
"cari doi baru lahh, biar ada yang care gitu." ujar Nathan, sambil masih terkekeh.
"bosen gue, cewenya suka ngajak jalan terus ngabisin rekening gue." timpal Erlangga, sambil terkekeh pelan. Jika bersama sahabatnya ini, ia dapat sedikit melupakan masalah keluarganya.
"ya juga, mending ama gue aja, gue gak suka ngabisin uang kok kita sehobi." ujarnya genit, lalu merangkul pundak Erlangga sambil megedipkan sebelah matanya. Siapapun yang melihat pasti mereka akan mengira Erlangga dan Nathan gak normal.
"nggak deh, masih lurus soalnya." Erlangga tetap saja menyahuti candaan Nathan yang kelewat batas itu.
"yaudah kalo gitu, gak jadi Bang Nathan mau cari cewek aja." ujarnya kemudian, berlalu meninggalkan Erlangga sendiri.
Erlangga menggeleng melihat itu, ia merasa beruntung karena memiliki sahabat sebaik dan seceria Nathan.
Erlangga terus berjalan menuju lapangan, dan memilih barisan sesuai jurusan nya. Banyak yang berdecak kagum ke arah Erlangga karena ketampanannya. Terutama kaum hawa.
Nathan sepertinya belum ikut berbaris, mengapa Erlangga tahu? karena ia dan Nathan memilih jurusan yang sama. Erlangga lebih memilih berbaris di urutan paling belakang, selain karena ia tinggi, juga karena di belakang sedikit rindang.
Setelah Erlangga ikut berbaris, tak lama suara toa telah menggelar. Nathan telah datang, ia celingak celinguk sepertinya mencari Erlangga. "Erlangga mana Ye..." gumamnya bertanya tanya.
Erlangga melihat keberadaan Nathan, kemudian ia melambaikan tangannya. "Nat..." desisnya sedikit pelan. Nathan melihat itu, kemudian langsung ngacir menghampiri Erlangga. "nemu ceweknya?" tanya Erlangga berbasa basi.
"buanyakkk, cuma pada liat saku." jawabnya antusias namun murung saat kalimat terakhir.
Erlangga tertawa pelan sambil menggeplak lengan Nathan. "cewe zaman sekarang mah emang gitu Nat. Bukan tampang doang yang harus cakep, isi kantong juga hhhaaa...." tutur Erlangga sambil terkekeh.
"ku menangis dengan ini semua huaa..." keluh Nathan sambil pura-pura menangis.
Erlangga terkekeh, kemudian terlihat panitia menghampiri barisan itu, dan menyiapkan barisannya.
MPLS telah dimulai, dan mengadakan permainan estafet, permainan ini dibagi menjadi beberapa regu.
Erlangga satu regu juga dengan Nathan, karena mereka cowok, mereka lebih lincah melempar kesana kemari, jadi mereka tak terkena hukuman, seperti halnya para kaum hawa. Kaum hawa banyak yang kena hukum, dan hukuman nya aneh aneh. Menurut Erlangga.
MPLS telah selesai pukul, 12:30 karena di SMA ini banyak panitia nya jadi masing masing jurusan di ambil alih oleh 8 panitia perjurusan. Dan 2 guru juga.
__ADS_1
Walaupun calon muridnya banyak hingga lebih dari 100 orang per-jurusan, namun itu tak membuat para panitia dan guru lelah, dan juga disini tak ada yang namanya pembullyan dari Kakak kelas/panitia semasa MPLS.
Erlangga menyusuri halaman parkir, Nathan masih di halaman sekolah itu, katanya ingin ngantin sebentar lapar. Erlangga menaiki motornya, lalu menancapkan kunci dan melesat meninggalkan calon sekolahnya.
Hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit, akhirnya Erlangga sampai di rumahnya. "Assalamualaikum." salam Erlangga lirih saat membuka pintu rumahnya.
Sepi. Yah sepi, saat Erlangga masuk ke rumahnya hawa yang ia rasakan hanya sebuah kesepian, bukan sambutan hangat dari seorang ibu, bukan.
"Wa'alaikumussalam, den Elang udah pulang? Makan siang dulu nggak den? Tadi Bibi udah masak ayam mentega kesukaan aden." tutur Bi Inah sambil menawarkan ini itu.
