli juga sedang berusaha cepat, ia hanya menghela nafas berjalan masuk.
"Juls gawat . . .
si bos keinget aglio e olio kamu, dan ingin yang 99,99% persis."
__ADS_1
setelah siap dengan co.chef jacketnya Juli menghadap Alin untuk mendapat instruksi.
Juli hanya diam mengingat kembali apa saja yang harus dan boleh ia lakukan saat memasak jenis spageti itu.