Erlangga tersenyum kecut, yang ia harapkan adalah Ibunya yang berlaku seperti itu, namun sayabg itu hanya angan. "iya Bi, ntar Erlangga ganti baju dulu." balas Erlangga kemudian melangkah meninggalkan bi Inah yang masih di depan pintu tengah.
"iyaa..." jawab bi Inah, kemudian berlalu menuju dapur.
Kamar Erlangga. Tanpa mengganti bajunya, Erlangga langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang kingsize miliknya. "Maa, kapan kek dulu..." gumam Erlangga lirih, kemudian memejamkan matanya.
*"Mam, Mamm, pengen eskrim..." rengek bocah kecil laki laki sambil menarik narik rok sang Ibunda.
"lolipop dong lolipop!" rengeknya lagi.
"nggak! Lihat gigi kamu, udah ompong gituu heumm..." larangnya lagi sambil bercanda menunjuk gigi putranya.
Ia merenggut kesal sambil membungkam mulutnya. "pengen eskrim Maaa, pisss..." rengeknya lagi memohon.
"gak boleh! Demam lagi nanti." larangnya lagi.
"ahhh... Mama gak seru." ujarnya sambil memalingkan muka. Detik berikutnya pandangan nya berubah berbinar. "Maaa Maaa, pengen permen kapas kalo gituuu hhee..." pintanya lagi.
"sama sayang, makanan terlalu manis itu jahat sama gigi." larangnya lagi lalu mencolek pipi gembul putranya.
Ia berdecak kemudian meraung keras, yang mana membuat sang Ibunda kelabakan, karena banyak yang menatap aneh kearahnya.
"syutt! Kita beli permen kapas yah." tawarnya, yang dibalas anggukan antusias darinya.
__ADS_1
"Bund, yang sabar yah, anak kecil emang gitu hhee, dia juga rewel nih." ujar seorang Ibu muda sambil menggandeng putrinya yang tersenyum manis sambil memakan ice cream yang meleleh.
"hhee iya, udah dilarang juga ngeyel!" balas Ibunya.
"yaudah yah saya duluan, mari Bund, keep sabar hhee." ujarnya kemudian berlalu.
"iya mari Bund." balasnya.
"siapa Mam?" tanyanya, kemudian Ibunya bergidik tak tahu.
"nihh, anak bandel!" ujarnya sambil memberikan permen kapas berwarna hijau.
"makacih, sayaaaaaaaaaag Mama muachh..." timpalnya sambil mencium sayang pipi Ibunya, dan dibalas tawa renyah sang Ibunda.*
"Innalillahi! Kok gitu lagi? Pasti efek kangen sama Mama, huft..." monolognya sambil menghembuskan nafas kasar.
Erlangga beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Selesai mencuci muka dan berwudhu, ia mengganti baju pak nya dengan setelan rumahan khas Erlangga.
Yaitu, kaos lengan pendek, dipadukan dengan kolor spongebob kesukaannya. Penggemar berat spongebob sih ini hhhee.
Ia melirik jam, baru pukul 13:45 ternyata ia baru tidur kurang lebih satu jam. Kemudian Erlangga menunaikan sholat dzuhur kesoreannya. Setelah melaksanakan kewajibannya ia turun untuk makan siang.
Sampai di lantai dasar, ternyata masih tak ada siapapun. Ia akhirnya pergi kedapur dan melihat Bi Inah, Mbak Nina dan Mang Asep yang sedang nyantai di halaman belakang.
Dari dapur ke halaman belakang rumah Erlangga memang tembus pandang, karena menggunakan dinding kaca. Menurut Papanya 'Biar segar saja, apalagi ketika sarapan. Bisa liat pemandangan segar dedaunan di halaman belakang'. Begitu katanya.
Memang benar Erlangga menyetujui itu semua, namun ketika melihat rumah besarnya, membuat Erlangga merasa sendiri.
Erlangga kemudian duduk di kursi meja makan, disana sudah tertata makanan rumahan. Mulai dari tumis kangkung, sayur sop, sambel goreng (kesukaan Erlangga), ayam mentega (kesukaan Erlangga juga), buah segar, dan lalapan yang entah apa namanya Erlangga tidak mengetahui itu.
Namun makanan seenak ini, rasanya kurang berarti jika tak ada yang makan selain dirinya.
#Bersambung
__ADS_1